“Tidak putus-putusnja kita berharap dan menjerukan agar hendaknja Ummat Islam Indonesia, dalam kedudukan apa pun jang mereka tempati, menjadari benar-benar akan bahaja ini dan memenuhi tanggung djawabnja masing-masing sebagai Muslim. SOAL MASDJIDIL AQSHA ADALAH SOAL UMMAT ISLAM SELURUH DUNIA!” (Buya Natsir, 1969)
Hidayatullah.com | SAMPAI hari ini, dunia menyaksikan Masjidil Aqsha kembali dalam cengkeraman ketidakpastian; pintu-pintunya tertutup rapat selama berhari-hari, kesuciannya diinjak-injak oleh sepatu serdadu, namun reaksi dunia masih terasa hambar. Perhatian global seolah tersedot habis oleh hiruk-pikuk geopolitik di Selat Hormuz, di mana ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat menjadi tajuk utama yang mengubur jeritan dari Baitul Maqdis.
Menariknya, jika kita memutar kembali jarum jam ke tahun 1969, tepat saat kiblat pertama umat Islam itu dibakar oleh tangan Zionis, kita akan menemukan sebuah potret kontras yang luar biasa: sebuah bangsa bernama Indonesia bangkit dengan satu napas, satu suara, dan satu tindakan untuk merespon secara konkret penistaan yang dilakukan Zionis Israel terhadap Masjidil Aqsha.
Jauh sebelum api membakar fisik Masjidil Aqsha pada Agustus 1969, tokoh intelektual Muslim Indonesia, Mohammad Natsir, sudah mencium gelagat busuk Zionisme. Dalam pidatonya −yang dimuat dalam majalah Kiblat No. 4 (XVII/1969)− saat meresmikan Yayasan Badan Pembela Al-Masjid Al-Aqsha di Jakarta (Juni 1969), Natsir melontarkan sebuah konsep visioner: Masjidil Aqsha adalah “Tanah Air Rohani” bagi umat Islam sedunia.

Bagi Buya Natsir, Aqsha bukan sekadar bangunan di tanah Arab. Ia adalah bagian dari identitas setiap Muslim, sama seperti Mekkah dan Madinah. Natsir menegaskan bahwa masalah Palestina adalah soal perikemanusiaan yang universal. Beliau menceritakan kepiluannya melihat jutaan pengungsi di tenda-tenda darurat dan menyerukan gerakan nyata: Boikot total barang-barang Israel! Seruan ini menjadi bensin yang membakar semangat solidaritas rakyat sebelum tragedi pembakaran itu benar-benar terjadi.
Suara Istana: Ketegasan Presiden Soeharto
Saat api benar-benar melalap mimbar Shalahuddin Al-Ayyubi pada 21 Agustus 1969, Indonesia tidak hanya merespons dengan air mata. Presiden Soeharto segera mengambil panggung diplomasi tertinggi. Dalam pidato peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara, beliau mengutuk keras peristiwa tersebut sebagai “kejadian yang sangat tercela” (Dimuat dalam majalah Kiblat No. 11 (XVII/1969).
Mengutip Surah Al-Hajj ayat 32, Soeharto menegaskan bahwa memelihara kesucian tempat ibadah adalah tanda ketakwaan hati. Beliau memberikan mandat penuh kepada utusannya untuk membawa suara Indonesia ke kancah internasional dengan satu tuntutan mutlak: Kesucian dan fungsi Masjidil Aqsha sebagai tempat ibadah harus dikembalikan sepenuhnya. Sikap ini menunjukkan bahwa Orde Baru kala itu menempatkan isu Palestina sebagai bagian dari pilar utama politik luar negeri yang anti-penjajahan.
Selain itu, di bawah instruksi Menteri Agama KH. M. Dachlan, respon Indonesia masuk ke relung-relung jiwa rakyat. Beliau memerintahkan seluruh masjid di pelosok negeri untuk membaca Doa Qunut Nazilah pada setiap shalat lima waktu (Majalah Kiblat, No. 7, XVII/1969). Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memobilisasi “senjata langit” secara masif, memohon perlindungan bagi Masjidil Aqsha dan kemenangan bagi para mujahidin.

