Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Dalil Relativisme dan Tato Bu Menteri (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Oktober 2014 14:21 2:21 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Oktober 2014 12:22
Bagikan
Foto 'perang kampanye' Fanspage 100JutaLIKEJokowi
Bagikan

oleh: AU Shalahuddin Z

PANAS nya suhu politik tak cukup reda setelah pertemuan Presiden Joko Widodo dengan rivalnya Prabowo Subianto, Jumat, 17 Oktober 2014, serta pasca pengumuman Menteri Kabinet Ahad (26/10/2014).

Masyarakat jejaring sosial kembali ‘bersitegang’ dan saling serang, khususnya pasca munculnya pemandangan kurang sedap, di mana salah satu menteri dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK, tepatnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Kerja Jokowi-JK 2014, Susi Pudjiastuti yang tiba-tiba menjadi buah bibir masyarakat setelah merokok di hadapan wartawan usai pelantikan di Istana Merdeka Jakarta. Ia makin menjadi cibiran setelah berbagai media massa mengungkap hal-hal pribadinya, misalnya hobi memasang tato dan pernah menikah dua kali. [baca: Fadhli Zon Sebut Dua Menteri Jokowi Perlu Direvolusi Mental]

Entah karena tak siap menghadapi “serangan” publik, para relawan pendukung Jokowi melalui akun “100 juta LIKE JoKoWi” tak kalah seru. Hari Selasa (28/10/2014) mereka mengeluarkan topik bertajuk “Kontras Dua Tokoh”. Foto dua orang tokoh wanita; Susi Pudjiastuti (sebelah kiri), dan Ratu Atut Chosiyah (kanan). Dalam foto Susi Pudjiastuti, relawan menuliskan kalimat; “Satu perokok, bertato, 2 kali kawin-cerai, bergajulan tidak berjilbab dan tidak lulus SMA”.

Sementara dalam foto Ratu Atut, yang nampak menggunakan jilbab, relawan menuliskan; “Satunya tak merokok, tak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab pendidikan tinggi dan korupsi.”

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Tak lama, para pembela dan pendukung Susi mulai bermunculan dan berkomentar.

“Negara butuh petarung sejati, bukan orang munafik,” ujar Yusuf Setyobudi. Sementara Reni Soekadi mengatakan, “Yg kiri tampil apa adanya dan natural, yg kanan muka topeng polesan duit korupsi!”

“Dari pada pilih penampilan yang tertutup sopan santun tapi koruptor pemakan uang rakyat.mendingan milih bu Susi…jangan menilai orng dari luar nya saja..tak menjamin penampilan yang cantik berhijab tap hati nya busuk koruptor kelas kakap,” tambah akun Nining Putrie Mss.

Gelombang pembelaan dari pendukung (yang menang Pemilu) datang dari berbagai tempat dan berbagai jabatan. Bahkan pada orang-orang dengan level terdidik, seolah berusaha keras mencari pembenaran.

“Jangan cepat menilai keburukan seseorang. Yang penting ia jujur dengan penampilan, kelakuan dan tentu saja pekerjaannya. Bukan perempuan munafik yang menutup ketidakjujurannya dengan kesantunan, pakaian yang tertutup, jilbab dan segala macam simbol-simbol agama,” bagitu kata seorang manager sebuah perusahaan bonafide.

“Meski dia bertatoo dan merokok, tapi dia seorang milyuner dan dikenal dermawan,” begitu kata yang lainnya.

“Bertato itu urusan dia, yang penting bukan penjahat, dan beliau orang yang sukses karena kerja kerasnya,” tutur Eddy Yusran, pengguna Facebook.

Menjadi Liberal Tanpa Sadar

Di jaman sekarang ini, banyak kita menyaksikan orang pintar –bahkan orang terdidik—masih ikut-ikutan suatu paham atau pemikiran seseorang tokoh tanpa membaca dan menelaah pemikirannya. Kebanyakan masayarakat ikut arus opini. Apa yang dilihat dan dirasakan nampak baik dan masuk akal, namun sesungguhnya sebuah kesesatan.

