Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Ulama dan Pentingnya Mencerahkan Indonesia (yang) “Gelap”

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Februari 2025 07:42 7:42 am
Ahmad
Dipublikasikan 21 Februari 2025 07:05
Bagikan
Ilustrasi: Pinterest Sardar
Bagikan

Jika benar hari ini Indonesia (sedang) gelap maka seharusnya ulama (sesuai tupoksinya) menjadi pelita bagi rakyat untuk memberi pencerahan kepada mereka

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

Hidayatullah.com | SETELAH tagar #KaburSajaDulu, kini ada tagar baru yang sedang rame berseliweran di jagad maya tanah air. Yakni #IndonesiaGelap. Sebuah slogan yang hendak menunjukkan bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja.

Tagar #IndonesiaGelap sebenarnya punya korelasi kuat dengan tagar #kaburajadulu yang mengajak kaum muda untuk pergi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik sebab keadaan di Indonesia dinilai sedang tidak baik-baik saja atau Indonesia (sedang) Gelap, dalam bahasa sosial media warganet Indonesia.

Dua tagar ini oleh para pengamat dianggap sebagai bentuk kritikan dari kaum muda Indonesia terhadap kebijakan penyelenggara negara saat ini.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Dalam pandangan kaum muda yang mengumandangkan tagar tersebut, hidup di Indonesia kini dinilai semakin sulit. Mulai dari kian susahnya mencari pekerjaan akibat berbagai syarat yang memberatkan dan dinilai absurd seperti syarat tinggi badan, penampilan menarik, mampu kerja di bawah tekanan dsj.

Itupun masih ditambah dengan tidak adanya transparansi gaji dan tunjangan serta sistem kontrak pendek. Belum lagi kebijakan penguasa yang gemar menaikkan pajak bagi rakyat.

Tentu ini dianggap kian mempersulit kehidupan masyarakat. Lalu juga mengenai layanan pendidikan, kesehatan dan kebutuhan primer (sandang, pangan, dan papan) yang juga masih dikeluhkan karena tidak seluruhnya bisa dinikmati oleh masyarakat secara mudah.

Nah, berbagai kesemrawutan sosial dan ekonomi inilah yang akhirnya disimpulkan sebagai fase “Indonesia Gelap” sehingga beberapa kalangan menyerukan untuk hijrah ke luar negeri lewat ajakan #kaburajadulu.

Bahkan saat tulisan ini disusun, beberapa daerah terutama Jakarta dilanda demo besar-besaran yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa dan beberapa elemen rakyat yang menolak kebijakan pemangkasan anggaran  oleh pemerintah. 

Di Wamena, Papua,  para pelajar juga berdemonstrasi menolak program makan siang bergizi gratis dari Pemerintah pusat dan lebih memilih program pendidikan gratis.

“Indonesia Gelap” kian terejawantahkan dengan mencuatnya berbagai kasus ketidak-adilan sosial yang selama ini bagaikan fenomena gunung es yang perlahan mulai mencair ke permukaan. Ada kasus ketimpangan keadilan hukum seperti kasus Harvey Moeis cs.

Ada kasus semrawutnya distribusi tabung elpiji bersubsidi untuk masyarakat bawah, yang  mirisnya ketika ada masyarakat yang mati usai kelelahan saat antri di pangkalan elpiji, Menteri terkait hanya bilang maaf, seolah harga nyawa tak lebih dari harga tabung elpiji melon 3 kilogram. Dan tentu yang juga  makin membuat “Indonesia Gelap” adalah terkuaknya kasus pencaplokan laut oleh para cukong yang melibatkan pejabat kementerian terkait. Kasus pemagaran laut di beberapa wilayah Indonesia terutama di Banten tersebut membuat rakyat bertanya-tanya, bagaimana bisa laut dapat dikeluarkan sertifikat kepemilikannya.

Sumber Kegelapan Indonesia

Mengapa Indonesia semakin ‘gelap’? Tentu banyak faktor yang bisa dituliskan, apalagi jika hanya dilihat dari kacamata ilmu akademik duniawi semata. Namun dalam worldview Islam, kerusakan sebuah negara yang salah satunya bercirikan banyaknya kesewenang-wenangan penguasa kepada rakyat adalah berasal dari rusaknya para ulama di negara tersebut.

Setidaknya inilah penjelasan Imam Ghazali Rahimahullah di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin yang berbunyi,

 ما فسدت الرعية إلا بفساد الملوك وما فسدت الملوك إلا بفساد العلماء

“Tidaklah terjadi kerusakan terhadap rakyat kecuali dengan kerusakan penguasa, dan tidaklah rusak para penguasa kecuali dengan kerusakan para ulama.”

Kemudian masih di kitab Ihya’ Ulumiddin disebutkan juga,

 ‎ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال

“Maka kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Dan rusaknya para ulama itu karena kecintaan mereka pada harta dan kedudukan. Barangsiapa yang terperdaya akan kecintaan terhadap dunia maka tidak akan mampu mengawasi hal-hal kecil, bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar? Semoga Allah menolong kita dalam semua hal.”

