Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Pentingnya Jihad Bil Qalam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Mei 2015 09:04 9:04 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Mei 2015 09:32
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ali Akbar bin Aqil

SALAH satu tugas dan tanggungjawab setiap muslim adalah berdakwah. Dakwah artinya mengajak, menyeru dan menunjukkan jalan kebenaran. Dakwah bukan tugas Kiai, Ustadz, Dai, Mubalig, dan penceramah saja. Dakwah adalah tugas bagi semua orang sesuai kemampuannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda; “Siapa yang menunjukkan jalan hidayah ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikuti seruan dakwahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)

Dakwah tidak sebatas pada kemampuan mengolah kata, lalu disampaikan secara lisan kepada khalayak. Beragam metode bisa kita tempuh untuk berdakwah. Dakwah lewat tulisan salah satunya. Dakwah lewat tulisan jauh lebih efektif dan mampu menjangkau sasaran secara luas, menyebar hingga pelosok dunia. Menulis akan membuat kita mampu mengemas apa yang sudah kita dengar dan ketahui dari kebaikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus bagi orang lain. Keengganan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, dan ceramah, akan membuat hikmah-hikmah yang kita sudah dapatkan, menguap begitu saja. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia yang memiliki sifat lupa ini.

Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau selalu berupaya menyerdaskan umat lewat baca-tulis. Dalam suatu peristiwa usai perang Badar, Nabi memberikan tawaran kebebasan kepada sebagian para tawanan dengan syarat mengajarkan baca-tulis kepada para sahabat dan anak-anaknya.  Baca-tulis sebagai syarat kebebasan merupakan keputusan langka bahkan termasuk pertama kali yang pernah ada.

Hasilnya? Para sahabat menjadi “gila” menulis. Mereka merasa bersalah jika tidak menulis wahyu atau hadis yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Bangsa Arab yang mengalami kemunduran di berbagai bidang kehidupan, pelan namun pasti, beranjak menjadi bangsa yang maju dan memiliki peradaban mulia.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Kalau tidak karena sikap Nabi yang tidak pernah memberi motivasi menulis dan membaca kepada para sahabat, tentu kita tidak akan pernah tahu seperti apa ayat dan surat dalam Al-Quran, karena tidak ada yang menuliskanya. Kalau bukan karena usaha Nabi untuk membuat sahabatnya gila menulis tentu kita akan buta tentang hadis-hadis yang berisi ajaran dan pola hidup Nabi Muhammd Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Dakwah dengan pena bagian dari jihad. Inilah yang disebut dengan Jihad bil qalam yang artinya berjuang dengan pena, berjuang mengusir dan membasmi kebodohan dengan tinta.

Seorang ulama pernah berujar, “Apakah seseorang mengira bahwa dengan sibuk mengumpulkan harta di siang hari dan melakukan hubungan intim di malam hari, ia akan menjadi golongan ahli fiqh? Tidak mungkin. Demi Allah tidak mungkin, hingga ia menjadikan buku dan tinta sebagai kawannya dan sikap wara`, selalu mencari ilmu di sepanjang hari, bersabar dalam suka dan duka, dan bersabar dalam menanti cucuran rahmat.”

Pernah dikisahkan, ada seorang ulama yang ketika dalam detik-detik kemangkatannya meminta sesuatu kepada muridnya. Permintaannya di luar dugaan si murid. Sang guru memintanya untuk mengambilkan pena untuk mencatat suatu ilmu. Padahal ia dalam kondisi sakaratul maut.

Suatu kali, guru saya Habib Shalih bin Ahmad Alaydrus pernah menyampaikan suatu pertanyaan, “Apa karomah para Imam Empat Mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Ahmad bin Hanbal)?” Kami, santri di Pesantren Daruttauhid Malang, diam seribu bahasa. Dalam alam pikiran kami, karomah adalah hal-hal luar biasa yang terjadi di luar nalar manusia. Seperti, bisa berjalan di atas air, berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dalam waktu singkat, atau merubah air menjadi sesuatu yang lain.

