Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Tintin dan Stereotipe Islam dalam Animasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Maret 2016 11:22 11:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Maret 2016 11:21
Bagikan
Serial Tintin versi Bahasa Inggris
Bagikan

oleh: Muhammad Nurhidayat

 

SEBUAH negara monarki Timur Tengah dilanda kudeta. Raja yang digulingkan—beserta para tentara loyalisnya—akhirnya mengungsi di gua dalam gunung terpencil untuk menghimpun kekuatan dan berencana merebut kembali tahtanya dari dari tentara pemberontak. Dalam suasana konflik tersebut, dan karena alasan keamanan, raja menitipkan anak semata wayangnya yang masih berusia enam tahun, bernama Pangeran Abdullah, di rumah Tintin dkk. Sebagai sahabat dekat raja, maka Tintin, Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan Hector dengan senang hati menjaga Abdullah.

Namun sayang, Abdullah sangat bandel. Anak itu suka membuat kekacauan di rumah Tintin dkk. di Inggris. Snowy, anjing Tintin diperlakukan secara kejam oleh Abdullah. Anak itu juga sering mengganggu Tintin dkk. Kapten Haddock ingin memarahi Abdullah, tetapi tidak terlaksana karena ia diancam oleh Hashim—komandan  tentara pengawal anak raja itu—dengan hunusan pedang. Para pengawal Abdullah yang ikut mengungsi di rumah Tintin juga melakukan perbuatan tidak simpatik, seperti merokok dan bermain kartu (judi).

Tintin dan Kapten Haddock pun kemudian berangkat ke Timur Tengah untuk membantu raja dalam menumpas para pemberontak. Kedua orang tersebut sering terancam percobaan pembunuhan oleh tentara pemberontak. Mereka luput dari bahaya kematian, karena para tentara pemberontak terlalu bodoh untuk menghadapi Tintin dan Kapten Haddock. Seperti ketika Tintin dan Kapten Haddock hendak ke gunung Jebel (tempat raja bersembunyi), pilot tempur dari kubu pemberontak salah sasaran. Bukannya menembaki Tintin dan Kapten Haddock, namun malah menembali komandannya sendiri.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Demikian sinopsis cerita dalam film kartun Serial Tintin episode Hiu Laut Merah. Menurut penulis, film yang diadaptasi dari komik bergambar Tintin itu memberikan (atau bisa juga meneguhkan) representasi stereotipe Islam, khususnya muslim dari kawasan Timur Tengah. Stereotipe terhadap umat Islam telah banyak dilakukan dalam film, terutama sinema produksi AS dan Eropa. Sebenarnya, selain Hiu Laut Merah, ada beberapa episode lainnya dari serial film Timtin yang dianggap meneguhkan stereotipe atas umat Islam. Di antaranya adalah Rahasia Unicorn, Harta Karun Rackam Merah, Negeri Emas Hitam, dan Penerbangan 714 ke Sydney.

Kembali ke Hiu Laut Merah, digambarkan bahwa Abdullah ‘menyiksa’ Snowy dengan memakaikan kostum yang membuat susah si anjing: Gambar tersebut memperkuat stereotipe di mata orang-orang Barat, bahwa  orang Islam (yang diwakili Arab) adalah makhluk yang tidak menghormati hak-hak asasi makhluk lainnya, termasuk hak-hak asasi hewan untuk bebas dari perlakuan buruk.

Dalam buku Orientalism, Said (1979), secara terus-menerus, oleh orientalis, orang Arab ditampilkan sebagai makhluk yang mudah diperdaya, tidak punya kemampuan dan inisiatif, suka menjilat, senang berpura-pura, licik, dan tidak menyenangi binatang.

Tayangan yang menampilkan Abdullah senang mengganggu orang lain—baik kepada Kapten Haddock, Tintin, maupun Hector, telah memperteguh pendapat bahwa Islam telah menerima bukan saja perlakuan yang tidak tepat (oleh Orientalis), tetapi juga ekspresi etnosentrisme yang melampaui batas, kebencian kultural, bahkan rasial serta permusuhan mendalam yang secara paradoksial mengalir bebas. (Said, 2002)

Dalam film ini secara nampak digambarkan bagaimana Abdullah (anak orang Arab/Islam) tidak memiliki rasa hormat, apalagi berterima kasih kepada Kapten Haddock, Tintin, dan HectorTintin dkk. (orang Barat), yang telah memberikan perlindungan dan tumpangan tempat tinggal baginya dari gangguan para pemberontak Arab lainnya.

