Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Artis dan Pesona Perdagangan Perempuan [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Januari 2016 09:02 9:02 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Januari 2016 06:10
Bagikan
[Ilustrasi] Acara TV.
Bagikan

Oleh: Muh. Nurhidayat

 

SEKITAR 20 tahun silam, ada seorang perempuan tua renta di sebuah kota AS yang hendak menyeberang jalan raya. Ia berpenampilan lusuh dan terlihat seperti orang miskin. Ketika lampu lalu lintas bagi penyeberang jalan menunjukkan warna hijau, ia melangkah tertatih-tatih menyusuri zebra cross. Perempuan lansia itu melangkah dengan sangat lambat, sampai-sampai ia masih berada di tengah jalan raya, meskipun lampu bagi penyeberang sudah menyala merah. Di tengah jalan itu, ia sangat ketakutan karena mobil-mobil dari kedua arah melaju kencang. Bahkan beberapa mobil yang melintas hampir saja menabraknya.

Ia terpaksa berdiri pasrah—dan tentu saja ketakutan—di tengah jalan raya yang ramai lalu-lalang mobil itu. Setelah lampu bagi penyeberang menunjukkan warna hijau kembali, ia pun berusaha melangkah agak cepat meskipun tetap tertatih-tatih hingga mencapai seberang jalan yang dituju. Orang-orang di sekitarnya cuek dan sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang peduli, apalagi mau menolongnya menyeberang jalan. Padahal mereka melihat perempuan itu kesulitan menyusuri zebra cross.

Orang-orang sekitar tiba-tiba memperhatikan (maksudnya hanya memandangi) perempuan lansia itu, setelah seorang laki-laki tua mengatakan bahwa perempuan itu adalah X (nama dirahasiakan), bintang majalah dan film porno pada dekade 50-an silam. Ia mengalami nasib menyedihkan pada masa tuanya. Tidak ada lagi yang mengenalnya, apalagi orang-orang dari generasi sesudahnya. Padahal di masa mudanya, ia adalah artis terkenal dan banyak dipuja oleh para lelaki saat itu.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Masih di AS, ada seorang wanita lansia yang demi sesuap roti, ia harus menjadi pengemis di sebuah pusat keramaian. Hanya orang-orang seusianya lah yang tahu, bahwa wanita peminta-minta itu semasa mudanya (tahun 1970-an) adalah seorang model terkenal majalahPlayboy, yang banyak dipuja kaum lelaki.

Kisah nyata di atas patut menjadi bahan renungan bagi kaum wanita, terutama para remaja putri. Saat ini semakin banyak para remaja putri yang bercita-cita menjadi artis. Hal ini nampak dengan tidak sedikitnya para wanita muda yang menjadi peserta sejumlah reality show—pencarian calon artis—di televisi. Yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata banyak pula gadis berjilbab yang ikut-ikutan bangga menjadi penghibur.

Sebagai contoh, ada seorang gadis berjilbab beberapa tahun lalu mengikuti reality show semacam itu di sebuah televisi. Semula ia telah diingatkan sejumlah tokoh agama untuk tidak terjebak dalam acara yang cenderung merendahkan harkat dan martabat perempuan, apalagi ia berjilbab. Namun ia terlalu silau oleh gemerlap dunia artis, sehingga tidak mengindahkan lagi peringatan dari para tokoh agama. Ia pun terpilih sebagai pemenang dalam ajang calon artis tersebut. Ia pun merasa mendapatkan jalannya menjadi penghibur terkenal di usia yang masih sangat muda, sehingga tawaran menjadi model banyak iklan pun menghinggapinya.

Perdagangan Perempuan Penghibur

Artis perempuan pada hakekatnya adalah korban perdagangan perempuan di dunia hiburan. Mereka hanya dibutuhkan—lebih tepat dieksploitasi—fisiknya yang muda dan cantik. Dunia hiburan tidak membutuhkaan intelektualitas yang mereka miliki. Maka tidak mengherankan jika banyak di antara mereka yang enggan menuntut ilmu setinggi mungkin. Sebab pekerjaan yang mereka geluti tidak mengharuskannya ‘pintar-pintar amat’.

