Hidayatullah.com—Ada tiga pilar ekonomi Islam yang harus berjalan seiring untuk menjadikan perekonomian umat berkembang. Yaitu, sektor riil seperti usaha, bisnis, perdagangan, kedua sektor moneter, lembaga keuangan syariah, dan sektor ketiga yang mencakup zakat, infak, shadaqah, dan wakaf.
Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, mantan ketua umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dalam kegiatan Seminar Ekonomi Islam, mengusung tema “Bagaimana Menghadapi MEA dan Berbisnis dengan Cara Islam” yang diadakan di kantor World Assembly of Muslims Youth (WAMY) Indonesia, Senin (14/03/2016).
Menurut Dekan Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini, umat Islam harus menjadi umat yang kaya, dalam arti punya berbagi manfaat sebesar-besarnya untuk sesama.
“Jadi bukan mau kaya karena mengumpulkan harta untuk pribadi,” papar Prof Didin.
Menurutnya, para sahabat semisal Usman bin Affan itu, lanjut Didin, tidak terlihat kaya secara aksesoris.
“Tapi ia dikenal kaya karena rajin berinfak dan bersedekah untuk perjuangan Islam,” tegas Pembina Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab, Bogor ini.
Acara juga menghadirkan beberapa pembicara lainnya, Adam Ibrahim (International Hafidz Doll), Asdwin Nor (Vanaya Institute), Deny Desmon (Owner Gamis Takwa).
Di akhir acara Prof Didin mengingatkan peserta untuk mengembangkan jiwa wirausaha dengan membiasakan diri belajar berdagang ala Rasulullah.
“Syarat dagang itu bukan cuma modal saja tapi juga akhlak dan sikap. Pedagang Muslim itu harus jujur dan rajin ibadah,” terang Didin kembali.
Acara seminar yang dihadiri 150 orang peserta ini diinisiasi oleh KAMMI Komisariat LIPIA Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) al-Fatih.
“Alhamdulillah, semoga dengan seminar ini umat Islam siap menghadapi MEA sebagai masyarakat yang makmur, sejahtera dan bermartabat,” tutup Arif Nur Hidayat Ketua Umum KAMMI Komisariat LIPIA.*/Sukman, mahasiswa LIPIA Jakarta