Selain itu, tayangan tentang pilot angkatan udara negara Arab yang keliru menembakkan bom kepada komandannya sendiri (padahal maksudnya ingin menembak Tintin dkk.), juga memperteguh representasi stereotipe orang-orang Arab/Islam sebagai orang-orang yang hanya mempunyai arti secara biologis—maaf, seperti binatang, namun tidak memiliki arti dalam hal lainnya—secara institusional, politis, dan kultural. (Said, 1979)

Kasus pemberontakan oleh kelompok tentara Arab kepada rajanya sendiri yang ditampilkan dalam film tersebut juga memperkuat gambaran tuduhan para Orientalis, bahwa Islam identik dengan peperangan dan pemberontakan. Begitu pula gambaran subjektif tak berdasar bahwa orang-orang Arab tidak mampu menciptakan persatuan apalagi kerjasama antar kelompok karena terkungkung oleh semangat—rasisme—kelompok. (Said, 1979).

Di sisi lain, menurut Said dalam buku Covering Islam (2002), Islam selalu (dianggap) merepresentasikan ancaman tertentu terhadap Barat. Tidak ada agama atau kelompok budaya lain yang disebut begitu meyakinkan sebagai ancaman bagi peradaban Barat sebagaimana Islam sekarang ini.

Fenomena ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh ketidakpercayaan diri Barat—yang mengaku sebagai orang-orang beradab dan unggul di segala bidang—terhadap perkembangan Islam secara real. Seperti diceritakan Said (1979), hal ini lebih didasarkan oleh sikap minder atau ketakutan Barat atas kemajuan budaya Islam, yang pasca wafatnya Muhammad saw., agama ini telah berkembang—dan berkuasa hingga ke luar Arab—seperti Persia (kini Iran), Suriah, Mesir—dengan kawasan Afrika Utara, Turki—dengan kawasan Eropa Timur, Spanyol, bahkan sampai ke India—Asia Selatan, Indonesia—Asia Tenggara, dan Cina—Asia Timur.

Sikap stereotipe terhadap Islam oleh Barat direpresantasikan melalui media massa, baik cetak, elektronik (radio, televisi), internet, film, maupun sarana komunikasi lainnya.  Sebab menurut pakar komunikasi UI, harsono Suwardi dalam Zein (2013), media memiliki posisi penting karena memiliki empat keunggulan: memiliki daya janagkau yang luas dalam menyebarkana informasi, memiliki kemampuan melipatgandakan pesan, dapat mewacanakan sebuah peristiwa sesuai pandangannya masing-masing, serta memiliki fungsi agenda setting.

Tentang begitu kuatnya pengaruh media massa (termasuk film), membuat Malcolm X berkomentar, bahwa media adalah entitas paling ampuh di jagad ini. Media memiliki kemampuan menjadikan orang yang bersalah sebagai tak berdosa, dan sebaliknya. Di situlah letak kekuatannya, karena media mengendalikan pikiran massa. (Wasakito, 2013)

Tentang fenomena ini, Mubarok & Madrah (2011) berkata, bahwa salah satu agen dari stigmatisasi adalah media massa. Stigma dikonstruksi dan dikekalkan dalam bahasa. Ketika stigma dilekatkan, maka diskriminasi akan terjadi.

Agar dapat mengimbangi gencarnya penggambaran stereotipe buruk Islam melalui film animasi, maka sudah semestinya para penggiat animasi muslim untuk terus berkarya, dalam melahirkan tayangan animasi Islami yang bermutu dan menarik minat anak-anak. Pemerintah negara-negara Islam atau muslim, serta lembaga pengelola dana zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS) pun diharapkan memberi dukungan modal kepada para animator muslim. Sebab kurangnya mutu tampilan film-film animasi Islami dari berbagai negara (termasuk Indonesia) bukan karena agam ini tidak memiliki animator cerdas. Namun mereka sulit berkarya secara profesional dan menghasilkan karya spektakuler, karena tidak memiliki modal untuk berkarya.

Sudah diketahui oleh masyarakat dunia, bahwa di balik kesuksesan film-film anaimasi seperti Doraemon, Crayon Shinchan (Jepang), Sponge Bob, Ice Age (AS), dan kartun-kartun lainnya, ada tenaga-tenaga animator cerdas dari kalangan muslim (termasuk dari Indonesia). Namun sayang, kecerdasan mereka dimanfaatkan untuk menghasilkan animasi yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti mistik dan pornografi.

Dengan membantu para animator muslim yang punya ghirah untuk menegakkan citra agamanya, maka pemerintah, lembaga pengelola dana ZIS, serta seluruh umat Islam, insya Allah telah menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan….” (QS. 5 : 2). Wallahua’lam.*

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratHectorislamKapten HaddockkebencianmediaorientalisstereotypetayanganTintin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kelompok Sayap Kanan Palestina: Situasi di Penjara Israel Semakin Memanas
Tulisan selanjutnya Masjid Istiqlal Akan Gelar Shalat Gerhana Matahari

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?