Hidayatullah.com– Otoritas kesehatan publik dan keselamatan pangan Prancis, Anses, mengatakan bahwa rokok elektrik sering dipandang sebagai alternatif dari rokok tembakau, tetapi bukan berarti tidak ada risiko kesehatan dibaliknya.
Sekitar 6 persen orang di Prancis menghirup vape setiap hari, atau lebih dari tiga juta orang menurut data tahun 2024 dari Santé publique France, badan pemerintah Prancis yang bertanggung jawab memantau kesehatan masyarakat.
Sementara bahaya tembakau sudah banyak terdokumentasi, Anses mengatakan dampak kesehatan yang ditimbulkan rokok elektrik atau vape masih kurang diketahui umum, terutama dampak jangka menengah dan jangka panjangnya, lansir RFI (4/2/2026).
Hasil sejumlah kajian ilmiah menunjukkan kebiasaan menghisap vape berkaitan dengan dampak negatif kesehatan jangka menengah dan panjang, terutama gangguan kardiovaskular dan sistem pernapasan. Risiko itu disebabkan pengguna vape menghirup zat beracun secara berulang-ulang.
Zat beracun yang terdapat di dalam cairan vape antara lain aldehydes, yang digambarkan sebagai zat iritan pemicu kanker.
“Tidak adanya pembakaran bukan berarti tidak adanya paparan zat berbahaya,” Anses memperingatkan.
Sementara rokok tradisional dinikmati dengan cara dibakar, vape dinikmati dengan cara memanaskan cairan yang terdapat di dalam tabung sehingga menjadi uap berasap.
Anses mengatakan produk vape yang mengandung nikotin membawa risiko kardiovaskular, seperti peningkatan tekanan darah dan detak jantung. Disebutkan pula adanya kemungkinan efek pada sistem pernapasan, termasuk penyakit paru-paru kronis dan peradangan paru-paru.
Berkaitan dengan kanker, hasil beberapa penelitian menunjukkan adanya perubahan yang sesuai dengan tahap awal perkembangan kanker pada pengguna vape.
Kehamilan dapat terganggu akibat paparan vape, sehingga janin kemungkinan akan mengalami gangguan pada organ jantung dan pertumbuhan sel pernapasan.
Penggunaan tembakau di Prancis menyebabkan kematian dini yang dapat dihindari, membunuh sekitar 75.000 orang setiap tahun, termasuk 45.000 di antaranya pengidap kanker.*