Lebih dari itu, dalam catatan berita majalah Kiblat No. 8 (XVII/1969), rakyat dan pemerintah tidak hanya menyumbang doa; tapi juga dana sebesar Rp1.000.000 (jumlah yang fantastis kala itu) dikumpulkan secara sukarela untuk pembangunan kembali masjid tersebut.

Dari Al-Azhar ke KTT Rabat: Diplomasi Tanpa Kompromi
Solidaritas ini memuncak pada Rapat Akbar di Masjid Agung Al-Azhar, Oktober 1969. Majalah Kiblat (No. 11, XVII/1969) memuatnya dengan judul “Resolusi Rapat Akbar Solidaritas Ummat Islam Mengutuk Kebiadaban Israel Membakan Masjid Al-Aqsha”. Di sana, tokoh lintas kutub seperti Dr. Moh. Hatta, Jenderal A.H. Nasution, dan Buya Hamka berdiri berdampingan. Mereka menuntut pemerintah mengizinkan pengiriman sukarelawan ke Palestina dan mendesak PBB menjatuhkan sanksi pada Israel .
Tak hanya itu, di panggung dunia, melalui utusan KH. Mohd. Ilyas, Indonesia menjadi motor penggerak dalam KTT Islam pertama di Rabat, Maroko. Indonesia dengan lantang menolak Masjidil Aqsha diperbaiki dengan uang atau tangan Yahudi. Diplomasi agresif ini menjadi cikal bakal lahirnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), membuktikan bahwa Indonesia adalah pemimpin alami dunia Islam dalam membela hak-hak Palestina.
Kini, sejarah seolah berulang namun dalam nada yang sumbang. Masjidil Aqsha kembali ditutup, kesuciannya kembali dinoda, namun dunia seolah memalingkan muka. Perhatian global hari ini terdistraksi oleh ancaman perang di Selat Hormuz antara Iran dan Amerika Serikat. Kepentingan harga minyak dan jalur perdagangan dunia rupanya lebih “seksi” bagi media internasional ketimbang nasib kiblat pertama umat Islam.
Indonesia tahun 1969 mengajarkan kepada kita bahwa solidaritas tidak boleh kalah oleh distraksi geopolitik. Meski kala itu Indonesia juga tengah berjuang menata ekonomi domestik yang porak-poranda, para pemimpin, tokoh dan ulamanya −Natsir, Hamka dan lain-lain dengan pemikiran rohaninya dan Presiden Soeharto dengan kebijakan negaranya− tetap menempatkan Al-Aqsha sebagai prioritas utama.
Kita merindukan kembali marwah bangsa yang pernah ditunjukkan dalam arsip-arsip Majalah Kiblat ini. Respon Indonesia saat itu adalah perpaduan sempurna antara ketegasan diplomatik dan ketulusan iman.
Sebagaimana pesan Mohammad Natsir, membantu Aqsha adalah obat bagi jiwa yang sakit. Jangan biarkan “Tanah Air Rohani” kita menangis sendirian di tengah dunia yang sedang sibuk berebut pengaruh di Selat Hormuz. Indonesia harus tetap menjadi garda terdepan, karena bagi kita, Palestina adalah amanah sejarah dan iman yang tak boleh dikhianati.
Saatnya umat Islam −khususnya Indonesia− bersatu untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap Palestina. Perbedaan-perbedaan yang kiranya tidak prinsipil untuk sementara waktu tidak perlu dibesar-besarkan. Fokus kita adalah Palestina. Sebagaimana nasihat dari Prof. Dr. Syekh Ali Muhyiddin Al-Quradaghi (Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional) dalam acara demonstrasi global daring bertajuk “Al-Aqsa Meminta Pertolongan”, yang diselenggarakan oleh Mua`ssasah Jīl al-Qur’ān (Yayasan Generasi Al-Qur’an) bersama Komite Yerusalem dan Palestina pada Ahad, 5 April pukul 14.00 waktu Istanbul.
Beliau menandaskan: “Hari ini isunya bukan soal Ikhwanul Muslimin, Salafiyah, Sufisme, atau isu Jamaah Tabligh, melainkan isu Islam. Bukankah Islam menyatukan kita? Mari kita sepakat pada kalimat ini dengan menghormati semua pemikiran di dalam lingkaran Islam.” Mari kita jaga spirit kepedulian ini, hingga Masjidil Aqsh, Baitul Maqdis dan Palestina merdeka seluruhnya dari penjajahan Zionis Israel. (MBS)