Kecondongan ulama pada dunia adalah bencana besar bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi umat di negeri tersebut.

Karena jika ulama yang notabene merupakan pewaris para Nabi (HR. Tirmidzi dari Abu Darda’ Radhiallahu ‘Anhu) sudah cinta dunia dan kedudukan (Hubbud Dunya wal Jah) maka dia dianggap sudah mengkhianati Rasulullah ﷺ.

Sebab sebagaimana dikutip oleh Imam Ghazali Rahimahullah dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda,

العلماءُ أمناءُ الرسلِ على عباد الله ما لم يُخالِطُوا السلطان، ويَدْخُلُوا في الدنيا، فإذا خَالطوا ودخلوا في الدنيا فقد خَانُوا الرسلَ، فاعتزلوهم واحذروهم.

“Para ulama adalah pemegang amanah Rasul terhadap hamba-hamba Allah selagi mereka tidak bergaul dengan penguasa dan mereka tidak masuk ke dalam (urusan) dunia. Apabila mereka bergaul dengan penguasa dan masuk ke dalam (urusan) dunia, mereka akan mengkhianati para Rasul. Oleh karena itu, jauhilah mereka dan waspadalah terhadap mereka.”(HR. Ad Dailami). (Ihya’ Ulumuddin Juz 1 halaman 252, Cet. Darul Minhaj)

Seperti  diketahui bersama,  kasus sertifikasi HGB dan pemagaran laut di desa Kohod Tangerang, Banten, oleh Korporasi besar dengan bantuan oknum penguasa ditolak oleh hampir mayoritas masyarakat negeri ini, terutama para nelayan dan warga desa setempat.

Namun mirisnya ada oknum Ulama yang justru mendukung pencaplokan laut oleh pihak konglomerasi tersebut dengan dalih mereka telah menghidupkan tanah yang mati dan proyek nasional tersebut dianggap akan membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.

Pernyataan mantan petinggi ormas Islam tersebut tentu ditentang oleh mayoritas masyarakat Banten yang merasa tanah mereka selama ini telah dirampas. Bahkan Ulama karismatik dari Kasepuhan Banten sekaligus ketua AHWA (Ahlul hal wal Aqdi), KH. TB Fathul Adzim juga turut menolaknya.

Bersama Sultan Banten, Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja, MBA, keduanya menolak keras PSN PIK-2 tersebut dengan slogan ‘Banten bukan Singapore, tidak akan pernah menjadi Singapore’.

Masyarakat tentu bertanya-tanya bagaimana bisa oknum Ulama aspirasinya berseberangan dengan rakyat dan malah mendukung taipan? Tentu tidak mudah menjawabnya.

Namun jika diraba dengan berbagai penelusuran jejak digital yang ada, bisa jadi karena oknum tersebut punya hutang jasa kepada mereka. Sebab oknum tersebut pernah menduduki jabatan strategis (Komisaris Utama) di perusahaan salah satu konglomerat besar negeri ini dan beberapa jabatan tinggi di perusahaan besar swasta dan BUMN yang uniknya posisi strategis itu tidak selaras dengan latar pendidikan sang tokoh.

Jadi wajar belaka jika ada rasa ‘sungkan’ bila tidak bisa membela kepentingan mereka meskipun harus bertentangan dengan kehendak rakyat.

Padahal Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) 2025 telah menetapkan bahwa kepemilikan laut atas nama individu ataupun korporasi hukumnya haram.

Ini artinya tidak temua ulama bisa dibeli dan dipesan fatwanya. Buktinya NU, Muhammadiyah dan MUI kompak menyatakan fatwa yang sama. Yakni tegas menolak pemagaran laut untuk proyek nasional PIK 2 tersebut.

Ini semakin memperkuat pernyataan Imam Ghazali yang menyatakan bahwa ulama itu terdiri dari dua jenis yaitu ulama lurus) dan ulama su’ (ulama jahat). Ulama su’ inilah yang sering mencari dunia dengan menjual agama.

Dan ulama su’ inilah yang lebih ditakutkan oleh Rasulullah ﷺ atas umatnya melebihi dajjal.

Peran Ulama

Salah satu ciri khas ulama su’ adalah gemar berkumpul dengan penguasa namun bukan untuk beramar makruf nahi munkar terhadap mereka melainkan mencari kedudukan.

Maimun bin Mihran Rahimahullah berkata,

صحبة السلطان خطر عظيم ، فإنك إن أطعته خاطرت بدينك، وإن عصيته خاطرت بنفسك, فالسلامة أن لا تعرفه ولا يعرفك

“Bersahabat dengan penguasa adalah ke-bahaya-an yang besar. Jika kamu menaatinya, kamu mempertaruhkan agamamu, dan jika kamu tidak menaatinya, kamu mempertaruhkan keselamatan dirimu sendiri. Maka (yang dimaksud) keselamatan adalah (ketika) kamu tidak mengenalnya dan dia tidak mengenalmu.”

