Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Hijaz,  Palestina dan Persatuan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 November 2023 13:50 1:50 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 November 2023 13:48
Bagikan
Bendera Hamas - Bendera Saudi - Bendera Palestina
Bagikan

Aksi militer Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer HAMAS hari ini menjadi bukti tidak berdayanya militer Zionis, apalagi jika Negara-negara Islam bersatu melawan 

Oleh: Antoni Abdul Fattah

Hidayatullah.com | BELAKANGAN ini jagad maya sedang dihebohkan dengan gambar atau emoji dan gerakan Semangka yang menjadi simbol perlawanan dunia terhadap kekejaman Zionis ‘‘Israel’’.

Semangka dianggap simbol perlawanan rakyat Palestina kepada penjajahan zionis ‘‘Israel’’ di tanah mereka pada hari ini. Simbol  perlawanan ini muncul saat negara-negara Arab melawan Zionis ‘‘Israel’’ pada Perang Enam Hari pada tahun 1967. Saat itu penjajah melarang pengibaran bendera Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sehingga saat itu rakyat Palestina menggunakan buah semangka sebagai simbol perlawanan karena menyerupai warna bendera PLO yang kemudian digunakan sebagai Bendera Palestina tersebut.

Pada akhirnya larangan ini dihapus setelah penandatanganan perjanjian Oslo antara PLO dengan ‘‘Israel’’ pada tahun 1993. (BBC Indonesia, 03/11/2023).

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Menariknya bendera Palestina ini mirip dengan bendera yang dihadiahkan Raja Inggris George V kepada Syarif atau Amir Makkah, Husein bin Ali Al-Hasyimi, yang dinamakan sebagai Bendera Hijaz . Husein bin Ali dilantik menjadi Syarif Makkah pada tahun 1908 oleh Daulah Usmaniyah di Turki yang saat itu masih menjadi penjaga dua kota suci Makkah dan Madinah.  

Setelah runtuhnya Daulah Utsmaniyah di Turki pada tahun 1924, Husein bi Ali selanjutnya memproklamirkan diri sebagai Khalifah karena ia berasal dari Bani Hashim yang dianggap lebih layak menjadi penerus estafet kekhalifahan daripada Turki. Pada tahun 1916, atas dukungan Kerajaan Inggris kepada kemerdekaan bangsa Arab, ia memproklamirkan diri melakukan pemberontakan melawan Daulah Utsmaniyah. 

Kemudian, pada Februari 1918, Raja Inggris George ke-5 seperti disinggung di atas, menyerahkan bendera Hijaz tersebut kepada Husein bin Ali, yang saat itu dijadikan sebagai Raja Hijaz oleh Inggris.  

Tiga warna pada bendera Hijaz ini mewakili Khilafah Abbasiyah (hitam), Khilafah Umayyah (Putih) dan Khulafaurrasyidin (Hijau). Sedangkan segitiga berwarna merah mewakili Bani Hasyim atau Syarif Makkah.  

Menurut Tim Marshall dalam bukunya “A Flag Worth Dying For : The Power And Politics Of National Symbols,” bahwa putih adalah warna Daulah Umayyah untuk mengenang kemenangan militer pertama Nabi Muhammad ﷺ, hitam adalah warna Daulah Abbasiyah untuk menandai era baru dan untuk meratapi kematian Sayyidina Husein RA pada Pertempuran Karbala, dan hijau adalah warna jas dan jubahnya Nabi ﷺ dan pakaian sahabat Nabi ﷺ ketika mereka menaklukkan Makkah.

Sekaligus keempat warna pada bendera ini dijadikan sebagai simbol “penggunaan agama secara politik” dalam menentang pemerintahan Daulah Utsmaniyah di Turki yang semakin sekuler pada masa itu.

Bendera Hijaz ini dirancang oleh Kolonel Sir Tatton Benvenuto Mark Sykes. Menurut salah satu sumber, Kolonel Sykes membuat bendera ini sebagai bentuk perlawanan atas pengibaran bendera Prancis di wilayah Arab yang dikuasai Prancis.

Kemudian Sykes menawarkan beberapa desain kepada Hussein, yang memilih salah satu desain yang kemudian digunakan. Namun, bendera tersebut sangat mengingatkan pada bendera yang digunakan sebelumnya oleh nasionalis Arab, seperti yang digunakan oleh Al-Muntada al-Adabi pada tahun 1909, Al-ʽAhd (Iraq) pada tahun 1913, dan perkumpulan rahasia Al-Fatat pada tahun 1914.

Meskipun Revolusi Arab saat itu didukung oleh Inggris, namun, pengaruh bendera Hijaz ini menginspirasi banyak gerakan nasionalis Pan-Arab lainnya di Jazirah Arab, seperti  di Palestina, Yordania, Mesir, Iraq, Kuwait, Sudan, Yaman, Suriah, Libya dan Sahrawi Arab Democratic Republic, sebuah negara yang pengakuannya terbatas atas seluruh wilayah Sahara Barat, dimana dulunya adalah bekas jajahan Spanyol.

Dari penjelasan ini wajar bila kemudian bendera Hijaz ini dipakai oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Palestina sendiri adalah gambaran bagaimana umat Islam begitu lemah. Tanah Palestina bisa menjadi patron untuk melihat kondisi umat Islam hari ini.