Setelah tahu tidak ada yang bisa menjawab, Habib Shalih yang merupakan Alumni Pesantren milik Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki-Makkah ini, mengatakan, “Karomah mereka adalah ilmu mereka yang bermanfaat. Mereka sudah wafat ratusan tahun silam namun sampai detik ini, jutaan umat Islam masih mengikuti ajaran dan mengamalkan ilmu yang mereka sampaikan. Inilah karomah terbesar,” kata-kata beliau masih terngiang kuat dalam pikiran saya sampai detik ini.

Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih. Semua imam tersebut memiliki karangan sehingga kita mudah melacak, mempelajari, dan mengamalkannya. Imam Abu Hanifah dengan karya Kitabul Fiqhul Akbar-nya, Imam Malik bin Anas dengan Kitab Muwattho`-nya, Imam Syafi`i dengan Kitab Ar-Risalah dan Al-Umm-nya, dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan Musnad-nya. Seandainya mereka tidak menulis dari mana kita akan bisa memelajari ilmu mereka? Semuanya meninggalkan warisan yang tak ternilai. Meski pun tubuh telah terbalut kafan dan terkubur dalam timbunan tanah beratus-ratus tahun lamanya, namun karya tulisnya terkenang sepanjang masa.

Jihad bil qalam harus menjadi kebiasaan dan tradisi kita. Dunia selalu tergoncang dengan pena sebagai karya yang abadi. Niatkan saat hendak menulis untuk ibadah dakwah agar tiap huruf yang tersusun bernilai pahala di sisi Allah Subhnahahu Wata’ala. Milikilah prinsip, “Menulis apa yang disampaikan dan menyampaikan apa yang ditulis.” Wallaahu A`lam Bis Showaab.*

Penulis adalah Wakil Ketua MIUMI, Malang

Oleh: Ali Akbar bin Aqil

SALAH satu tugas dan tanggungjawab setiap muslim adalah berdakwah. Dakwah artinya mengajak, menyeru dan menunjukkan jalan kebenaran. Dakwah bukan tugas Kiai, Ustadz, Dai, Mubalig, dan penceramah saja. Dakwah adalah tugas bagi semua orang sesuai kemampuannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda; “Siapa yang menunjukkan jalan hidayah ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikuti seruan dakwahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)

Dakwah tidak sebatas pada kemampuan mengolah kata, lalu disampaikan secara lisan kepada khalayak. Beragam metode bisa kita tempuh untuk berdakwah. Dakwah lewat tulisan salah satunya. Dakwah lewat tulisan jauh lebih efektif dan mampu menjangkau sasaran secara luas, menyebar hingga pelosok dunia. Menulis akan membuat kita mampu mengemas apa yang sudah kita dengar dan ketahui dari kebaikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus bagi orang lain. Keengganan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, dan ceramah, akan membuat hikmah-hikmah yang kita sudah dapatkan, menguap begitu saja. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia yang memiliki sifat lupa ini.

Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau selalu berupaya menyerdaskan umat lewat baca-tulis. Dalam suatu peristiwa usai perang Badar, Nabi memberikan tawaran kebebasan kepada sebagian para tawanan dengan syarat mengajarkan baca-tulis kepada para sahabat dan anak-anaknya.  Baca-tulis sebagai syarat kebebasan merupakan keputusan langka bahkan termasuk pertama kali yang pernah ada.

Hasilnya? Para sahabat menjadi “gila” menulis. Mereka merasa bersalah jika tidak menulis wahyu atau hadis yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Bangsa Arab yang mengalami kemunduran di berbagai bidang kehidupan, pelan namun pasti, beranjak menjadi bangsa yang maju dan memiliki peradaban mulia.

