Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Iman dan Toleransi Beragama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Desember 2013 11:03 11:03 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Desember 2013 11:03
Bagikan
Sejarah mencatat, bahwa Islam agama yang cukup toleran dan hormat kepada agama lain
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

SUATU hari jenazah orang Yahudi melintas di depan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan para Sahabat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam pun berhenti dan berdiri. Para Sahabat terkejut, kemudian bertanya: “Kenapa engkau berhenti Ya Rasulullah?, sedangkan itu adalah jenazah orang Yahudi”. Nabi pun menjawab :”Bukankah dia juga manusia?” (HR. Bukhari).

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tegas mengatakan, siapa saja orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengakui kenabiannya, adalah kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Tidak seorangpun di kalangan umat ini yang mendengar tentangku dari kalangan Yahudi maupun Nasrani kemudian ia meninggal dan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa kecuali ia tergolong penghuni neraka” (HR. Muslim).

Inilah toleransi, menghormati tanpa mengakui keimanan non-Muslim. Iman tidak perlu digerus untuk menjadi toleran. Iman Nabi SAW dan Sahabat sempurna, tapi juga mereka bisa toleran.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tiba-tiba berdiri, tentu saja para Sahabat kaget. Namun, para Sahabat akhirnya paham ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak mengikuti ritual pemakaman orang Yahudi tersebut. Beliau cuma berdiri, tidak sampai ikut menghantarkan ke liang lahat dengan berbagai ritualnya.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Jadi, toleransi Islam antar umat beragama itu hanya menyentuh ranah sosial. Coba perhatikan, beliau berkata alasannya menghormati; “Bukankah dia manusia”.

Sehingga, toleransi yang melampaui wilayah sosial ini tidak tepat. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak mengatakan; “Bukankah dia Yahudi”. Sebab toleransi bukan dengan membenarkan ke-yahudian-nya.

Membenarkan keyakinan agama lain bukanlah disebut toleransi, tapi pluralisasi. Sedangkan term pluralisme tidak ada dalam kamus Islam.
Setiap Muslim yang beriman, harus komitmen dengan keyakinannya. Para ulama mendefinisikan iman dengan tiga pilar; pembenaran dalam hati (al-tashdiq bi al-qalb), pernyataan dengan lidah (al-iqrar bi al-lisan) dan perbuatan anggota tubuh (al-‘amal bi al-arkan).

Orang yang telah percaya (tashdiq) dianggap benar kepercayaannya jika kepercayaan itu diikuti dengan qabul (penerimaan), muwalah (kesetiaan), dan idh’an (ketundukan). Karena itu, seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak setia dengan ajaran Nabi bahwa Yahudi dan Nasrani kafir, maka pengakuannya otomatis batal. Berarti ia tidak tunduk dan setia dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam .

Terkait dengan ini, Pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pernah berfatwa, barangsiapa mengakui ketuhanan Allah akan tetapi ia juga meyakini Dia memiliki anak dan sekutu, maka ia keluar dari agama, berdasarkan kesepakatan ulama’ (Hasyim Asyari,Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 13). Artinya, pengakuannya batal karena tidak setia kepada Allah.

Selain ‘toleransi’ yang melampaui batas, toleransi juga kadang dimaknai dengan kebebasan ala liberal. Kaum liberal, menjustifikasi ‘toleransi’ versinya dengan menyodorkan al-Qur’an surat al-Baqarah: 256 yang berbunyi: “Laa Ikraha fi al-Dien” (tidak ada paksaan dalam beragama). Atas dasar ayat ini, maka tidak ada hukum memvonis non-Islam. Bahwa, dalam versi liberal, Islam memberikan kebebasan yang mutlak untuk beragama, atau pun tidak beragama. Bebas untuk beragama Islam, atau beragama non-Islam.

Untuk memahami ayat, tidak semestinya kita memakai metode “mutilasi ayat” (memotong-motong ayat tanpa dikaitkan dengan ayat berikutnya). “Mutilasi ayat” sama saja akan ‘membunuh’ kesucian ayat itu.

Ayat di atas harus dibaca utuh. Bunyi ayat lengkapnya adalah;

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki ) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan maksud ayat tersebut. Bahwasannya seseorang dilarang untuk dipaksa masuk agama Islam. Sebab kebenaran Islam itu sangat jelas, terang dan bukti-buktinya gamblang. Menurut Ibn Katsir, sebagaimana cukup jelas dalam ayat di atas bahwa percaya kepada Islam merupakan kebenaran. Sedangkan ingkar terhadap Islam adalah kesesatan. Orang yang masuk Islam adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah, sedangkan orang non-Islam adalah orang-orang yang buta hatinya (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim).

Jadi, ayat di atas bukanlah justifikasi kebebasan tanpa batas. Sama sekali ayat itu bukan menjelaskan konsep kebebasan. Justru inti ayat di atas ada di kalimat akhir, yaitu, perbedaan orang yang mendapatkan petunjuk dan orang yang tertutup kesesatan (kafir).

Ketika Islam menegaskan kebenaran risalah Tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassallam ia tidak bermakna bahwa umat Islam harus memusuhi dan membunuhi umat agama lain.

Sejarah mencatat, bahwa Islam agama yang cukup toleran dan hormat kepada agama lain. Justru, liberalisme lahir di Barat pada masa orang Barat gagal mendamaikan agama. Karena tidak memiliki konsep toleransi, maka mereka kebingungan mendefinisikan toleransi.

Sedangka Islam, menguatkan konsep toleransi tersebut dengan mengikatnya dengan konsep al-Tauhid. Dengan kata lain, ketika umat Islam bertoleransi, hendaknya membuat dia lebih meyakini bahwa Allah SWT sajalah Tuhan Yang Maha Benar bukan Tuhan yang lain.[]

Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:toleransi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Badai Dingin Putuskan Listrik >500.000 Rumah di Amerika dan Kanada
Tulisan selanjutnya Al Ikhwan Al Muslimun Akan Boikot Pilpres Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?