Bila ingin melihat kondisi umat Islam hari ini maka lihatlah kondisi Palestina hari ini. Sejak masa Khulafaurrasyidin hingga runtuhnya Daulah Usmaniyah pada tahun 1924, Palestina berada dibawah kekuasaan dan perlindungan kaum muslimin. Namun sejak runtuhnya Daulah Utsmaniyah dan umat Islam terjebak dalam gerakan nasionalisme, sontak Palestina tidak dapat dilindungi lagi.

Sejak kekalahan Khilafah Utsmaniyah pada Perang Dunia I, wilayah-wilayah Utsmaniyah menjadi wilayah yang menjadi kekuasaan negara-negara pemenang perang dunia I.

Khilafah Utsmaniyah saat itu terpaksa menandatangani perjanjian Sevres di Prancis pada 10 Agustus 1920. Sebelumnya melalui Perjanjian Sykes-Pycot pada tahun 1916, Inggris dan Prancis membagi-bagi wilayah Khilafah Utsmaniyah.

Singkatnya Inggris mendapatkan wilayah Palestina dan Trans Jordania. Ditambah lagi, untuk melanjutkan hal ini Liga Bangsa-Bangsa (yang merupakan cikal bakal PBB) ditugaskan untuk menyusun “mandat” bagi dunia Arab. Setiap mandat dikuasai oleh Inggris atau Perancis “sampai saat mereka mampu berdiri sendiri.”

Sesuai yang telah disepakati dalam Perjanjian Sykes-Pycott maka Inggris juga menerima wilayah Palestina. Namun demikian, pada tahun 1917, Inggris sudah terlebih dahulu memberikan janji pada kelompok Zionis untuk mendukung berdirinya Negara Yahudi di Palestina.  ((Hanafi Wibowo, “Mandat Liga Bangsa-Bangsa : Kegagalan Palestina Menjadi Negara Merdeka (1920-1948)”,  Jurnal Al-Turāṡ Vol. XX, No. 2, Juli 2014).

Pada tanggal 24 April 1920, pihak sekutu sebagai pemenang Perang Dunia I mengadakan pertemuan di San Remo, Italia. Liga Bangsa-Bangsa memutuskan bahwa wilayah-wilayah pendudukan belum siap untuk diberi kemerdekaan, maka harus diurus oleh administrasi sipil yang disebut ‘Mandat’.

Sesuai dengan yang telah disepakati sebelumnya dalam Perjanjian Sykes-Pycot tahun 1916, Inggris mendapat mandat atas wilayah Palestina dan Transjordania.

Menurut Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia M Fariz al Mehdawi, Mandat adalah sebuah Supervisi. Ibaratnya, seperti anak yang kehilangan orang tuanya dan diasuh oleh orang lain sampai siap hidup mandiri. Negara pemegang Mandat, dalam hal ini Inggris bertanggung jawab pada Liga Bangsa-Bangsa untuk menyiapkan Palestina agar siap diberi kemerdekaan.

Menurut penulis, tanah Palestina merupakan tanah kharajiyah. Bila merujuk kepada sumber ilmu fiqh, tanah kharaj adalah hak yang dikenakan atas lahan tanah yang telah diambil alih oleh kaum muslimin, baik melalui perang atau melalui proses damai.

Seperti saat Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius memberikan kunci kota Baitul Maqdis (Yerusalem) kepada Khalifah Umar bin al-Khattab ra atau saat Sultan Shalahuddin al-Ayyubi memasuki Baitul Maqdis setelah pertempuran Hittin pada Mei 1291.

Sedangkan untuk klaim bahwa kaum Yahudi mempunyai hak untuk menjadikan Palestina sebagai tanah perjanjian mereka. Sehingga dengan statusnya ini dan kondisi hari ini, maka Palestina harus dilindungi dengan segenap kemampuan kaum muslimin seluruh dunia.

Ini adalah tugas dan tanggung jawab kaum muslimin di seluruh dunia, bukan hanya tanggung jawab rakyat Palestina saja. Atas dasar inilah sebenarnya kaum muslimin tidak boleh terjebak oleh “Two State Solution” (Solusi Dua Negara) yang tidak diinginkan bangsa Palestina sendiri.

Bantuan kemanusiaan yang dapat diberikan untuk Palestina tidak hanya bantuan makanan dan obat-obatan tetapi juga dapat bantuan militer yang dilakukan oleh negara-negara kaum musliminin sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan sehingga tragedi seperti Sabra Shatila, Nakba dan sebagainya tidak terjadi lagi. Karena bantuan militer juga bagian dari kemanusiaan.

Gerakan boikot juga dapat dilakukan oleh Negara sebagai pemiliki kekuasaan tertinggi.  Bila kita melihat sejarah, penulis menilai penjajahan atas Palestina dapat dihentikan bila pemimpin kaum muslimin seluruh dunia bersatu.

Aksi militer Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer HAMAS hari ini dapat menjadi bukti, bagaimana tidak berdayanya militer Zionis melawan Al-Qassam dan faksi-faksi militer Gaza.

Bayangkan bila hal ini dilakukan oleh penguasa negeri-negeri muslim bersatu dengan mengerahkan bantuan militer, apa yang akan terjadi kepada Zionis ‘‘Israel’’. Wallahu a’lam bisshawwab.*

Penulis adalah penulis buku dan peminat sejarah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al-Qassamarab saudiBrigade Izzuddin Al-QassamHAMASHeadlineHijazisraelnegara IslamZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Denmark Rancang Undang-Undang Melarang Pembakaran Al-Quran
Tulisan selanjutnya Pakar: Pencawapresan Gibran Cacat secara Hukum 

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?