Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

JIN, Islam Nusantara dan Neo Liberalisasi [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Juni 2015 15:46 3:46 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Juni 2015 17:30
Bagikan
Doa sebelum ritual malam karnaval "1 Suro" (kalender Jawa) selama perayaan Tahun Baru Islam di Kraton Kasunanan pada tanggal 14 November 2012 di Kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia. Perayaan seperti kemudian dicampur klenik dan mistik. Termasuk pelepasan kerbau "Kiai Slamet"
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Abdullah al-Mustofa

Deklarasi Agama “Islam Nusantara”

SALAH satu “pengamalan” dan “syi’ar” dari agama “Islam Nusantara” yang paling fenomenal adalah pembacaan Al-Qur’an dengan langgam Jawa pada pada acara Peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara baru-baru ini dan dilanjutkan pada acara “Ngaji Qur’an Langgam Jawa & Pribumisasi Islam” yang digelar oleh Majlis Sholawat GUSDURian di Pendopo Hijau Yayasan LKiS di Sorowajan (Rabu, 27/05/2015).

Agama baru  kelompok “Jemaaat Islam Nusantara” atau JIN adalah hasil dari pemikiran dan gerakan liberalisasi agama dan sekularisasi di Indonesia. Maka pasti “Jemaat Islam Nusantara”  atau JIN diciptakan dan disebarluaskan  dengan tujuan untuk meliberalisasi ajaran Islam dan meliberalkan umat Islam Indonesia. (Baca Satu Agama Islam Harga Mati)

Baca Juga

Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

Seorang wakil dari “Muslim” liberal bernama Rony Subayus dalam artikelnya berjudul “Merayakan Pluralisme Islam” yang dimuat di website resmi Jaringan Islam Liberal membenarkan (pernyataan penulis di atas) dengan menulis:

 “Meminjam sudut pandang Hermeneutika Gadamerian, Islam adalah sebuah ”teks” yang terbuka untuk selalu direproduksi sesuai horison pembaca. Umat Islam Indonesia dengan warna-warni budayanya berada pada posisi sebagai pembaca ”teks Islam” sehingga memiliki otoritas penuh untuk menerjemahkan Islam secara berlainan dengan Islam masa awal atau corak Islam di kawasan dunia manapun. Umat Islam Indonesia berhak mereproduksi Islam dalam semangat keindonesiaan.”(http://islamlib.com/?site=1&aid=430&cat=content&title=kolom)

Menurut hemat penulis,  pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan langgam Jawa di kedua acara tersebut adalah deklarasi dari agama “Jemaat Islam Nusantara” atau JIN.

Selain deklarasi, aksi nyeleneh tersebut adalah starting point, awal dan pemanasan dari aksi-aksi yang lebih nyleneh dan berbahaya yang bisa saja akan dilakukan pada masa-masa mendatang.

 Sinkretisme Agama

Bola salju agama “Jemaat Islam Nusantara” alias JIN  bukan sekadar membuat umat Islam semakin liberal dalam beragama, tapi lebih dari itu. Agama baru “Jemaat Islam Nusantara” merupakan sinkretisme antara Islam dengan ajaran  “Islam” liberal, dengan kearifan lokal  dan (akan bisa pula) dengan agama-agama impor yang dianggap  lebih sesuai untuk Nusantara, dengan kata lain yang lebih sesuai dengan kearifan lokal.

Semakin liberalnya umat Islam Indonesia dalam beragama di masa-masa mendatang bisa berupa pemakaian kemben (kain batik yang dililitkan badan perempuan Jawa untuk penutup badan tapi kelihatan dada dan lengan) oleh  para Muslimah Jawa – dalam berbagai kesempatan, bahkan ketika menjalankan shalat -. Bisa berupa penerbitan dan pendistibusian Al-Qur’an berbahasa Jawa bahkan Sansekerta (bukan Al-Qur’an dengan terjemah dalam bahasa-bahasa tersebut).  Bisa berupa meluasnya penerimaan dan pelaksanaan oleh umat Islam akan shalat dengan menggunakan bahasa-bahasa lokal.

Sinkretisme agama Islam dengan “Islam” Liberal, kearifan lokal dan agama-agama tersebut di atas bisa menyentuh segi aqidah, syari’ah dan ibadah dalam Islam.  Sinkrestisme ajaran Islam dengan  “Islam” Liberal telah terjadi. Sehingga agama “Islam Nusantara” mengajarkan tawassuth (moderat), tasaamuh (toleran), tawaazun (berimbang/obyektif) dan i’tidal (adil)  – dalam perspektif “Islam” liberal.

Sinkretisme dengan kearifan lokal juga sudah terjadi berupa pembacaan Al-Qur’an dengan langgam Jawa. Sinkretisme dengan kearifan lokal yang lebih berbahaya dari pembacaan Al-Qur’an dengan langgam Jawa adalah berupa pemakaian kemben oleh para Muslimah Jawa, Al-Qur’an dan shalat dengan bahasa-bahasa lokal yang bisa saja terjadi di kemudian hari.

Di masa-masa yang akan datang bisa saja akan muncul aksi-aksi yang lebih berbahaya. Dengan alasan pribumisasi Islam, bisa saja kela ada patung Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wassallam,  pemujaan terhadap patungnya dan pemasangan patungnya di masjid-masjid dan rumah-rumah kaum Muslim di Indonesia, dan didirikannya shalat dengan menghadap ke patungnya sebagai hasil dari sinkretisme agama Islam dengan agama-agama yang dianggap  lebih melokal dan mempribumi.

Memadamkan Api

Meminjam pernyataan Muhammad Natsir, jika mau memadamkan api, maka padamkanlah api sewaktu kecil. Jangan nunggu api semakin membesar, maka melihat betapa bahayanya agama baru hasil dari sinkretisme agama tersebut maka wajib bagi umat Islam Indonesia memadamkannya sedini mungkin dengan segala cara – yang dibenarkan agama dan negara – termasuk melakukan gugatan massal atas kaum munafiq kontemporer ke pengadilan dengan delik penistaan agama Islam.

Pemadaman ini penting untuk dilakukan agar agama sinkretisme baru tersebut mati sebelum berkembang, agar tidak berkembang seperti berkembangnya agama Kristen yang merupakan agama sinkritisme, yang mengasimilasi konsep Judaistis, Hellenistis dan Gnostik, sebagaimana digambarkan Gunkel, Harnadc dan Bultmann yang disebutkan dalam “Sinkretisme Dalam Pandangan Alkitab”  (Jurnal Pelita Zaman, Volume 1 No. 1 Tahun 1986, http://alkitab.sabda.org/resource.php?res=jpz). Wallahu a’alam bish showab.*

Penulis adalah anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kediri Jatim

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamIslam NusantaraJamaah Islam NusantaraJINNeo liberalisasipribumisasi Islamsinkretisme agamasinkritisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Din: Majelis Ulama Wajib Memberikan Fatwa Jika Umat Meminta
Tulisan selanjutnya Melalui Fatwa Ijtima Berdasar Syariah MUI Jawab Problematika Umat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?