Hidayatullah.com– ‘Israel’ menghadapi krisis reputasi terburuk dalam sejarah pendirian negara palsu itu, setelah bocoran video yang menunjukkan beberapa tentara ‘Israel’ menyiksa seorang tahanan Palestina di pusat penahanan Sde Teiman beredar di media internasional.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengakui bahwa kebocoran video tersebut berdampak buruk pada ‘Israel’ di mata masyarakat dunia.
“Kebocoran pada Agustus 2024 menyebabkan kerusakan besar pada nama baik ‘Israel’, IDF (Pasukan Pertahanan ‘Israel’) dan militernya,” katanya pada pertemuan kabinet pada hari Ahad.
“Ini mungkin serangan citra terburuk yang pernah kami alami, saya tidak dapat mengingat sesuatu yang lebih menghancurkan dari ini.”
Netanyahu menekankan bahwa penyelidikan independen dan transparan harus dilakukan untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap IDF dan pemerintah.
Insiden itu juga mengguncang institusi militer ‘Israel’ ketika Kepala Penasihat Militer, Mayor Jenderal Yifat Tomer-Yerushalmi, mengaku menyetujui kebocoran video itu sebelum mengumumkan pengunduran dirinya Jumat lalu.
Video tersebut menunjukkan seorang tahanan Palestina diserang oleh personel militer setelah dibawa ke kamp penahanan pada Juli 2024.
Korban dilaporkan menderita luka parah termasuk patah tulang rusuk dan robekan di rektum karena kekuatan fisik yang ekstrem.
Pusat Palestina untuk Pembelaan Tahanan menegaskan bahwa ‘Israel’ terus melakukan pelanggaran paling keji terhadap tahanan di bawah kondisi penahanan yang keras, tidak manusiawi, dan tidak memenuhi standar kehidupan dasar.
Ironisnya, perdebatan publik di ‘Israel’ bukan berfokus pada kejahatan seksual itu sendiri, melainkan pada siapa yang membocorkan rekaman tersebut.
Menurut lembaga HAM itu, hal ini menunjukkan betapa hilangnya rasa kemanusiaan dalam sistem pendudukan ‘Israel’ dan ketidakpeduliannya terhadap penderitaan para tahanan Palestina.
Dukungan Politik terhadap Penyiksaan
Pusat Palestina untuk Pembelaan Tahanan menegaskan bahwa praktik kekerasan dan pelecehan seksual terhadap tahanan telah menjadi kebijakan sistematis, terutama di bawah kepemimpinan Menteri Keamanan Nasional ‘Israel’, Itamar Ben-Gvir.
Ia disebut secara terbuka membanggakan kekerasan yang dilakukan terhadap para tahanan Palestina.
Laporan itu menyoroti standar ganda komunitas internasional, di mana partai-partai dan tokoh-tokoh Barat kerap mendesak agar Palestina menyerahkan jenazah tahanan ‘Israel’, tetapi memilih diam terhadap kejahatan yang dilakukan terhadap tahanan Palestina — termasuk perempuan, anak-anak, orang sakit, dan lansia.
Setelah penyelidikan awal, sepuluh tentara cadangan IDF ditangkap sementara lima di antaranya didakwa pada bulan Februari dengan tuduhan melecehkan tahanan Palestina.
Saat ini, jumlah tahanan Palestina di penjara-penjara ‘Israel’ dilaporkan telah melebihi 10.000 orang.*