Namun ketika sudah tidak muda lagi, apalagi tidak cantik lagi, mereka akan dicampakkan begitu saja oleh dunia hiburan yang telah membuatnya terkenal. Malah saat ini banyak artis yang masih muda, bahkan juga masih cantik pun sudah tidak—atau minimal kurang—laku di jagad entertainmen. Sebab artis-artis pendatang baru yang jauh lebih muda dan lebih cantik terus banyak bermunculan untuk menggeser ketenaran—dan tentu saja pekerjaan—mereka.

Maka tidak mengherankan, banyak artis perempuan terperosok dalam lembah prostitusi kelas atas. Sumber terpercaya dari kalangan infotainmen menyebutkan bahwa tarif mereka berkisar antara belasan hingga ratusan juta rupiah untuk sekali kencan. Yang menyedihkan lagi, ada pula artis berjilbab—meskipun sebatas kudung gaul—terlibat dalam prostitusi ini.

Perdagangan perempuan di dunia hiburan direalisasikan dalam wujud pornografi media massa, baik melalui iklan, infotainmen, musik, sinetron, maupun film layar lebar. Pakar komunikasi Universitas Diponegoro, Sunarto (2009) memandang tipikal umum media massa memperlakukan perempuan sebagai objek seksual, objek fetish, serta objek pelecehan atau kekerasan seksual.

Penggagas teori tatapan lelaki (male gaze), Laura Mulvey (2006), menilai artis perempuan selalu menjadi korban scopophilia, yaitu insting yang menjadikan perempuan sebagai objek tontonan erotis untuk ‘kesenangan’ pandangan laki-laki. Sehingga seringkali pengambilan gambar (pada adegan film, lagu, maupun iklan) berfokus pada bagian-bagian tubuh tertentu perempuan yang dapat membangkitkan hasrat laki-laki.

Scopophilia, menurut Mulvey (2006) direalisasikan dalam bentuk fetitisme dan voyeurisme. Fetitisme dibangun dengan—propaganda yang menyatakan bahwa—perempuan dicitrakan memiliki keindahan fisik sehingga merasa puas atas dirinya sendiri dan tidak sadar kalau mereka dieksploitasi. Sementara itu, voyeurisme merupakan fenomena sadis yang dialami perempuan di dunia nyata—seperti pemerkosaan, pelecehan seksual—namun dalam dunia hiburan dieksploitasi sebagai materi tontonan untuk kesenangan laki-laki.

Di Indonesia, banyak sekali sinetron yang menampilkan voyeurism berupa adegan kejahatan seksual secara vulgar. Contoh kecil adalah sinetron ‘Kamar No. 05’ (TVRI, 1994), ‘Bukan Perempuan Biasa’ (RCTI, 1997), ‘Dendam Nyi Pelet’ (Indosiar, 2001), ‘Perawan Desa’ (SCTV, 2006), ‘Murni, Istri yang Dijual Suami’ (SCTV, 2006), serta sinetron-sinetron yang tayang sesudahnya. Bahkan termasuk sinetron yang—katanya—bergenre religius sekalipun.

Perdagangan perempuan di dunia hiburan adalah kejahatan kemanusiaan yang ‘menyilaukan’ para korbannya. Melalui fetitisme, para artis perempuan dimanjakan dengan limpahan materi dan popularitas. Mereka seakan bisa menggenggam dunia meskipun harus mengorbankan kehormatannya. Bukankah pekerjaan yang mereka geluti sudah dapat dikatakan memasuki ranah tabarruj atau pamer aurat? *

Dosen Tetap Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:artisaurateksploitasihiburantabarrujtelevisiTV
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tiga Cara Meninggalkan Kemunafikan
Tulisan selanjutnya Pengungsi Suriah Diterima di Pulau Kecil Skotlandia [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?