Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Sampai Kedua Ustadz ‘Dilempari’ Uang Berjamaah…

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 17 Maret 2015 12:53 12:53 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 17 Maret 2015 12:53
Bagikan
Panitia dari Pro-U Media dan SA-SS mengumpulkan dana kepedulian untuk Palestina-Suriah
Bagikan

KOTAK persegi itu menempel pada sebuah dinding lebar. Ukurannya begitu besar. Di dalamnya memuat berbagai kepala orang berukuran raksasa. Meski demikian, makhluk gede itu bisa masuk ke sebuah kotak kecil segenggaman tangan.

Benda kecil itu hanyalah kamera handphone milik seorang wanita. Ia baru saja memotret suasana sebuah panggung di depannya. Bersama ribuan orang di sekitarnya, pengunjung Istana Olahraga (Istora) Senayan, Jakarta ini memenuhi area utama gedung.

Saat itu, 17 Jumadil Awal 1436 H, adalah hari terakhir gelaran Islamic Book Fair (IBF) ke-14. Di atas panggung utama IBF, sebuah layar lebar menampilkan agenda acaranya. “Talkshow Ukhuwah dan Soft Launching Buku Duet Salim A. Fillah & Felix Y. Siauw.” Tulisan itu dilengkapi foto kedua tokoh tersebut.

Salim dan Felix, siapa yang tak mengenalnya? Ahad sore, 8 Maret 2015 itu, kehadiran mereka menyedot perhatian para pengunjung istora. Acara ini dimulai sekitar pukul 16.00 WIB, usai shalat Ashar ditunaikan oleh kebanyakan pengunjung IBF.

Di atas dua kursi kayu coklat, kedua ustadz muda itu “kompak” bercelana panjang warna gelap. Kekompakannya diperjelas oleh kemeja masing-masing; Salim berbatik coklat tua khas Yogyakarta, sedangkan Felix berbatik coklat tua-muda khas Solo. Batik-batik itu memperkuat hastag #DukungDakwahDiNusantara yang mereka usung.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

“Hujan” Uang
Ada suasana tersendiri sepanjang IBF 2015 yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan pengamatan dan informasi yang dihimpun hidayatullah.com, IBF kali ini terkesan tidak seramai tahun lalu.

Pada hari Ahad pertama pameran buku Islam itu, lapor seorang reporter media ini, pengunjungnya tidak begitu ramai. “Ahad (01/03/2015), pengunjung IBF agak sepi. Padahal hari libur,” ujarnya agak terheran-heran.

Anggapan itu diperkuat oleh Hidayat, staf marketing sebuah penerbit berkelas peserta IBF. Menurut Hidayat, stannya yang terletak di depan panggung utama sepi pengunjung jika dibandingkan tahun lalu.

“Tahun ini parah sepinya. Jam segini (pada tahun) biasanya masih ramai, tapi sekarang ini sudah sepi,” ujarnya saat bincang-bincang dengan media ini, sekitar pukul 7.48 malam, Rabu (04/03/2015).

Perbincangan itu berlangsung di dekat stan Hidayat, tepatnya di area tribun utara Istora Senayan yang melompong. Beberapa hari setelah itu, anggapan sepinya pengunjung IBF “terbantahkan” oleh acara duet Salim-Felix.

Ahad itu, kedatangan ribuan pengunjung ke istora, selain karena hari terakhir pameran, bisa dipastikan juga karena acara duet tersebut. Daya tarik kedua dai tenar ini memang tak bisa dipungkiri. Saat mereka tampil, tribun utara dan selatan dijubeli pengunjung. Apalagi di depan panggung utama, pria-wanita meluber sampai menyesaki stan-stan “istimewa”, termasuk yang dijaga Hidayat.

Momentum itu dimanfaatkan benar oleh penyelenggara acara; Pro-U Media, bekerjasama dengan Sahabat Al-Aqsha (SS) dan Sahabat Suriah (SS) –dua lembaga satu manajemen yang konsen membantu umat Islam di Palestina dan Suriah.

Pada penghujung acara, Host Muhammad Fanni Rahman (CEO Pro-U Media) mengajak para pengunjung untuk berinfaq dan menyalurkannya melalui SA-SS. Panitia pun membentuk tim yang disebar di kedua tribun. Waktu penggalangannya, sebut Fanni dari atas panggung, “terbatas”. Ia lantas menghitung angka mundur. Seiring itu, tim pengumpul infaq bergerak membawa sarung kosong. Sodoran panitia berseragam itu disambut uluran tangan pengunjung.

“Keluarkan infaq terbaik Anda hari ini. Semua isi dompetnya, keluarkan!” seru Fanni bersemangat.

Seruan itu semakin menyulut semangat pengunjung untuk berinfaq. Sebagian lainnya bersemangat mengabadikan momen itu dengan kamera masing-masing. Sang host pun nyeletuk, “Jangan cuma foto-foto, keluarkan juga infaqnya!”

Sementara itu di sekitar panggung utama, para pengunjung menyerahkan langsung infaqnya ke panitia. Mereka diarahkan meletakkan uangnya di lantai panggung. Karena padatnya kerumunan orang, pengunjung yang agak jauh dari situ susah untuk maju. Fanni melontar solusi, “Uangnya silakan dilempar ke panggung!”

