Oleh: Maryam Arrosikha
Hidayatullah.com | BEBERAPA waktu terakhir, berbagai kabar kepergian ulama silih berganti menghampiri. Sebelumbya, tersebar video di WA tentang 100 ulama telah meninggal, salah satunya Ustadz Dr. Muhammad Mu’inuddinillah Bashri, Lc. M.A pada 8 Desember selepas Isya.
Seperti meninggalnya manusia-manusia terbaik, semakin hari, kabar mengenai kebaikannya semakin senter. Semakin hari, kenangan-kenangan, wejangan-wejangan, tausiyah-tausiyah, nilai-nilai yang selama hidup diperjuangkan olehnya semakin terangkat, salah satunya tentang Al-Qur’an.
Kecintaan Ustad Mu’inuddinillah Bashri pada Al-Qur’an sungguh terpancar dari seluruh nasehat-nasehatnya. Tentang Al-Qur’an adalah kunci kehidupan dan kebangkitan umat. Tentang Al-Qur’an adalah kunci keberkahan. Tentang Al-Qur’an tak akan bersatu dengan musik. Tentang mengulang sekian ratus kali seperti Imam Syafi’i dan jaminan kuatnya hafalan. Tentang minal Qur’ani nanthaliq, wa bil Qur’ani nastabiq. Bahwa Al-Qur’an adalah harga mati, apapun yang terjadi.
Ustadz Muinudinillah Basri yang Kukenal https://t.co/OjkLGWswx8
— Hidayatullah.com (@hidcom) December 15, 2020
Menurutnya, Al-Qur’an memiliki dimensi keilmuan dan keumatan yang sangat kuat. Bagaimana tidak, Al-Qur’an mengandung konsep-konsep kunci yang perlu diketahui manusia, yaitu worldview yang akan melahirkan ideologi Islam, hakikat Tuhan dengan uluhiyyah dan ‘ubudiyyah-nya, hakikat alam semesta, hakikat manusia, hingga hakikat kehidupan. Juga hakikat ilmu pengetahuan, yang berada di segenap penjuru bahkan di dalam diri manusia.
Beliau pernah berpesan, Al-Qur’an juga mengandung apa yang disebut dengan ilmu ghayah (ilmu tujuan) berupa pemahaman atas Allah dan ilmu wasail (ilmu sarana) seperti sains untuk dieksplor. Bahkan Al-Qur’an juga telah dikaji oleh berbagai pihak di luar Islam, terlepas tujuannya adalah murni untuk ilmu pengetahuan atau sebaliknya. Maka semestinya, dibanding mereka kita justru lebih berhak menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber keilmuan. Menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan dalam berbagai permasalahan.
Begitupun pada dimensi keumatan. Al-Qur’an sebagai sumber iman, syariah, dan ilmu sebagai pembentuk ummat. Tanpanya, umat tak akan terbentuk. Tanpanya, pengembalian kemuliaan Islam tak terlaksana. Tanpanya, usaha menyatukan umat tak akan terwujud. Sehingga, Studi Al-Qur’an menjadi esensial dalam menjaga eksistensi umat Islam. Karena ialah yang menjaga kelurusan orientasi hidup, ideologi, sistem hidup, cita-cita, adab, dan moralitas.
Surat Al-Baqarah ayat 129 mengisyaratkan, bahwa dengan Al-Qur’an umat Islam lahir. Begitu juga yang dikatakan oleh Imam Malik, bahwa “Akhir umat ini tidak akan baik kondisinya, kecuali dengan apa yang ummat terdahulu menjadi baik”.
Maknanya, dulu umat jahiliyah menjadi khairu ummah dengan Al-Qur’an. Maka sekarang, Al-Qur’an pula yang akan menjadi penyebab perbaikan umat.
Hal ini sungguh cocok, terlebih dengan kondisi saat ini. Ketika kedzaliman terjadi di mana mana, keadilan dihina-hina, kesesatan didiamkan, kebenaran dikejar-kejar, kejahilan dielu-elukan, kebaikan ditertawakan. Perbedaan benar dan salah menjadi samar, antara haq dan bathil tercampurbaur, mana yang benar mana yang hanya ditampakkan benar tak jelas batasnya. Katanya ini zaman edan, gila. Ketika dunia kita sedang tidak baik-baik saja.
Rasulullah ﷺ berwasiat untuk umat sepeninggalnya. Bahwa tak akan tersesat esok, orang yang berpegang teguh pada dua hal yang ia tinggalkan, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Bahwa sepeninggalnya, fitnah akan merajalela, kejahilan akan kembali menguasai dunia, kemunkaran akan berkuasa. Maka, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits merupakan petunjuk jalan yang paripurna. Tak akan tersesat, tak akan kebingungan.
Ustadz Mu’in pernah berujar, “Selamatkan Indonesia dengan Al-Qur’an dan Iman kalian”. Ustadz yang sangat mencintai umat dan mencintai Indonesia ini pernah memberi pesan. Tentang apa yang seharusnya kita pegang erat. Tentang penyelamatan Indonesia khususnya. Yakni dengan Al-Qur’an dan Iman kita.
Dua hal yang selama hidupnya telah dengan sebaik-baiknya beliau tanamkan pada anak-anaknya, pada murid-muridnya. Dua hal yang tentangnya, kita semua dibekali, ditegasi, diwanti-wanti. Al-Qur’an dan Iman.
Ustadz Mu’in tak lagi membersamai perjuangan. Beliau tak lagi memberi taujihat pekanan. Tapi almarhum telah meninggalkan banyak keteladanan. Ustadz Mu’in telah memberi banyak perbekalan. Ustadz Mu’in telah menjelaskan banyak pelajaran. Maka, semestinya kita meneladani, mengikuti, menaati. Karena, meski Ustadz Mu’in tak di sini, seharusnya nilai-nilai yang ditanamkan telah ter internalisasi.
Selamatkan Indonesia dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an, sebagai manual book kehidupan, telah memuat berbagai ajaran mengenai bagaimana seharusnya kita hidup. Termasuk tentang bagaimana seharusnya agar sebuah bangsa mendapat rahmat dan barakah, terhindar dari musibah. Juga tentang bagaimana pembangunan yang seharusnya diutamakan.
Surah Al-A’raf ayat 96 mengajarkan, bahwa akan dibukakan barakah dari langit dan bumi untuk suatu negeri yang penduduknya beriman dan bertaqwa. Jika beriman dan bertaqwa, apapun posisinya, akan bekerja sebaik mungkin, akan mengemban amanah semaksimal mungkin.
Pemimpin yang beriman dan memegang erat Al-Qur’an akan mendahulukan kepentingan rakyat daripada individu bahkan golongan, akan menjaga dan membina iman bangsanya bukan sekedar sibuk pada urusan dunia semata. Begitu juga dalam ranah pembangunan, tak berhenti pada pembangunan dalam aspek materi dan dunia, namun juga pembangunan dalam aspek jiwa, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surah Asy-Syams ayat 9 dan 10.
Selamatkan Indonesia dengan Al-Qur’an dan Iman kalian, pesannya. Jadi, apa kabar Al-Qur’an dan Iman kita?
Alumni PPTQ SMAIT Ibnu Abbas Angkatan Pertama. Saat ini adalah Peserta PKU Gontor Angkatan XIV. Artikel kami dedikasikan untuk guru kami, Allahu yarham Dr Muhammad Mu’inuddinillah Bashri