Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Hakikat Puasa dan ‘Madrasah’ Fikiran

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Maret 2024 00:26 12:26 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Maret 2024 16:35
Bagikan
Madrasah Fikiran
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

Hidayatullah.com – Sering disebut-sebut, puasa Ramadhan merupakan “madrasah”. Sebenarnya lebih tepatnya “madrasah hati” dan “madrasah fikiran”. Sebab, hakikat puasa bukan hanya menahan anggota badan. Dari perkara yang membatalkan. Tetapi, sebenarnya juga menahan hati dan pikiran. Sebab, syahwat tidak hanya mengendalikan mulut, telinga dan alat kelamin. Namun, hati dan fikiran memiliki syahwat, yang jika tidak ditahan berubah menjadi hawa nafsu.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa yang sampai pada tingkat menahan hati dari keinginan-keinginan hina dan pemikiran duniawi merupakan puasanya para Nabi, shiddiqun dan muqarrabun. Mereka tidak berfikir dari perkara-perkara selain Allah Swt secara totalitas. (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, 109). Peringkat puasa paling tinggi. Puasa hakiki pada tingkat ini.

Fikiran jika tidak dikendalikan, akan menjadi fikiran yang liar. Pemikiran liar yang paling mendasar adalah memikiran sesuatu dengan melepaskan dari Allah Swt. Faham sekularisme merupakan keyakinan yang sangat nyata tentang pemikiran yang liar pada zaman modern. Sekularisme merupakan faham yang memisahkan antara kehidupan duniawi dengan agama, dan hal-hal yang terakait dengan agama. Termasuk konsep Tuhan.

Dalam konsep ilmiah Barat sekular, yang dimaksud realitas hanya pada dunia yang terindera saja. Realitas yang tidak terindera diyakini tidak ada. Berbeda dengan pandangan Islam, aspek dunia harus dikaitkan dengan aspek akhirat. Segala sesuatu didasarkan fokusnya pada aspek akhirat (Syed M Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, 1).

Baca Juga

Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa memikirkan sesuatu selain Allah Swt dalam hati dan fikiran termasuk tidak berpuasa. Boleh jadi berfikir dunia, namun dunia yang dipandang dalam agama sebagai bekal akhirat. Maka berfikir dengan cara demikian bukan termasuk duniawi (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, 110).

Fikiran yang meyakini bahwa perkara-perkara dunia tidak ada kaitan dengan agama. Ilmu pengetahuan tidak ada relasinya dengan keimanan kepada Allah Swt, dan lain-lain merupakan contoh fikiran yang liar di zaman modern.

Di zaman Nabi Muhammad Saw, reduksi konsep Allah SWT dilakukan kaum musyrik dengan cara menvisualisasi Allah Swt melalui bentuk patung. Nabi Saw meluruskan bahwa Allah Swt tidak boleh dan tidak bisa direduksi dengan digambarkan dengan bentuk berhala. Di zaman modern reduksi kekuasaan Allah Swt dengan berbagai bentuk. Misalnya, menyamakan Allah dengan Tuhan agama-agama lain yang sejatinya bukan Tuhan melalu paham kesatuan Transenden Unity of Religion. Mereduksi kuasa Allah dalam sains melalui hukum positivisme.

Misi Nabi Saw adalah mencegah pemikiran-pemikiran liar tentang Allah Swt. Meletakkan konsep Allah Swt sebagai konsep paling tinggi dalam keyakinan manusia. Oleh sebab itu, tarbiyah Nabi Muhammad Saw tentang konsep Tuhan melalui dua tahap.

Pertama, membersihkan hati dan fikiran dari i’tiqad yang mencampur (asyraka) antara kekuasaan Tuhan dengan kekuasaan benda-benda. Agar mereka menjadi Muslim, bukan Musyrik. Kedua, mencegah masuknya perkara dunia, selain Allah Swt, ke dalam hati dan fikiran. Sehingga isi hati dan fikiran hanya Allah Swt. Tidak melihat dan memikirkan sesuatu kecuali dihubungkan dengan Allah Swt. Agar mereka menjadi Muslim yang hakiki.

Dalam pandangan Islam, Allah Swt harus “hadir” dalam setiap perkara hidup manusia. “Hadirnya” Allah Swt bukan saja di saat shalat atau ibadah-ibadah lain. Namun, dalam setiap aktifitas. Termasuk aktifitas berfikir.