Sontak saja, situasi jadi semakin menarik. Tatkala para Muslimin dan Muslimah mengambil duit-duit mereka, menggulung atau menggumpalnya agar lebih padat, lalu melemparkannya beramai-ramai dan bergantian. “Hujan uang horizontal” itu mengarah ke panggung, ketika Salim dan Felix masih duduk di kursi masing-masing. Tak ayal, saat hidayatullah.com menyaksikan pemandangan ini dari atas tribun utara, kedua pembicara itu terlihat seperti dilempari uang kertas dan –sebagian– logam secara berjamaah.

Para pengunjung "melempari" Salim dan Felix dengan uang. Fanni (baju putih) memberi semangat. [Foto Syakur]
Para pengunjung “melempari” Salim dan Felix dengan uang. Fanni (baju putih) memberi semangat. [Foto Syakur]
Tak berlebihan, sebab tampaknya ada uang yang hampir mengenai Salim. Ustadz berpeci hitam dan bersarungkan sorban ini sempat terlihat melakukan gerakan tangan seperti menghindari sesuatu. “Eits, eits,” mungkin sambil berkata begitu. Salim yang tertawa “ditimpa insiden pelemparan” itu mengundang Felix di samping kirinya ikut tertawa. Fanni dan sejumlah orang di dekat situ jadi tertawa pula.

Para pengunjung masih tiada henti melempari panggung. Hingga selama 7 menitan, acara penggalangan dana pun selesai. Media ini segera bergerak mengikuti seorang kru penggalang dana ke atas panggung. Di sini, sejumlah panitia mulai mengumpulkan uang yang berserakan dan hasil “sarungan”. Mereka agak kewalahan bekerja, karena rupanya pelemparan belum berakhir.

“Kalau ada yang menemukan uang tercecer di lantai, silakan di lempar ke atas panggung,” Fanni mengingatkan. Di dekat jubah putihnya, berbagai jenis dan nilai uang, dari warna hijau sampai merah hati, terkumpul membentuk gundukan semi lingkaran, dengan diameter sekitar 1×1 meter.

Antara Nda dan Nda
Berapa pun uang yang terkumpul saat itu; jutaan atau puluhan juta rupiah, seakan menegaskan betapa tingginya kepedulian umat Islam terhadap Palestina-Suriah. Antusiasme itu rasa-rasanya tak lepas dari magnet kata-kata yang disampaikan oleh Salim dan Felix. Dalam tausiyahnya sebelum penggalangan dana itu, Salim memantik jiwa welas asih para hadirin di depannya.

“Adakah orang yang menyambut seruan ini; bersama kami, dakwah nusantara, kamilah penolong-penolong agama Allah. Dengan setiap kesempatan dan kejadian, tolonglah agama Allah. Ketika agama Allah direndahkan, ketika agama Allah dilecehkan, ketika agama Allah dinistakan, tolonglah agama Allah. Dan bukan cuma ketika agama Allah direndahkan, dinistakan oleh orang, tetapi bagaimana kita li ilahi kalimatillah,” serunya penuh penghayatan.

Di penghujung acara, Felix mengambil alat pengeras suara. Pria bercukur pendek ini mengingatkan para pengunjung agar melakukan kebaikan karena Allah. Bahwa ia dan Salim hanyalah manusia biasa, jangan sampai membuat mereka terlena apalagi sampai mengkultuskannya.

“(Kami) masih punya –naudzubillah– mungkin sifat takabur. Jadi, lebih baik setelah ini, karena saya bukan selebritis, dan Nda Salim juga bukan selebritis, jadi tidak perlu ada sesi foto-foto. Juga tidak perlu kemudian maju ke depan. Kasihan nanti kalau panggungnya rusak. (Buku) yang sudah di depan biar nanti insya Allah kami tanda tangani. Ada hajat yang lebih besar; sebentar lagi shalat Maghrib. Dan kami juga nggak pengen ditanya oleh Allah, kenapa teman-teman saya nanti telat shalat Maghrib? Gara-gara Felix Siauw sama Salim Fillah. Jangan sampai. Allahu Akbar!” pesannya disambut takbir para hadirin.

Mendengar itu, Salim yang tengah memberesi buku-buku untuk ditandatangani tampak tersenyum. Selain karena nasihat tersebut, mungkin, ia juga senang karena untuk kesekian kalinya dipanggil “Nda”. Ini panggilan khusus antara Salim dan Felix. “Nda” diambil dari kata “Kanda” dan “Dinda”. Potongan ujungnya yang sama, jelas Felix sebelumnya, dipilih karena keduanya tak ingin merasa lebih tua atau lebih muda. Maklum, Salim-Felix sama-sama kelahiran tahun 1984.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketum YARASUTRA: Ngapain Berjubah Kesultanan tapi Tak Cinta Rasul?!
Tulisan selanjutnya Tiga Bulan, 150 Penduduk Mentawai Bersyahadat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah

Berita
20 Juli 2026 12:51
AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Terbaru

  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?