Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Romantisisme Ilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 September 2019 09:34 9:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 September 2019 09:34
Bagikan
Bagikan

NO one remembers who came in second. Disadari atau tidak, ungkapan Walter Hagen ini sering berubah jadi “mantra”. Seperti ada jimat yang ditakuti tuahnya. Dalam sekejap, ia mampu menyulap orang saling berebut menjadi nomor satu. Asumsi orang, seolah-olah yang hebat itu cuma si nomor satu. Yang lain tak perlu diingat apalagi diperhatikan.

Pastinya tidak demikian. Sebab di banyak tempat, tak jarang manusia justru lebih terkesan pada sisi lain di luar kehebatan atau prestasi. Kala reuni dengan teman-teman semasa kecil atau sekolah, misalnya. Kadang yang ditanya dan diingat bukan siapa yang ranking satu di sekolah. Tapi soal kekonyolan dan kehebohan dulu selama belajar atau kuliah.

Ini bukan soal legitimasi bolehnya orang itu melanggar aturan kebanyakan. Tidak. Tapi pesan positifnya, bahwa orang tersebut jangan mau stres hanya karena merasa kurang di satu hal saja. Padahal nyatanya, celah kebaikan begitu berlimpah di sekitarnya. Lalu kenapa mesti galau? Sedang ibadah dan amal shaleh untuk meraup pahala kebaikan itu bertabur dimana-mana. Bahkan nyaris tak terkira dengan karunia yang telah ternikmati selama ini.

Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam mengajarkan tentang konsep manusia.

Sabda beliau: “Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak. Orang yang mulia pada masa jahiliyah, akan menjadi orang yang mulia juga dalam Islam apabila ia berilmu. Ruh ibarat pasukan yang dikumpulkan, ia akan bersatu jika serasi dan akan berselisih jika tidak serasi.” (Riwayat Muslim).

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Yakni setiap orang terlahir dengan ragam potensi dan keadaan. Ada kurang ada lebih. Ada cerdas ada yang bodoh, ada yang hidupnya mapan adapula yang selalu merasa sempit, dan sebagainya. Itu semua adalah nikmat dan karunia yang patut disyukuri. Soal kemampuan dan kecenderungan serta karakter yang berbeda. Itulah romantisisme. Asal ia mau belajar dan terus mengupayakannya. Sehingga apapun situasi dan keadaannya, setiap manusia tetap berpeluang menjadi Mukmin yang baik. Bahkan itu wajib dan hukumnya fardhu ain.

Lebih jauh, sistem pendidikan yang benar seharusnya mengantar demikian itu. Bahwa yang pokok dari tujuan pendidikan adalah menjadikan setiap output yang dilahirkan menjadi manusia yang baik (a good man) atau manusia beradab (insan adabi). Bukan sekadar meluluskan alumninya menjadi warga negara yang baik (a good citizen) atau jadi pekerja yang baik (a good worker). Sebab manusia yang beradab mencakup semua aspek dan urusan yang lebih luas dibanding jika dibatasi hanya sebagai warga negara atau pekerja yang baik. Bahwa apapun pekerjaan atau profesinya, mereka tetap sebagai manusia yang beradab dan berkompetensi akhlak yang luhur.

Dengan pemahaman di atas, setidaknya diharapkan akan terbangun jiwa optimis dari setiap Mukmin. Mereka sadar, masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban selama menjalani kehidupan. Tidak sekadar sebagai beban hidup di tengah masyarakat. Namun justru terpanggil untuk senantiasa memberi kontribusi dan berbagi manfaat kepada sesama.

Sebab yang jadi ukuran ternyata bukan sekadar besarnya nominal yang diberikan atau gengsi kontribusi. Namun lebih kepada usaha yang dikerjakan dan nilai pengorbanan. Soal perbedaan kontribusi. Itulah romantisisme ilmu. Bahwa tak semua mesti jadi ulama atau jadi mufti yang memberi fatwa soal agama, misalnya. Tapi semua orang wajib beradab dan bermanfaat.* Masykur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabilmumanusiamukmin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR Revisi UU Pemberantasan Korupsi, KPK dinilai di Ujung Tanduk
Tulisan selanjutnya Umat Islam Diajak Waspadai Pemikiran Menyimpang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Berita
31 Agustus 2026 21:23
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?