Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ideologi Silih Berganti, Mengapa Tak Pilih Islam?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Juni 2011 10:19 10:19 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Juni 2011 10:19
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mujiyanto

SEBUAH headline menarik datang dari Harian Kompas. Dalam sebuah beritanya, Selasa, (14/06/2011), Kompas menulis judul, “Negara Mengarah Kleptokrasi”. Kesimpulan berita menunjukkan, bahwa bangsa Indonesia mengarah menjadi negara kleptokrasi, yakni negara yang diperintah oleh para pencuri.

Korupsi tak hanya terjadi di lembaga yudikatif, peradilan, tetapi juga ada di legislatif dan eksekutif. Kondisi ini diketahui pemerintah maupun rakyat. Namun, pemerintah tak berhasil mengatasinya. Nilai-nilai kejujuran justru tak mendapatkan simpati, bahkan dimusuhi masyarakat.

Korupsi tak hanya dilakukan lembaga pemegang kekuasaan negara –baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif—yang sering kali melakukan persekongkolan untuk menyelewengkan uang rakyat. Tapi seolah sudah mendarah daging di semua lini.

Sebelum ini, dalam sebuah pertemuan, tokoh agama beserta Forum Rektor menghawatirkan kondisi bangsa Indonesia yang makin terpuruk dan memperihatinkan. Pemerintahan yang dinilai lari dari masalah bisa menjerumuskan bangsa ini ke kondisi negara gagal (Failed State).

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

‘’Kami tokoh agama beserta Forum Rektor memiliki satu pandangan dengan kondisi bangsa ini, bahwa Indonesia amat serius terpuruk,’’ ungkap Din Syamsuddin dari forum lintas agama dalam diskusi publik yang digelar bersama bersama Forum Rektor dan 28 guru besar di Universitas Negeri Jakarta, Jumat (4/02/2011).
Saat ini, masyarakat sudah jenuh pemandangan sehari-hari yang isinya hanya berita korupsi di elit. Hukum yang hanya memihak orang besar. Aparat sewenang-wenang dan berbagai pemandangan kurang simpatik lain. Intinya, semua orang ingin sebuah perubahan.

Perubahan silih berganti

Bagaimanapun, perubahan adalah suatu yang alamiah. Di mana pun masyarakat di dunia ini pasti menginginkan suatu yang lebih baik. Tak terkecuali Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sepanjang sejarahnya berulang kali telah mengubah sistem politik dan bentuk pemerintahannya.

Setelah berabad-abad (sejak dijajah Belanda dan Jepang) negeri ini telah mengalami perubahan. Ketika terjadi agresi militer Belanda, bentuk pemerintahan Indonesia berubah berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS), suatu negara federasi yang berdiri pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.

Namun RIS bubar 17 Agustus 1950. Namun sebelum RIS dinyatakan bubar, saat itu terjadi demo besar-besaran menuntut pembuatan suatu Negara Kesatuan. Maka melalui perjanjian antara tiga negara bagian –Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, dan Negara Sumatera Timur– dihasilkan perjanjian pembentukan Negara Kesatuan pada tanggal 17 Agustus 1950.

Sejak 17 Agustus 1950, Negara Indonesia diperintah dengan menggunakan UUD Sementara Republik Indonesia 1950 yang menganut sistem kabinet parlementer, inipun hanya berlangsung selama hampir 9 tahun sampai Soekarno mengeluarkan dekritnya. Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dekrit inilah yang mengakhiri masa parlementer dan kembali ke UUD 1945. Masa sesudah ini lazim disebut masa Demokrasi Terpimpin.

Perubahan besar berikutnya terjadi pada tahun 1965. Rezim Soekarno berganti era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Dan Demokrasi Terpimpin diganti dengan demokrasi Pancasila.

Di era inilah pertama kali masyarakat dikenalkan istilah demokrasi Pancasila. Sejak saat itu, Pancasila disebut sebagai ideologi negara—sebelumnya Soekarno hanya menyebut Pancasila sebagai philosofische grondslag, yaitu fundamen, filsafat (weltanschauung) bernegara, bahkan ia melarang parpol berasas Pancasila. Soeharto kemudian menafsirkan Pancasila dengan Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4).

Sayang, walaupun usahanya menamakan sistem ini memakan waktua selama 32 tahun, toh akhirnya gagal juga. Sebab hasilnya justru pemerintahan otoriter. Sistem demokrasi dan ekonomi kapitalis, justru memisahkan urusan negara dalam mengatur rakyatnya dengan aturan agama (syariat Islam).