Jarang sekali masyarakat punya keinginan untuk mencermati secara hati-hati pendapat yang datang dari mana-mana dan mencermati letak kekeliruannya. Kadangkala banyak opini kebencian –seolah masuk akan—sengaja ditanamkan para pemikir, pendukung tokoh untuk memperkuat perilaku sesat kepada para pemujannya.

Salah satu contoh, sering kita baca jargon-jargon yang indah disebarkan untuk mengemas paham sesat. Di antara yang banyak digunakan adalah relativisme dalam kebenaran, sehingga tampak logis dan menarik, padahal sesungguhnya tidak.

Sering ada ungkapan “agama adalah mutlak, sedangkan pemikiran keagamaan adalah relatif”, “manusia adalah relatif, karena itu semua pemikiran produk akal manusia adalah relatif juga”, “tafsir adalah produk akal manusia, sehingga tidak bisa mutlak semutlak seperti wahyu itu sendiri”, “selama manusia masih berstatus manusia maka hasil pemikirannya tetap parsial, kontekstual, dan bisa saja keliru”.

Juga jargon-jargon menyesatkan lain, sebagaimana kalimat di tulisan pembuka, “Meski dia bertatoo dan merokok, tapi dia seorang milyuner dan dikenal dermawan.”

Sepintas, kata-kata itu terasa logis, dan tampak indah. Jika tidak berhati-hati dan kurang ilmu, maka bukan tidak mungkin seseorang akan terpengaruh.

Relativisme (paham relatif) biasanya masuk ke ranah pemikiran keagamaan. Paham ini memang sangat destruktif terhadap pemikiran Islam, dan juga pada keyakinan iman. Selain menyesatkan, paham seperti ini akan melahirkan orang peragu (tidak memiliki iman).

Dalam paham relativisme apa yang dikatakan benar atau salah; baik atau buruk tidak bersifat mutlak, tapi senantiasa berubah-ubah dan bersifat relatif tergantung pada individu, lingkungan maupun kondisi sosial. Pandangan ada sejak Protagoras, tokoh Sophis Yunani terkemuka abad 5 SM. Dan di jaman modern ini digunakan sebagai pendekatan ilmiah dalam kajian sosiologi dan antropologi.

“Ensiklopedi Britannica menyatakan bahwa relativisme adalah sebuah pendekatan ilmiah dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk sosiologi dan antropologi. Relativisme ini tidak dapat dipaksakan sebagai metode untuk mengkaji kitab suci dan teks-teks keislaman (baca: al-Qur’an, Hadits, kitab-kitab tafsir dsb). Sebab, dalam epistemologi Islam, agama bukanlah bagian dari budaya atau di bawah cabang ilmu-ilmu sosial,” [Henri Shalahuddin, dalam Bahaya Relativisme Terhadap Keimanan, Makalah 2007]

Pasca masuknya paham liberalisme dan relativisme ke Indonesia, kaum Muslim terus diguyur aneka rupa pemahaman menyesatkan. Debat saling bela dan saling kecam soal perilaku Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Kerja Jokowi-JK 2014, Susi Pudjiastuti semakin menunjukkan pada kita betrapa banyak orang telah ‘menjadi liberal tanpa sadar’, hatta dia tokoh Islam sekalipun, bahkan rajin mengaji di masjid.

Akibat memuja pluralisme tanpa sadar, umat Islam susah lagi memebadakan mana furu’ mana ushul, mana tauhid mana syirik, antara haq mana yang bathil, dan ujungnya tak mampu membedakan lagi mana antara iman dan kufur.

Karena itu, seorang cendekiawan Muslim yang dikenal produktif menulis buku, Dr Adian Husaini pernah menyindir, negara harusnya berperan akar tanya banyak warga menjadi ‘liberal tanpa sadar’ ini. Masalanya, negara dan pejabat tak lagi peka urusan agama atau aliran. Bahkan apakah rakyatnya menyembah Tuhan atau menyembah Tuyul seolah sudah tak pedulu.*/bersambung “Yang Baik belum tentu Benar di mata Allah..”

Penulis peminat masalah sosial

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Joko widodoJokowiliberal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Teknologi Mudah Diakses, Wirausaha Mikro Mampu Bersaing dengan Asing
Tulisan selanjutnya 11 Negara Menjadi Peserta Indonesia International Book Fair 2014

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?