Oleh sebab itu, tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dapat disebut juga proses tazkiyatu al-fikr (pembersihan pemikiran) sekaligus pembersihan iman. Dengan demikian, langkah mengislamkan pemikiran yang pertama-tama perlu dilakukan adalah dengan mengikuti petunjuk riyadlah al-nafs (melatih jiwa melawan hawa nafsu) seperti yang dijelaskan oleh imam al-Ghazali dalam kita Ihya’ Ulumuddin. Keyakinan-keyakinan materialistik dalam hati harus dibersihkan. Sebab, hati dan pikiran itu mengontrol dan membentuk perilaku. Beradab atau bi-adabnya perilaku dipengaruhi oleh bersih dan kotornya jiwa.

Ramadlan adalah ‘madrasah’ untuk mengislamkan jiwa dan pikiran. Jiwa dan pikiran yang Islami, yaitu yang bersih, selalu patuh dan tunduk kepada Allah, beradab, bermoral dan terbebas dari kekuasaan nafsu untuk anti agama. Jiwa dan pikiran yang patuh kepada-Nya terisi nilai-nilai suci, tiada nilai lain kecuali nilai ketuhanan.

Ramadan sengaja menjadi tempat untuk mencetak jiwa-jiwa Islami, bukan jiwa yang sekular. Perbanyaklah ibadah, sering-seringlah mematikan hawa nafsu. Sekali-kali jangan beri kesempatan nafsu untuk menguasai jiwa selama bulan puasa. Jika seusai Ramadlan jiwa kita tetap sekular, maka kita gagal beribadah puasa Ramadlan. Maka, siapkanlah diri sejak sekarang. Puasa tetapi masih sekular, berarti hati dan fikirannya tidak berpuasa.

Jika hati dan fikiran berpuasa, maka itulah hakikat puasa yang sebenarnya. Totalitas mencegarh potensi-potensi negatif. Hati dipagari agar tidak memikirkan duniawi atau memikirkan sesuatu yang tercela. Hatinya secara total berisi Allah. Puasa ini merupakan tingkatan para wali muqarrabīn. Memikirkan perkara makruh saja, dianggap telah membatalkan puasa. Apalagi memikirkan perkara yang haram.

Memikirkan perkara duniawi dianggap batal kecuali perkara tersebut mendorong ke arah pemahaman agama, karena dunia yang demikian merupakan bekal akhirat dan tidak termasuk bagian duniawi. Puasa tingkat ketiga ini merupakan puasa total, seluruh bagian tubuh dan jiwa lahir dan batin ikut berpuasa.

Cara puasa demikianlah yang mendatangkan takwa. Banyak orang yang menjalankan puasa, tapi kata Nabi hanya memperoleh lapar dan dahaga saja. Sebabnya, karena dia hanya puasa tidak makan dan tidak minum saja. Sedangkan hati dan fikiran tetap liar, tidak dicegah dan dikendalikan.

Penulis adalah dosen pascasarjana UII Dalwa

Baca juga: Cara Mengingat Kematian Menurut Imam Al-Ghazali

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlinePilihan RedaksiPuasaRamadanRamadhanRamadhan 2024
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Berbohong ke Parlemen Tokoh Oposisi Singapura Jadi Terdakwa
Tulisan selanjutnya Standar Hidup Orang Jerman Turun Gegara Invasi Rusia ke Ukraina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Iptekes

Temuan BRIN, Bahaya Vape: 100% Berdampak Diabetes, 92% pada Paru-Paru

Iptekes
3 Oktober 2026 07:44
“Jihad Korporat”, Babak Baru Serangan Politikus India terhadap Muslim
Bertemu tim ‘Israel’, Pemain Catur Terbaik Australia Pilih Boikot
Amerika Jatuhkan Sanksi atas Jaringan Pendanaan Hamas
Pakar Filsafat Islam UNIDA Ungkap Penyebab Generasi Muda Terpapar Ateisme di Media Sosial

Terbaru

  • Bentuk Kantor Urusan Keagamaan, Menhan AS Kaitkan Perang Fisik dengan Pertempuran Spiritual
  • Menteri PertahananAS Kutip Alkitab dan Serukan Perang terhadap “Kaum Islamis”
  • Aljazair Berlakukan Hukuman Mati Bagi Arsonis Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan
  • Intelijen Maroko Dituding Mematai Jurnalis dan Aktivis HAM
  • Amerika Serikat Usir Dua Diplomat Iran Usai Sidang Majelis Umum PBB
  • Lima Orang Didakwa di Prancis Terkait Pendanaan Hamas
  • Amerika Serikat Umumkan Kontrak $24,4 Miliar untuk Mempercepat Produksi Rudal
  • Dua Pria Iran Didakwa Berencana Serang Yahudi Manchester
  • Pakar Filsafat Islam Ini Membedah 7 Cacat Nalar Kaum Ateis
  • Ateis dan Mitos Kecerdasan: Membedah Cacat Logika dalam Gagasan Ketiadaan Tuhan

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

7 Agustus 2026 17:00
Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?