Bahkan mantan Presiden BJ Habibie dalam peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2011 menyebut Indonesia mengalami penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”. Ini dibuktikan oleh dominasi asing di berbagai sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Alhasil, selama pergantuan rezim, pemerintahan Indonesia gagal meningkatkan taraf hidup rakyatnya.

Perubahan Hakiki

Pelajaran penting dari semua hal tersebut adalah: Pertama, perubahan yang terjadi sepanjang sejarah negeri ini terkait erat dengan masalah politik. Oleh karena itu bila kita ingin melakukan perubahan ke arah yang benar, maka harus dimulai dengan pandangan politik yang benar pula. Yaitu dengan sudut pandang politik khas, yang bersih, yakni yang bersumber dari aqidah Islam. Tanpa itu, hasilnya pasti lah liar.

Kedua, perubahan dan pergantian rezim saja tidak cukup. Sebab pangkal masalahnya bukanlah sosok Soekarno, Sutan Sjahrir, Soeharto atau rezim-rezim baru. Pangkal masalahnya adalah sistem apa yang dipakai dan diterapkan oleh rezim-rezim itu.

Fakta membuktikan, perubahan rezim tanpa disertai dengan perubahan sistem akhirnya hanya akan melahirkan “penumpang gelap” yang menjadi kaki tangan poros imperialis.

Maka pilihannya adalah mewujudkan gelombang perubahan hakiki. Di mana rakyat tidak hanya menuntut sekadar pergantian orang tapi juga sistem dan landasannya.
Untuk itu ada beberapa hal penting harus diwujudkan:

Pertama, sistem alternatif itu harus disiapkan. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam dengan syariahnya yang telah diturunkan oleh Allah SWT, Zat yang Mahatahu, MahaAdil lagi Maha Bijaksana. Sungguh aneh. Semua sistem ideologi telah dicoba di negeri ini, namun ketika wacana Islam disebut, seolah semuanya sini. Padahal, sungguh hanya sistem Islam yang belum pernah diberi kesempatan mengatur negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini.

Kedua, masayakat harus diberikan penjelasan secara jujur dan cerdas, bagaimana kebobrokan bangunan sistem ideologi sekuler-kapitalisme dengan sistem politik demokrasi yang telah menghancurkan negeri ini. Demikian agar masyarakat paham.

Ketiga, ketiga kalangan asing dan Barat menawarkan sistem dan ideologinya ke negeri ini, maka, dipastikan mereka akan berupaya dengan segala cara untuk mempertahankan sistem itu meski “bobrok”. Maka masyarakat dan umat harus melakuan cara-cara membongkar kebobrokan konsep mereka kepada umat. Sehingga umat tidak akan terpedaya konsep-konsep yang menipu.

Keempat, desain bangunan sistem Islam harus terus dikomunikasikan dan dipahamkan kepada umat. Baik ke berbagai tokoh, militer dan ahlul quwah. Upaya ini harus dilakukan secara masif dan simultan. Sehingga umat paham dan tidak tersesat oleh kampanya negatif selama ini tentang sistem Islam.

Revolusi Tunisia dan Mesir haruslah memberi pelajaran berharga bahwa jika umat telah menghendaki dan mendesak suatu perubahan maka tidak akan terbendung.
Karenanya, tak ada alasan untuk tak kembali kepada sistem Islam yang berasal Allah yang Mahaadil dan Bijaksana. Desain sistem Islam telah dirancang dan digambarkan begitu jelas. Saatnya kita untuk mewujudkannya sebagai wujud kepatuhan kita terhadap seruan Allah dan Rasulnya:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS al-Anfal [8]: 24).

Jadi, apa yang masih Anda ragukan dengan janji Islam? Dan sampai kapan kita akan terus berpegang pada idiologi salah yang telah terbuktik menghancurkan kita semua?

Penulis aktif di Pusat Kajian Islam dan Peradaban Jakarta

Foto: Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kebohongan menggelar konfrensi pers di Ma’arif Institute, Jakarta, Rabu. [republika]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Antara Syi’ah Tradisionalis dan Modernis
Tulisan selanjutnya Radikalisasi Muslim di Amerika Undang Kecaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Berita
30 Agustus 2026 17:04
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?