Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianOase Iman

Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?

Mahmud
Terakhir diupdate: 3 April 2026 09:22 9:22 am
Mahmud
Dipublikasikan 3 April 2026 09:19
Bagikan
Masjidil Aqsha
Bagikan

Hingga tanggal 3 April 2026, otoritas Israel dilaporkan masih terus menutup kompleks Masjidil Aqsha bagi jamaah Muslim untuk hari ke-35 secara berturut-turut. Penutupan ini sudah berlangsung sejak akhir Februari 2026, termasuk selama bulan Ramadan dan Idulfitri kemarin.

Hidayatullah.com | KHUTBAH Jum’at kali ini terkait keprihatinan sekaligus pengingat bagi umat Islam ‒yang masih menyala imannya di dada‒ agar lebih peduli lagi kepada masalah Palestina. Khususnya, terkait Masjid Al-Aqsha yang ternoda, hingga saat ini masih ditutup oleh otoritas Zionis Israel.

Khutbah Pertama         :

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بَارَكَ حَوْلَ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، وَجَعَلَهُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ مَلْجَأً وَمَقْصًى، وَمَسْرًى لِنَبِيِّهِ الَّذِي اصْطَفَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْعَلِيُّ الْأَعْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ مَنْ صَلَّى فِي الْقُدْسِ وَاسْتَعْلَى. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي التُّقَى، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَبِالْعَهْدِ وَفَى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى، وَبِهَا يَنَالُ الْعَبْدُ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى. كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ‏

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Baca Juga

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Di atas mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa bukanlah sekadar kata-kata yang menghiasi lisan, melainkan sebuah benteng kokoh yang menjaga diri kita dari kehinaan di dunia dan azab di akhirat.

Tanpa takwa, seorang mukmin akan terombang-ambing oleh fitnah, kehilangan arah saat menghadapi ujian, dan menjadi lemah di hadapan musuh-musuh Allah. Allah SWT meletakkan takwa sebagai fondasi utama kemenangan dan keselamatan, sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ‎

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran [3]: 102)

Jamaah Jum’at yang Dimuliakan Allah,

Hari ini, mata dunia tertuju pada sebuah titik suci yang penuh berkah, namun pemandangannya sungguh menyayat hati. Masjid Al-Aqsha, tanah para Nabi, tempat di mana Rasulullah SAW bertolak menuju Sidratul Muntaha, kini berada dalam genggaman penistaan. Pintu-pintunya ditutup oleh tangan-tangan zionis, lantainya dikotori oleh sepatu-sepatu serdadu yang tak mengenal kesucian, dan kaum muslimin di sana dihalangi untuk menyembah Rabb mereka.

Melihat kenyataan ini, seringkali kita bertanya: “Di mana pertolongan Allah?” Namun, sudahkah kita bertanya pada diri sendiri: “Di mana iman kita?” Judul khutbah kita hari ini adalah sebuah gugatan bagi nurani: “Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda: Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?”

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,

Sejarah adalah guru yang paling jujur. Apa yang terjadi hari ini di Palestina, pernah terjadi dengan tingkat kepedihan yang lebih dalam pada abad ke-5 Hijriah. Dalam kitabnya yang monumental, “Hakadza Zhahara Jīl Shalāhiddīn wa Hākadza ‘Ādat al-Quds” (Demikianlah Muncul Generasi Shalahuddin dan Demikianlah Al-Quds Kembali), Dr. Majid Irsan al-Kilani memaparkan potret buram umat Islam sebelum era Shalahuddin al-Ayyubi.

Pada tahun 492 Hijriah, tentara Salib masuk ke Baitul Maqdis dan melakukan pembantaian yang tak terperikan. Ibnu Al-Atsir dan Ibnu Katsir mencatat bahwa sekitar 70.000 kaum muslimin disembelih di dalam kawasan Al-Aqsha. Darah mengalir setinggi lutut kuda-kuda mereka. Para ulama, ahli zuhud, wanita, dan anak-anak tidak ada yang selamat. Namun, yang lebih menyakitkan dari pembantaian itu adalah sikap umat Islam saat itu.

