Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cover Story

Intel dengan Visa Turis

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Mei 2010 11:34 11:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Mei 2010 11:34
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Senin, 19 Januari 2010, Mahmud Al Mabhuh tiba di Dubai. Ia langsung menuju ke Hotel Al Bustan Rotana. Keesokan harinya, pria ini ditemukan terbaring tanpa nyawa di dalam kamar. Berdasarkan pemeriksaan, komandan militer Hamas itu meninggal sekitar lima jam setelah menjejakkan kakinya di Dubai.

Al Mabhuh disuntik Suxamethonium chloride dalam jumlah cukup banyak. Meskipun obat yang dijual dengan nama Anectine dan Scoline itu sulit dideteksi jika sudah memasuki masa postmortem, namun polisi berhasil mendeteksinya dari bercak cairan yang ada di kulit.

Setelah disuntik dengan cairan, yang juga digunakan Mossad untuk membunuh beberapa aktivis senior Palestina di Kuwait pada tahun 2001 itu, Al Mabhuh dicekik hingga menghembuskan nafas terakhir.

Dalam waktu 24 jam, polisi Dubai yang dipimpin Letjen Dhahi Khalfan Tamim berhasil mengidentifikasi 26 orang asing sebagai tersangka pelaku. Dua belas orang menggunakan paspor Inggris, enam paspor Irlandia, empat Prancis, tiga Australia dan satu Jerman. Selain itu, ada dua orang Palestina yang diduga ‘mengkhianati’ Al Mabhuh terlibat dalam kasus tersebut.

Ketiga negara Eropa tersebut langsung memanggil Dubes Israel, karena mereka menilai Mossad telah melakukan pemalsuan paspor. Tidak hanya itu, pihak Uni Eropa pun ikut berang atas pemalsuan itu. Respon mereka muncul setelah Dubai mempublikasikan foto 11 tersangka.

Baca Juga

(Video) Tante Dolly Telah Pergi
(Video) Menguji Toleransi di Bali
Usaha Mengkaji Ulang “Paradigma Baru” LDII
Dr. Ending: Penyerangan Satu Bukti Kesesatan Akidah LDII
Kenapa Mereka Marah?

Paspor Palsu Sudah Biasa

Pemalsuan paspor memang bukan hal yang asing bagi Mossad. Mereka memiliki rentetan sejarah hitam mengenai hal ini.

Victor Ostrovsky, mantan anggota Mossad yang telah menulis dua buku tentang Mossad dan beberapa buku lain seputar aksi intelijen, dalam wawancaranya dengan radio publik Australia, ABC, pada 26 Februari 2010 mengatakan, “Mereka tidak mungkin bepergian dengan paspor Israel… Jadi kebanyakan operasi (Mossad) dilakukan dengan cara ‘false flag’. Artinya, Anda berpura-pura menjadi orang yang berasal dari negara lain, yang tidak terlalu bermusuhan dengan negara yang ingin Anda masuki.”

Israel, kata Ostrovsky, memiliki khusus alat memproduksi dokumen-dokumen palsu dengan menggunakan beragam jenis kertas dan tinta.

Agen-agen Israel sudah biasa menggunakan paspor negara lain dalam menjalankan aksinya. Paspor Kanada bahkan disebut-sebut sebagai salah satu paspor favorit, karena negara itu tidak dikenal sebagai negara imperialis atau memiliki musuh dan motif politik yang agresif seperti negara Barat lainnya.

Hampir di semua operasi yang mereka lakukan di luar negeri, menggunakan paspor negara lain. Berikut ini beberapa operasi yang melibatkan paspor ”aspal”:

Agen-agen Mossad menggunakan paspor Kanada ketika menjalankan misi pembunuhan Khalid Misy’al tahun 1997 di Amman, Yordania. Mereka berhasil menyemprotkan racun ke telinga Misy’al, namun operasi gagal karena ketahuan penjaga.

Surat kabar The Australian, pernah mengutip perkataan Ali Kazak, mantan wakil Palestina untuk Australia. Ali memperingatkan bahwa pada 2004, agen Mossad di Sydney telah memperoleh 25 paspor Australia.

