Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Ghadir Khum Bukan Legitimasi Pengangkatan Ali Sebagai Khalifah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 November 2014 13:13 1:13 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 November 2014 17:05
Bagikan
Acara Khasanah di Trans7 mengulas "Distorsi Sejarah Idul Ghadir"
Bagikan

Hidayatullah.com–Salah satu garis pemisah antara Sunni dan Syiah adalah klaim Syiah tentang konsep teologi imamah. Selain itu adalah banyak mitos yang dijadikan pegangan utama.

Termasuk mitos pengakuan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai pewaris kepemimpinan yang sah setelah Nabi Muhammad wafat. Hal itu dikatakan peneliti sejarah dari Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Asep Sobari, LC, MA.

Dintara mitos yang sering digembar-gemborkan adalah kisah Karbala dan Ghadir Khum. Sebuah peristiwa yang disebut-sebut sebagai penindasan Sunni terhadap Syiah. Menurut Asep, dalam fitnah tersebut, Sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib syahid dalam peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 Muharram itu.

Menurut Kang Asep, demikian ia biasa dipanggil, kisah Karbala hari ini telah bercampur antara fakta dan mitos.

“Nyatanya justru akibat ulah Syiah, cucu kesayangan Nabi itu terbunuh dengan pengkhianatan mereka sendiri,” ungkap Asep yang juga tim penulis buku “Teologi dan Ajaran Syiah Menurut Referensi Induknya”, Ahad (02/11/2014) di Hotel Sofyan Betawi, Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Tak heran, inilah alasan mengapa kaum Syiah mati-matian mengangkat hadits “Ghadir Khum” sebagai legitimasi untuk pengangkatan Ali sebagai khalifah setelah Nabi wafat.

Bahkan dengan keyakinan itu, orang-orang Syiah lalu memperingati peristiwa itu dengan penamaan Hari Raya Idul Ghadir.

Di Indonesia sendiri, Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pernah memperingati hari tersebut di Jakarta tahun 2013 lalu.

Menurut Kang Asep, demikian sapaan akrabnya, peristiwa Ghadir Khum memiliki realitas fakta sejarah sekaligus mitos yang telah dipelintir oleh Syiah. Sebab mereka punya kepentingan di balik peristiwa itu.

“Fakta peristiwa Ghadir Khum itu benar adanya. Tapi bukan itu makna sebenarnya dari pidato Nabi tentang pujiannya kepada Ali bin Abi Thalib,” ujar Ketua Sirah Club Indonesia (SCI) ini.

Hal ini penting dipahami oleh umat Islam agar mereka tak mudah dikecoh oleh propaganda orang-orang Syiah dalam mentakwilkan hadits-hadits nabi sesuai dengan kepentingan mereka.

Asep menceritakan peristiwa Ghadir Khum terjadi pada sebuah lembah yang terletak antara kota Makkah dan Madinah di dekat wilayah Juhfah. Saat itu Nabi dalam perjalanan pulang dari Haji Wada’ tahun ke-10 H. Di sana Nabi lalu bersabda, “Sesiapa yang menjadikan aku sebagai maula-nya (orang yang dicintai), maka Ali juga sebagai maula-nya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Oleh Syiah, hadits ini lalu dimaknai sebagai pengesahan Nabi terhap kepemimpinan Ali setelahnya nanti. Sebab mereka mengartikan kata maula pada hadits di atas sebagai pemimpin. Sehingga mereka kemudian membenci para sahabat yang lain yang dinilai Syiah telah mencaplok hak Ali bin Abi Thalib.

Sementara Sunni (Ahlus Sunnah) justru memaknai hadits tersebut sebagai kecintaan Nabi terhadap Ali. Bukan sebagai pemimpin sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang Syiah.

Menurut Asep, kisah Ghadir Khum hanyalah satu diantara sekian banyak kebohongan publik Syiah lainnya.

Acara launching dan bedah buku yang diinisiasi oleh Institute for the Studi of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) ini juga menghadirkan pemateri lainnya, yaitu Hamid Fahmi Zarkasyi (Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat).*/Masykur Abu Jaulah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahlus sunnahidul ghadirImamahMIUMIsunnisyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tokoh Katolik Dan Ahmadiyah Hadiri Perayaan Asyuro Ijabi di Bandung
Tulisan selanjutnya Negeri ½ Syariah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris

Berita
30 Juni 2026 16:35
Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT
Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas

Terbaru

  • Polemik Kajian BEM Psikologi UI Soal LGBT Berlanjut, Kampus Beri Klarifikasi
  • Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter dalam Perpres Pertahanan Negara
  • Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
  • Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?