Ketika para pengungsi dari Syam lari ke Baghdad membawa karung-karung berisi tulang belulang dan potongan rambut wanita muslimah yang diperkosa untuk meminta bantuan, apa reaksi pemimpin tertinggi umat Islam saat itu? Abu Syamah meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Khalifah saat itu justru sedang asyik dengan kegemarannya.

Ketika delegasi datang dengan tangis yang membuncah, Khalifah justru mengeluh tentang hal sepele. Ia berkata: “Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting! Merpatiku, si Balqa’, sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya.”

Subhanallah! Seekor burung merpati dianggap lebih berharga daripada nyawa puluhan ribu muslim dan kesucian Masjid Al-Aqsha. Inilah gambaran umat ketika iman telah padam. Ketika dunia telah menjadi tujuan utama dan akhirat hanya menjadi hiasan pidato.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Dr. Majid Irsan al-Kilani menegaskan bahwa kekalahan Al-Aqsha saat itu bukanlah karena musuh yang terlalu kuat, melainkan karena kerusakan internal umat. Umat Islam saat itu terpecah menjadi sekte-sekte yang saling mengkafirkan. Para sultan Bani Saljuq saling berperang memperebutkan tahta. Masyarakatnya sibuk dengan urusan pribadi dan masalah-masalah sepele.

Salah satu contoh nyata dari ironi ini adalah perselisihan antara tiga sultan Bani Saljuq keturunan Maliksyah, yaitu Muhammad, Sinjar, dan Barkiyaruq. Di saat pasukan Salib sedang membantai ribuan kaum muslimin di Quds dan menguasai wilayah pantai Syria, ketiga penguasa ini justru terjebak dalam perang saudara yang sengit demi memperebutkan tahta dan kedudukan. Bahkan, Sultan Muhammad tega memerintahkan pembunuhan terhadap ibu saudaranya sendiri, Sayyidah Zubaidah, di tengah kemelut tersebut.

Keadaan ini diperparah dengan pengkhianatan sekte Kebatinan dan penguasa Fathimiyyah yang justru bekerja sama dengan tentara Salib demi menghancurkan kekuasaan Sunni, serta berkali-kali mencoba membunuh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi di medan perang. Fenomena ini membuktikan bahwa musuh berhasil masuk bukan karena kekuatan mereka yang tak tertandingi, melainkan karena rumah tangga umat Islam yang sedang runtuh dari dalam.

Rasulullah SAW telah memperingatkan kondisi ini dalam sebuah hadits yang sangat relevan:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Hampir tiba masanya bangsa-bangsa memperebutkan kalian seperti orang-orang yang makan memperebutkan hidangan di atas nampan.” Seseorang bertanya: “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?” Rasulullah menjawab: “Bahkan jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan Allah akan menanamkan penyakit ‘Wahn’ di dalam hati kalian.” Seseorang bertanya: “Apa itu ‘Wahn’ ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Inilah “asap” yang mematikan nyala iman. Ketika Al-Aqsha ditutup hari ini, bukankah kita masih melihat banyak dari kita yang lebih merisaukan “merpati-merpati” duniawi kita? Kita bahkan banyak penguasa Islam lebih takut kehilangan harta, jabatan, atau kenyamanan pribadi daripada terusiknya kesucian agama kita.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Meski demikian, sejarah juga memberikan harapan. Al-Aqsha tidak selamanya terjajah. Ia kembali merdeka di tangan Shalahuddin al-Ayyubi. Namun, Shalahuddin tidak lahir dari ruang hampa. Beliau adalah produk dari sebuah gerakan besar yang dinamakan “Generasi Baru”.