Bahkan diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Dinar Rahimahullah pernah berkirim surat kepada Imam Zuhri ketika ia dinilai oleh Malik bin Dinar mulai gemar nimbrung dengan penguasa.

Imam Malik berkata; “Semoga Allah melindungi kita wahai saudaraku daripada jatuhnya kamu ke dalam berbagai fitnah setelah dirimu yang seorang Alim besar dan sepuh (malah) menutup usiamu dengan membersamai penguasa. Dan engkau membuat dalil-dalil pembelaan kepada mereka ketika ada seseorang yang menolak (kedzaliman) mereka. Walaupun mungkin kedekatanmu terhadap mereka (penguasa) hanyalah untuk menentramkan hati mereka…, maka hal itu cukup bagimu termasuk daripada dosa.”

Kemudian Imam Malik bin Dinar mendiamkan (memboikot) Imam Zuhri hingga beliau meninggal dunia. (Tanbihul Mughtarin Lil Imam Sya’roni, hal 281, cet. Darul Kutub Islamiyah Jakarta).

Lihat bagaimana sindiran Imam Malik bin Dinar terhadap Ulama yang gemar membuat dalil-dalil pembelaan kepada penguasa ketika ada masyarakat yang melawan kedholiman mereka. Dan fenomena ulama “tukang stempel” penguasa itu nyatanya terus ada sampai saat ini. Padahal Imam Ghazali telah mewanti-wanti para Ulama agar berhati-hati terhadap kekuasaan. Beliau mengatakan,

فمخالطتهم مفتاح لشرور، وعلماء الآخرة طريقهم الاحتياط

“Maka bergaul (bercampur) dengan mereka (Penguasa) adalah kunci kepada keburukan-keburukan. Dan Thariqah (jalan) Ulama Akhirat adalah kehati-hatian terhadap agama mereka.”(Ihya’ Ulumuddin Juz I; Hal. 251; Cet. Darul Minhaj)

Ulama sejati adalah mereka yang berhati-hati terhadap dunia. Mereka tidak mau mendekat kepada penguasa kecuali jika untuk Amar Makruf Nahi Mungkar kepada mereka. Ulama bertugas “ngemong” umat dan menjaga hukum-hukum agama Allah. Mereka juga harus berada di garda terdepan dalam meluruskan kebengkokan penguasa bukan malah menjadi pembisik istana demi cuan bagi diri dan kelompoknya.

Ulama adalah pelita bagi manusia di zamannya. Disebutkan di dalam kitab Al Ibanatul Kubro Li Ibni Batoh,

حدثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن أبي سهل الحربي ، قال : ثنا أبو العباس أحمد بن محمد بن مسروق الطوسي ، قال : ثنا محمد بن الحسين ، قال : ثنا عبيد الله بن محمد ، قال : ثنا سلمة بن سعيد ، قال : كان يقال العلماء سرج الأزمنة فكل عالم مصباح زمانه فيه يستضيء أهل عصره

“Dikatakan bahwa Ulama adalah pelita zaman. Maka setiap ‘alim (ulama) adalah lampu (penerang) zamannya yang padanya para manusia di zaman tersebut mendapatkan pencerahan (dari kegelapan).” (Ibnu Batoh Ubaidillah bin Muhammad bin Batoh Al Akbari Al Hanbali; Al Ibanatul Kubro Li Ibni Batoh Juz 2 Hal 204) .

Jika benar hari ini Indonesia (sedang) gelap maka seharusnya ulama (sesuai tupoksinya) menjadi pelita bagi rakyat untuk memberi pencerahan kepada mereka.

Ulama harus  membersamai rakyat yang sedang kesusahan sembari memberi siraman petuah ilahi agar menguatkan kesabaran menghadapi keadaan Indonesia saat ini.

Dan di sisi yang lain ulama harus berani “menjewer” penguasa agar lekas merevisi kebijakan-kebijakan yang menyusahkan rakyat.

Jika ulama baik maka baik pula penguasa di sebuah negeri. Dan jika penguasa suatu negeri sudah baik dalam bimbingan Ulama maka rakyat di negeri tersebut akan menjadi masyarakat yang baik, tentram dan aman. Idealnya seperti itu. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Penulis seorang santri, tinggal di Bangil, Jawa Timur

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineIndonesia Gelappelita umatulamaulama su'
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pakar UGM: Keluarga Miskin Cenderung Konsumsi Nabati, Sulit Mengakses Daging  
Tulisan selanjutnya Khutbah Jumat:  Tiga Golongan Menyambut Bulan Ramadhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Berita
13 Juli 2026 18:00
Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya

Terbaru

  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?