Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Perlukah Membela “Tuhan Membusuk”?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 September 2014 11:37 11:37 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 September 2014 08:43
Bagikan
Spanduk "Tuhan Membusuk", salah satu tema kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) yang diadakan oleh Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya yang menjadi kontroversi
Bagikan

Oleh: Akhmad Rofii Damyati

KONTROVERSI tema Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, yang digelar pada 28 hingga 30 Agustus lalu, kian menimbulkan polemik yang berkepanjangan. Kecaman yang mengalir dari masyarakat, mau tidak mau, memunculkan pembela-pembela yang menafsirkan judul tersebut.

Paling tidak Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas (Dema F), Rahmat, turun tangan menjelaskan maksudnya. Katanya, ‘Tuhan Membusuk’ yang dimaksud dalam tema Ospek Maba 2014 yang digelar fakultasnya, bukan Tuhan Zat Yang Esa, melainkan Tuhan-Tuhan yang tumbuh dalam diri manusia tanpa sadar menimbulkan kemusrikan (Musrik Mutasyabihat). Demikian penjelasan Ketua Dema F sebagaimana dilansir www.merdeka.com per tgl. 1 September 2014.

Sementara, di tempat yang lain, Jawa Pos edisi Jumat (05/09) menurunkan opininya yang berjudul “Memaknai Tuhan Membusuk” oleh Masduri, salah seorang akademisi teologi dan filsafat Fak Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis artikel ini seakan bertindak sebagai juru bicara panitia, ia membeberkan tafsirannya dan menganggap panitia sudah dalam tindakan yang benar. sebaliknya, ia menyalahkan pihak-pihak yang mengkritik atau mengecam judul tersebut.

Sejauh penilaian penulis, judul OSCAAR itu memang problem dan sangat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman serius. Untuk menilai itu, sebenarnya, tidak diperlukan teori-teori yang rumit, cukup kita perhatikan, sebagai contoh “A telah membusuk”. Kalau subyeknya (“A”) diganti dengan, umpamanya: KH Hasyim Asy’ari, Gus Dur, Jokowi, Pancasila atau Indonesia, niscaya akan berimplikasi dan berkonsekuensi serius, dilihat berbagai sisi.

Baca Juga

Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

Ambil contoh sederhana. Andaikan kita melihat perilaku banyak orang di NU atau Muhammadiyah (ini sekedar contoh) yang korupsi atau melakukan kekerasan atas nama agama, apakah lantas bisa kita katakan NU membusuk atau Muhammadiyah telah mati?

Apapun dalihnya,  bahwa yang dimaksud spirit NU atau Muhammadiyah-nya yang membusuk atau mati, tetap saja kita akan menuai kecaman banyak orang.

Niat baik yang tidak disertai dengan ungkapan yang baik menjadi buruk. Begitu juga sebaliknya, niat jahat yang diungkapkan dengan kata-kata manis juga buruk. Sebaiknya, niat dan artikulasinya haruslah sesuai.

Kasus seperti ini menggambarkan kurangnya ilmu (lack of knowledge) dan hilangnya adab (lost of adab). Ilmu yang semestinya memberikan penjelasan atas kebenaran (tabyin) malah menjadikannya kabur (talbis). Kata Tuhan menjadi kabur maknanya, tidak jelas referensinya. Para pembelanya mengatakan yang membusuk itu nilai-nilai ketuhanannya, bukan Tuhannya. Atau mencipta Tuhan-Tuhan baru dalam diri manusia yang tanpa sadar menimbulkan kemusrikan, katanya.

Padahal jelas-jelas tertulis kata Tuhan tanpa tanda apa-apa. Seandainya diberi tanda petik (‘…’), orang bisa memaklumi, ada maksud tertentu di sana. Kalau memang tujuannya untuk mengkritik orang-orang yang membusukkan ajaran agama, sebagaimana diklaim para pembelanya, maka sudah semestinya mengartikulasikannya secara tepat, apakah dengan istilah ‘pembusukan Tuhan’, ‘pembusukan nilai-nilai ketuhanan’ dan lain sebagainya. Itu lebih bijak (sophy) dari pada serampangan memilih kata-kata tanpa ilmu dan adab.