Kalau tidak karena sikap Nabi yang tidak pernah memberi motivasi menulis dan membaca kepada para sahabat, tentu kita tidak akan pernah tahu seperti apa ayat dan surat dalam Al-Quran, karena tidak ada yang menuliskanya. Kalau bukan karena usaha Nabi untuk membuat sahabatnya gila menulis tentu kita akan buta tentang hadis-hadis yang berisi ajaran dan pola hidup Nabi Muhammd Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Dakwah dengan pena bagian dari jihad. Inilah yang disebut dengan Jihad bil qalam yang artinya berjuang dengan pena, berjuang mengusir dan membasmi kebodohan dengan tinta.

Seorang ulama pernah berujar, “Apakah seseorang mengira bahwa dengan sibuk mengumpulkan harta di siang hari dan melakukan hubungan intim di malam hari, ia akan menjadi golongan ahli fiqh? Tidak mungkin. Demi Allah tidak mungkin, hingga ia menjadikan buku dan tinta sebagai kawannya dan sikap wara`, selalu mencari ilmu di sepanjang hari, bersabar dalam suka dan duka, dan bersabar dalam menanti cucuran rahmat.”

Pernah dikisahkan, ada seorang ulama yang ketika dalam detik-detik kemangkatannya meminta sesuatu kepada muridnya. Permintaannya di luar dugaan si murid. Sang guru memintanya untuk mengambilkan pena untuk mencatat suatu ilmu. Padahal ia dalam kondisi sakaratul maut.

Suatu kali, guru saya Habib Shalih bin Ahmad Alaydrus pernah menyampaikan suatu pertanyaan, “Apa karomah para Imam Empat Mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Ahmad bin Hanbal)?” Kami, santri di Pesantren Daruttauhid Malang, diam seribu bahasa. Dalam alam pikiran kami, karomah adalah hal-hal luar biasa yang terjadi di luar nalar manusia. Seperti, bisa berjalan di atas air, berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dalam waktu singkat, atau merubah air menjadi sesuatu yang lain.

Setelah tahu tidak ada yang bisa menjawab, Habib Shalih yang merupakan Alumni Pesantren milik Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki-Makkah ini, mengatakan, “Karomah mereka adalah ilmu mereka yang bermanfaat. Mereka sudah wafat ratusan tahun silam namun sampai detik ini, jutaan umat Islam masih mengikuti ajaran dan mengamalkan ilmu yang mereka sampaikan. Inilah karomah terbesar,” kata-kata beliau masih terngiang kuat dalam pikiran saya sampai detik ini.

Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih. Semua imam tersebut memiliki karangan sehingga kita mudah melacak, mempelajari, dan mengamalkannya. Imam Abu Hanifah dengan karya Kitabul Fiqhul Akbar-nya, Imam Malik bin Anas dengan Kitab Muwattho`-nya, Imam Syafi`i dengan Kitab Ar-Risalah dan Al-Umm-nya, dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan Musnad-nya. Seandainya mereka tidak menulis dari mana kita akan bisa memelajari ilmu mereka? Semuanya meninggalkan warisan yang tak ternilai. Meski pun tubuh telah terbalut kafan dan terkubur dalam timbunan tanah beratus-ratus tahun lamanya, namun karya tulisnya terkenang sepanjang masa.

Jihad bil qalam harus menjadi kebiasaan dan tradisi kita. Dunia selalu tergoncang dengan pena sebagai karya yang abadi. Niatkan saat hendak menulis untuk ibadah dakwah agar tiap huruf yang tersusun bernilai pahala di sisi Allah Subhnahahu Wata’ala. Milikilah prinsip, “Menulis apa yang disampaikan dan menyampaikan apa yang ditulis.” Wallaahu A`lam Bis Showaab.*

Penulis adalah Wakil Ketua MIUMI, Malang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bukudakwahjihadlisanmediamenuliswartawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Madrasah dan Sejarah Pendidikan Islam Indonesia [1]
Tulisan selanjutnya Madrasah dan Sejarah Pendidikan Islam Indonesia [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?