Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Apa Motif Utama Trump di Balik Rencana Ambil Alih Gaza?

Ahmad
Terakhir diupdate: 6 Februari 2025 20:46 8:46 pm
Ahmad
Dipublikasikan 6 Februari 2025 17:09
Bagikan
Donald Trump
Bagikan

Donald Trump sejatinya sedang berupaya menghentikan perjuangan bangsa Palestina mencapai kemerdekaannya agar penjajah dan koalisi Barat bisa lebih leluasa membangun hegemoni

Oleh: Pizaro Gozali Idrus

Hidayatullah.com | PRESIDEN AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington.

Trump menegaskan bahwa AS berencana untuk mengambil alih Jalur Gaza, merelokasi warganya, dan membangun pusat internasional di kawasan itu. Bahkan jika diperlukan, Trump akan mengirim pasukan AS ke Gaza demi mewujudkan mimpinya.

Pertanyaannya adalah: Apa sebenarnya motif Trump di balik ide ini? Pernyataan yang Trump minimal bisa kita baca dalam beberapa hal.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Pertama, pesan ini tertuju kepada negara-negara Arab yang dinilai enggan mengambil alih urusan Palestina. Ucapan Trump adalah ancaman ke negara-negara Arab untuk mau menerima kesepakatan dengan Israel dan AS.

Harus diketahui, AS telah menghabiskan dana lebih dari USD22 miliar atau sekitar Rp356 triliun selama genosida Gaza untuk mendukung militer penjajah. Itu baru data perkiraan.

Dalam bukunya yang terkenal, The Art of the Deal (1987), Trump menjelaskan bahwa negosiasi biasanya dimulai dengan tuntutan yang sangat tinggi, yang memaksa pihak lawan untuk menghadapi batas-batas yang mereka anggap mungkin.

Setelah itu, ketika ada perlawanan, dia akan sedikit mundur dan menurunkan tuntutannya menuju kesepakatan yang lebih moderat, tetapi tetap menguntungkan bagi dirinya. Persis seperti rekam jejaknya sebagai pengusaha properti dan businessman.

Kira-kira Trump mau berkata seperti ini: Anda pilih mana, ikut terlibat mengambil alih para pengungsi Gaza atau saya ratakan Gaza sepenuhnya? Anda mau normalisasi dan isolasi Hamas atau kami buat chaos di Gaza yang mengancam keamanan di kawasan?

Gencatan senjata ini jadi kabar baik bagi rakyat Gaza dan Palestina. Namun, membangun kembali wilayah yang hancur butuh waktu puluhan tahun dan biaya besar.

PBB memperkirakan biaya mencapai US$50 miliar (Rp815 triliun) untuk membangun Gaza kembali, dan prosesnya bisa memakan waktu hingga 10 tahun, bahkan itu dalam skenario paling optimistis.

Lalu apa sebenarnya deal yang diinginkan Trump?

Trump sebenarnya tidak ingin benar-benar mengambil alih Gaza, tapi sedang berupaya mendorong tiga hal. Pertama, kontribusi nyata negara-negara Arab untuk merekonstruksi Gaza tanpa harus menghabiskan anggaran keuangan AS.

Kedua, mewujudkan normalisasi negara-negara Arab dengan penjajah Israel. Oleh karenanya, dalam konteks ini, ancaman Trump dan ucapan Netanyahu yang sesumbar akan mencapai normalisasi dengan Saudi sebenarnya adalah upaya rezim Washington dan Tel Aviv untuk bargaining dengan Riyadh.

Sepanjang 2020, AS berhasil membujuk empat negara Arab untuk normalisasi dengan penajajah yakni: Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko. Kebijakan ini berhenti di era Biden.

Ketiga, mengeyahkan kelompok perlawanan dari Jalur Gaza agar Israel terbebas dari serangan Taufan Al-Aqsha. Operasi tersebut tidak hanya menunjukkan bagaimana kelemahan tentara Israel, tapi juga telah memaksa AS untuk ikut turun tangan.

Bagi Trump, perang tidak sepenuhnya menguntungkan bagi AS.

Dari segala tujuan-tujuan Trump di atas, AS sejatinya sedang berupaya menghentikan perjuangan bangsa Palestina mencapai kemerdekaannya agar penjajah dan koalisi Barat-nya bisa lebih leluasa membangun hegemoni keamanan dan ekonominya di wilayah Timur Tengah.

Tujuannya lebih digerakkan kepada ekspansi bisnis di kawasan kaya minyak itu. Ini persis seperti ditulis Markus Bouillon dalam The Peace Business: Money and Power in the Palestine-Israel Conflict.

Alih-alih untuk mewujudkan perdamaian Palestina, Perjanjian Oslo pada 1993 yang ditengahi oleh AS lebih digerakkan motif bisnis. Bukanlah suatu kebetulan bahwa tingkat investasi asing Israel langsung mencapai puncaknya pada tahun 1995 sebesarUS$3,6 miliar dari hanya US$686 juta pada tahun 1991.

Kedua, pesan Trump jelas tertuju kepada Hamas. Berbicara Gaza tidak mungkin tanpa melibatkan Hamas.

Bahkan bagi warga Palestina, Operasi Taufan Al-Aqsha, adalah operasi warga Palestina itu sendiri melawan penjajahan. Mengosongkan Gaza adalah upaya untuk memperlemah, bahkan melumpuhkan Hamas.

Selama pejuang Hamas masih eksis di Gaza, segala cita-cita penjajah Israel dan sekutu baratnya akan sulit dijalankan.

Jadi Trump memang berambisi membangun perdamaian di Timur Tengah. Tapi perdamaian dalam kamusnya adalah langgengnya eksistensi penjajah atas bumi Palestina dan digdayanya Zionisme di tanah Arab.

Bukan perdamaian sejati untuk mengakhiri genosida struktural seperti terbebasnya Masjidil Aqsha dari penjajah, kembalinya tanah-tanah bangsa Palestina yang dicuri, berakhirnya pembantaian massal warga Palestina oleh penjajah.

Apakah Anda pernah dengar selama ini bahwa Trump setuju atas kemerdekaan Palestina, mencabut blokade Gaza, dan menghentikan aneksasi penjajah di Tepi Barat? Itu tidak ada dalam agenda Trump.*

Penulis adalah Fellow Asia Middle Center for Research Dialogue. Kandidat Doktor Hubungan Internasional pada Center for Policy Research Universiti Sains Malaysia

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratDonald TrumpgazaHeadlinepalestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ibu Negara Turki bertemu dengan Ibu Negara Suriah
Tulisan selanjutnya Trump Sanksi ICC karena Terbitkan Surat Perintah Penangkapan Netanyahu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Berita
31 Agustus 2026 19:36
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?