Ketidakmampuan memilih kata-kata yang tepat dan akurat menimbulkan hilangnya adab yang ditandai munculnya kata-kata yang sarkasme, apalagi kepada Tuhan. Hilangnya adab seperti ini biasa dianut pada ajaran post-modernisme. Ajaran anti nilai, anti kemapaman, subyektivisme, relativisme merupakan nadi yang sulit lepas dari post-modernisme. Bagi penganutnya, nilai pada kata-kata, ungkapan, proposisi, itu tidak penting. Yang terpenting bagi mereka substansinya (substantialism). Padahal secara ontologis, akurasi kata-kata itu mewakili substansi.

Oleh karena itu, penganut paham posmo (singkatan dari post-modernisme) biasanya suka bersikap nihilis model Friedrich Nietzsche yang mengatakan ‘tuhan telah mati’ (Bahasa Jerman: Gott ist tot). Namun Nietzsche memang nihilis sejati, tidak setengah-setengah seperti penafsir judul tersebut. Tidak heran kalau pada tahun 1865-an ia menulis surat kepada saudara perempuannya Elisabeth, seorang yang religius, tentang keimanannya yang kosong. Ia menulis:

“Hence the ways of men part: if you wish to strive for peace of soul and pleasure, then believe; if you wish to be a devotee of truth, then inquire…” (Schaberg, William (1996), The Nietzsche Canon, University of Chicago Press, p. 32)

Jadi ungkapan ‘Tuhan telah mati’ yang ia gaungkan memang berangkat dari ke-ateis-annya. Jadi jika para pembela “Tuhan Membusuk” berdalih bermaksud mengkritisi busuknya nilai-nilai ketuhanan dari manusia, dengan merujuk kepada ungkapan Nietzsche, maka ini ada ketidaksempurnaan dalam memahami  konteks dunia Nietzsche. Jangankan ingin kritik membangun, justru mengundang kebingungan baru bagi semua kalangan.

Karena mementingkan subyektivismenya, kaum yang anti nilai seperti mereka memaksakan penafsirannya sendiri. Yang penting bagi mereka substansi yang ada dalam benaknya itu yang benar, biarpun uangkapannya keliru tidak pernah peduli walau seribu orang lain mengatakannya salah.

Terlihat terlalu memaksakan dalam membela, ketika kasus judul ‘Tuhan Membusuk’ ini, dianggap cuma dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu, dengan alasan itu konsumsi internal mahasiswa bukan untuk umum.

Padahal kalimat ‘Tuha Membusuk’ itu menjadi grand tema OSCAAR yang tersebar kemana-mana, termasuk kaos OSCAAR pun yang dibagi-bagikan kepada semua mahasiswa berterakan ‘Tuhan Membusuk’, seperti diberitakan hidayatullah.com . Diberitakan, salah satu orangtua siswa yang melihat kaos anaknya berterakan judul itu marah dan memintanya pindah kampus saja. Jika demikian adanya, judul itu memang disengaja disebarkan ke mana-mana.

Dikatakan, kebanyakan pengkritik terhadap judul itu hanya mengambil sepotong, ‘Tuhan Membusuk’.  Sementara sub temanya tidak disertakan. Penulis berpendapat, biarpun sub tema, ‘Rekonstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan’, tetap saja lemah dalam lemah untuk menutupi kata-kata sarkasme pada grand temanya.

Jadi, hemat penulis, karena memang judul OSCAAR UIN Sunan Ampel itu sangat problem, maka membelanya juga akan menimbulkan problem. Sehingga tidak perlu juga pihak-pihak tertentu yang secara berlebihan membelanya tanpa juga menjelaskan problem-problemnya.

Penulis adalah Ketua STIU Al-Mujtama’ Pamekasan dan Kandidat Doktor bidang Filsafat dan Ilmu-Ilmu Agama di Süleyman Demirel Üniversitesi, Turki
 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:IAINperguruan tinggi islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga Tagih Janji Ahok Keluarkan Aturan Larang Jual Miras
Tulisan selanjutnya Nasyid “Goncangkan Keamanan Israel” Pengaruhi Mental Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?