Pada Maret 2004, dua agen Mossad diduga ditahan di Selandia Baru dan kemudian dihukum karena menipu untuk mendapatkan paspor dari negara tersebut. Kejadian itu memicu sanksi diplomatik.

Operasi pembunuhan terhadap Fathi As Shikaki, pendiri Jihad Islam pada Oktober 1995 di Malta, Mossad juga ditengarai menggunakan paspor palsu.

Pada 1987, Inggris juga pernah memprotes Israel mengenai pemalsuan paspor Inggris dan mengingatkan agar peristiwa itu tidak terjadi lagi pada masa mendatang.

Kegagalan Mossad pada 1997 dalam usaha membunuh Khalid Misy’al, juga ditengarai menggunakan paspor Kanada. Hal itu diketahui setelah Menteri Penerangan Yordania mencoba menutup-nutupi kasus itu dengan mengatakan bahwa peristiwa percobaan pembunuhan itu merupakan “bentrokan kecil” antara Khalid dan beberapa turis Kanada.

Sebelumnya, pada 1973, Mossad juga “apes.” Selain enam agennya tertangkap pasca kegagalan operasi pembunuhan di Norwegia, Israel juga menerima kemarahan dari pemerintah Kanada, karena telah menggunakan paspor dari negara tersebut.

Senjata Makan Tuan

Kebiasaan Mossad yang seenaknya sendiri memalsu paspor negara lain mungkin bisa menguntungkan pihak mereka dalam beberapa operasi sebelumnya. Namun, dalam kasus pembunuhan Al Mabhuh, kebiasaan buruk itu bisa menimbulkan blunder bagi pihak Mossad sendiri.

Di samping berhadapan dengan beberapa negara Eropa yang telah “dipinjam” paspornya, mereka akan berhadapan dengan masalah internal Israel. Bagaimana tidak? Identitas yang digunakan dalam lima paspor aspal yang berhasil diungkap pihak kepolisian Dubai adalah identitas mereka yang bermukim di Israel sendiri. Mereka adalah beberapa Yahudi Inggris yang telah pindah ke tanah jajahan tersebut. Salah seorang di antara mereka adalah Adam Melvyn Mildiner, laki-laki yang tinggal di dekat Al Quds. Ia terkejut setelah identitasnya muncul di koran sebagai buronan. “Saya tidak tahu bagaimana ini terjadi? Siapa yang memilih nama saya? Kenapa? Tapi mudah-mudahan kita akan segera mengetahuinya. ” Kutip Koran Haaretz (26/2/2010).

Merespon kejadian ini, para jenderal dan komentator Israel berlomba-lomba mengutuk Mossad. Ben Kasbit, komentator koran Maarev menyebutkan bahwa pembunuhan Al Mabhuh sebagai salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah Mossad dan aparat intelijen Israel. Di samping karena menyabotase hubungan Israel denga Eropa, warganya sendiri tahu bahwa Mossad menggunakan identitas mereka.

Amir Oren, komentator militer di surat kabar Haaretz, menyalahkan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu karena mempertahankan kepemimpinan Meir Dagan atas Mossad. Ia menilai, dampak operasi pembunuhan itu bisa menimbulkan komplikasi politik.

Dan Israel harus “membayar” dengan harga yang tidak murah atas operasi pembunuhan yang dilakukan terhadap pejuang Palestina tersebut, yakni dengan diusirnya diplomat negeri penjajah itu dari Inggris pada akhir Maret lalu. [Thoriq/Dija/Sahid/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PWNU Jateng: NU Tidak Kenal Tradisi Pembekuan
Tulisan selanjutnya Datang untuk Jadi Pecundang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Suka Duka Perjuangan Da’I di Daerah Pelosok Kupang NTT

24 Mei 2013 09:38

Bertahan di Tengah Kesunyian demi Dakwah

21 Mei 2013 17:15

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (2)

16 Mei 2013 10:55

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (1)

13 Mei 2013 12:32
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?