Selama 50 tahun sebelum Al-Quds dibebaskan, para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani melakukan reformasi besar-besaran. Mereka tidak langsung mengangkat pedang, melainkan memperbaiki pendidikan, iman dan akhlak. Mereka membersihkan jiwa umat dari penyakit fanatisme mazhab, mencuci hati dari cinta dunia yang berlebihan, dan menyatukan shaf di bawah panji tauhid yang murni.

Mereka menyadari kebenaran firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Ketika iman kembali menyala di dada setiap individu, ketika shalat Subuh berjamaah sudah seramai shalat Jum’at, ketika ukhuwah mengalahkan ego kelompok, maka saat itulah Allah menghadirkan pemimpin seperti Shalahuddin.

Saat Shalahuddin memimpin, Al-Aqsha berubah total. Jika sebelumnya di bawah penjajah ia menjadi tempat pembantaian, di bawah Shalahuddin ia menjadi mercusuar keadilan. Beliau tidak membalas dendam dengan membantai musuh, melainkan menunjukkan kemuliaan akhlak Islam. Inilah perbedaan mencolok saat Al-Aqsha dikuasai oleh iman yang menyala dibandingkan saat ia dikuasai oleh kegelapan nafsu.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Kini, Masjid Al-Aqsha ternoda lagi. Zionis dengan angkuh menutup gerbang-gerbangnya. Ini adalah ujian bagi kita semua. Apakah kita akan menjadi seperti generasi “merpati” yang abai, atau kita akan mengambil jalan Shalahuddin untuk memperbaiki diri?

Ingatlah quote dari para Salafus Shalih, bahwa musuh tidak akan pernah bisa menguasai kita kecuali karena dosa-dosa kita sendiri. Umar bin Khattab RA pernah mengirim surat kepada panglimanya, Saad bin Abi Waqqash:

فَإِنِّي آمُرُكَ وَمَنْ مَعَكَ مِنَ الْأَجْنَادِ بِتَقْوَى اللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ؛ فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ أَفْضَلُ الْعُدَّةِ عَلَى الْعَدُوِّ، وَأَقْوَى الْمَكِيدَةِ فِي الْحَرْبِ، وَآمُرُكَ وَمَنْ مَعَكَ أَنْ تَكُونُوا أَشَدَّ احْتِرَاسًا مِنَ الْمَعَاصِي مِنْكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ، فَإِنَّ ذُنُوبَ الْجَيْشِ أَخْوَفُ عَلَيْهِمْ مِنْ عَدُوِّهِمْ، وَإِنَّمَا يُنْصَرُ الْمُسْلِمُونَ بِمَعْصِيَةِ عَدُوِّهِمْ لِلَّهِ، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمْ تَكُنْ لَنَا بِهِمْ قُوَّةٌ؛ لِأَنَّ عَدَدَنَا لَيْسَ كَعَدَدِهِمْ، وَلَا عُدَّتَنَا كَعُدَّتِهِمْ، فَإِذَا اسْتَوَيْنَا فِي الْمَعْصِيَةِ كَانَ لَهُمُ الْفَضْلُ عَلَيْنَا فِي الْقُوَّةِ، وَإِلَّا نُنْصَرْ عَلَيْهِمْ بِفَضْلِنَا لَمْ نَغْلِبْهُمْ بِقُوَّتِنَا

“Maka sesungguhnya aku memerintahkan engkau dan orang-orang yang bersamamu dari pasukan untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap keadaan; karena takwa kepada Allah adalah sebaik-baik perlengkapan menghadapi musuh, dan merupakan tipu daya yang paling kuat dalam peperangan. Aku juga memerintahkan engkau dan orang-orang yang bersamamu agar lebih berhati-hati terhadap maksiat daripada terhadap musuh kalian; sebab dosa-dosa pasukan lebih menakutkan bagi mereka daripada musuh mereka. Sesungguhnya kaum Muslimin ditolong karena kemaksiatan musuh mereka kepada Allah. Kalau bukan karena itu, niscaya kita tidak memiliki kekuatan menghadapi mereka; karena jumlah kita tidak seperti jumlah mereka, dan perlengkapan kita tidak seperti perlengkapan mereka. Maka apabila kita sama dalam kemaksiatan, mereka akan lebih unggul daripada kita dalam kekuatan. Jika kita tidak ditolong atas mereka dengan keutamaan kita, maka kita tidak akan mampu mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”  (Ibn ʿAbd Rabbih, al-ʿIqd al-Farīd, 117).

