Hidayatullah.com – Gerakan perlawanan Palestina, Hamas dan Jihad Islam, mengembalikan jenazah sandera ‘Israel’ di Gaza utara pada Rabu, sesuai dengan perjanjian gencatan senjata. Jenazah tersebut merupakan satu dari dua jenazah sandera terakhir yang dikembalikan ke ‘Israel’.
Melansir TRT World pada Rabu (04/12/2025), ‘Israel’ mengonfirmasi tim Palang Merah telah menerima peti jenazah seorang sandera dan sedang dalam proses penyerahan ke pasukan penjajah yang berada di Gaza.
Penyerahan ini merupakan bagian dari perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang berlaku di Gaza pada 10 Oktober. Sejak itu kelompok muqawwamah Palestina telah mengembalikan 20 sandera hidup dan 26 jenazah sandera dengan imbalan 2.000 warga dan lebih dari 20 jenazah warga Palestina.
‘Israel’ bersikeras bahwa jenazah dua sandera masih berada di Gaza, mengklaim bahwa salah satu jenazah yang diserahkan oleh Hamas bukan milik salah satu tawanannya, dan jenazah lainnya bukanlah jenazah baru, melainkan milik seorang tawanan yang jenazahnya telah ditemukan sebelumnya.
Setelah penyerahan tersebut, faksi-faksi Palestina menyerukan tekanan kepada ‘Israel’ untuk memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata.
Tuntut ‘Israel’ penuhi janji
Kelompok perlawanan Palestina mendesak para mediator dan penjamin perjanjian gencatan senjata untuk menekan otoritas ‘Israel’ agar membuka perlintasan perbatasan Rafah dari kedua arah, sebagaimana tercantum dalam perjanjian dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.
Pada hari Rabu, badan militer ‘Israel’ yang mengawasi urusan kemanusiaan COGAT, mengklaim bahwa perlintasan perbatasan Rafah akan dibuka untuk keluarnya warga Palestina dalam beberapa hari mendatang, berkoordinasi dengan Mesir.
Namun, Mesir membantah klaim tersebut, dengan menyatakan bahwa pembukaan perbatasan harus dilakukan dari kedua arah sesuai dengan perjanjian gencatan senjata.
Sejak Oktober 2023, penjajah zionis telah menyebabkan lebih dari 70.000 orang syahid di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 171.000 lainnya dalam serangan brutal yang juga menghancurkan wilayah kantong tersebut.*