Jika iman kita masih menyala, maka penutupan Al-Aqsha akan membuat kita tersungkur di atas sajadah, memohon ampun atas dosa-dosa kita, lalu bangkit memperbaiki ukhuwah dan ketaatan. Namun jika iman kita redup, berita tentang Palestina hanyalah sekadar “berita lalu” yang kalah menarik dibandingkan tren dunia maya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua           :

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Sekali lagi, marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah. Takwa adalah satu-satunya jalan menuju kemuliaan. Di khutbah kedua ini, mari kita merenungkan apa langkah konkret kita di saat Masjid Al-Aqsha sedang dizalimi.

Jangan pernah meremehkan apa yang bisa kita lakukan. Generasi Shalahuddin tidak menang dalam semalam. Mereka membangun kemenangan dari unit terkecil: keluarga dan hati masing-masing. Lantas apa saja yang penting kita jadikan prioritas dalam kondisi seperti ini?

Pertama, Nyalakan Iman dalam Ibadah. Jangan bicara tentang membebaskan Palestina jika shalat lima waktu kita masih bolong-bolong, atau jika masjid di samping rumah kita masih sepi. Kemenangan dimulai dari sajadah.

Kedua, Hentikan Perpecahan. Sejarah membuktikan, musuh masuk melalui celah pertikaian antar sesama muslim. Berhentilah mencela saudara seiman karena perbedaan kecil. Ingatlah, musuh kita tidak membedakan mazhab apa yang Anda anut saat mereka menembakkan peluru.

Ketiga, Dukung dengan Harta dan Doa. Jangan biarkan saudara kita di sana berjuang sendirian. Jika kita tidak bisa hadir secara fisik, hadirkanlah dukungan terbaik kita melalui lembaga-lembaga kemanusiaan yang tepercaya.

Keempat, Tanamkan Visi pada Generasi. Ceritakan pada anak cucu kita tentang sejarah yang dikemukakan Dr. Majid Irsan al-Kilani ini. Bahwa kehancuran umat berawal dari cinta dunia, dan kejayaan umat berawal dari pendidikan iman yang benar.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Al-Aqsha adalah barometer iman. Ketika ia ternoda, itu adalah panggilan Allah bagi kita untuk pulang kembali kepada-Nya. Jangan sampai kita mati dalam keadaan “merpati-merpati” duniawi masih memenuhi hati kita, sementara Al-Aqsha masih merintih kesakitan.

Mari kita memohon kepada Allah SWT agar Al-Aqsha segera dibebaskan dan iman kita tetap menyala sebagai obor perjuangan hingga kita bertemu dengan Allah dalam keadaan husnul khatimah.

Doa     :

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْواتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ حَرِّرِ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى مِنَ الظَّالِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْوَهْنِ: حُبِّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةِ الْمَوْتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

(MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekhutbah Jumatoase iman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Di Tengah Boikot Produk Israel, IHW Minta Pemerintah Hadirkan Logo Nasional
Tulisan selanjutnya Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza

Berita
2 Juli 2026 21:00
Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan

Terbaru

  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji
  • Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba
  • UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
  • MUI dan BPJS Kesehatan Perkuat Sinergi Dakwah
  • Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT
  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Kajian

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

26 Mei 2026 09:00
Kajian

Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya

26 Mei 2026 08:30
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?