Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Islam dan Radikalisme

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 November 2019 10:16 10:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 November 2019 10:16
Bagikan
Bagikan

ISU radikalisme yang seakan identik dengan agama kembali mencuat pasca Presiden Joko Widodo melantik sosok menteri agama berlatar  belakang militer. Tidak tanggung-tanggung, sekelas Prof Din Syamsuddin pun dikabarkan merespons terpilihnya sang menteri tersebut di Kabinet Indonesia Maju dengan tingkat “kegelisahan” yang mendalam.

Penting dicatat bersama, kata “radikalisme” di negeri ini memang tidak jelas definisi yang disepakati, sehingga acapkali stigma radikalisme cenderung merugikan komunitas agama tertentu, yang kemudian juga berdampak pada tertekannya sebagian umat beragama karena nyaris semua hal yang disandingkan dengan radikalisme seakan-akan bersumber atau setidak-tidaknya terafirmasi dengan ajaran sebuah agama.

Dalam konteks Indonesia, kata “radikalisme” seakan identik dengan ajaran Islam.

Seperti warta yang dilansir sebuah situs berita online mainstream Tanah Air pada 13 Oktober 2019 ditulis dengan judul, “Densus Temukan Buku Jihad di Rumah Tersangka Teroris Bekasi.”
Kata “Buku Jihad di Rumah Tersangka Teroris Bekasi” secara gamblang nampak ingin menghadirkan kesan kepada publik bahwa teroris sangat suka, gemar, dan kemana-mana membawa serta mengamalkan buku jihad.

Padahal jihad dalam Islam, baik secara normatif maupun historis tidak pernah membenarkan yang namanya aksi terorisme yang pekerjaannya menakut-nakuti dan mengancam orang lain supaya takut. Dalam kata yang lain adalah sebuah kesengajaan yang kontraporduktif kala menyandingkan kata “teroris” dengan kata “jihad.”

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Bagi umat Islam dan demikian fakta sejarahnya, tanpa jihad Indonesia tidak akan merdeka. Tanpa jihad umat Islam tidak akan tergerak untuk melawan penjajah. Bahkan begitu pentingnya jihad untuk mewujudkan Indonesia merdeka, KH Hasyim Asy’ari menyeru umat Islam untuk bersatu melawan penjajahan dengan Resolusi Jihad. Kata jihad bagi umat Islam adalah seruan suci melawan kezaliman dalam konteks sejarah Indonesia adalah perlawanan terhadap penjajah.

Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sangat “berhutang” dengan istilah “jihad.” Lantas mengapa kini kata yang mengantarkan rakyat Indonesia bersatu melawan penjajahan justru terkesan diidentikkan dengan aksi radikalisme dan terorisme?

Baca: Prof Din: Arahan Jokowi ke Menag Atasi Radikalisme Sangat Tendensius

Dialog

Demi tercapainya progresifitas pembangunan manusia, bangsa, dan negara, maka sudah saatnya pemerintah, perwakilan pemuka agama, militer dan kepolisian duduk bersama untuk menentukan arti “radikalisme” yang sesungguhnya. Karena sebuah istilah yang tidak jelas definisinya cenderung akan menjadi alat pihak yang lebih kuat untuk memukul pihak yang lebih lemah atau yang dianggap perlu untuk dilemahkan.

Seperti kata Wittgenstein sebagaimana dikutip Syamsuddin Arif dalam bukunya Islam dan Diabolisme Intelektual, makna suatu kata sangat ditentukan oleh penggunaan. (“Let the use of a word teach you its meaning”), bukan oleh kamus.

Syamsuddin Arif menambahkan, “Orangtua yang menakut-nakuti anaknya tidak disebut ‘terrorist.’ Begitu pula sekelompok remaja yang mengancam teman sekolahnya dengan senjata tajam tidak disebut teroris. Lalu, bagaimana dengan aparat bersenjata yang mengancam warga sipil tak berdaya, atau pejabat yang menekan wartawan dengan ancaman bunuh, misalnya, apakah mereka teroris?”

Ketika mantan Menko Polhukan Wiranto ditikam dengan pisau, pelaku langsung disebut teroris. Ketika pembantaian terhadap sesama warga negara terjadi di Wamena, Papua, bahkan dengan cara-cara biadab, kata teroris seakan dipaksa menjauh dari para pelaku. Semua fakta yang begitu terbuka tersebut sudah memadai bagi publik untuk bertanya siapa yang disebut teroris, siapa yang berhak memberikan definisi dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, guna menghindari simpang siur makna dan penerapan kata radikalisme termasuk terorisme, perlu dialog bersama antar pemuka agama, menteri terkait, militer, dan kepolisian, termasuk para ahli di bidang hukum dan agama, jika arti di dalam kamus dinilai tidak memadai.
Semua ini penting dilakukan semata-mata demi memastikan langkah ke depan bangsa ini adalah pada tercapainya kemajuan. Jika tidak, selamanya istilah radikal ini akan merugikan satu pihak dan pada akhirnya menghambat laju progreisivitas pembangunan bangsa dan negara.

Mengapa radikalisme terus mencuat, didiskusikan, dan terus diperdebatkan di beragam ruang publik Tanah Air, satu di antaranya karena memang masing-masing memiliki definis tersendiri. Akibatnya adu argumen tidak terhindarkan, masalah radikalisme tidak teratasi, sementara waktu terus bergulir dan sebagian bangsa Indonesia masih saja berbusa-busa merasa definisinya tentang radikalisme dan terorisme sebagai yang paling benar dan lain sebagainya.

Baca: Pengamat: Partai Sekuleristik Tunisia Rontok karena Andalkan Narasi Radikalisme

Fokus Amanah Konstitusi

Tatkala kita coba memperhatikan kesimpulan sebagian pihak mengenai mengapa radikalisme muncul berupa adanya ketidakadilan, kemiskinan, dan kebodohan, maka langkah yang tepat dilakukan oleh pemerintah dan seluruh elemen bangsa adalah bagaimana hadir gerakan fokus pada amanah konstitusi.

Fokus amanah konstitusi yang sangat kuat relevansinya dengan kehidupan rakyat adalah layanan pendidikan, kebebasan menjalankan ajaran agama, kesehatan, kemakmuran, dan keamanan. Jika benar, Kabinet Indonesia Maju ingin mewujudkan kemajuan bagi rakyat Indonesia maka sesungguhnya isu yang seharusnya di blow up ke ruang-ruang publik adalah bagaimana inovasi layanan yang akan diberikan pemerintah kepada rakyat dengan sangat mudah.

Apabila hal ini dilakukan dengan konsisten dan berkesinambungan nampaknya tidak akan lagi ada radikalisme dan terorisme di Indonesia, sebab rakyat merasa aman, terlayani, dan diperhatikan secara maksimal dan optimal oleh segenap penyelenggara negara. Pada akhirnya, rakyat akan semakin kreatif dan produktif, meningkat pendapatan dan daya belinya, sehingga bisa menumbuhkan perekonomian bangsa dan negara.

Tetapi kalau tidak, maka kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan akan terus terjadi. Negara akan menanggung beban yang amat berat, tidak saja hari ini akan tetapi juga masa depan. Beragam kekacauan pun tidak dapat dihindarkan, yang puncaknya Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan akan kehilangan kekuatan utamanya, yakni persatuan seluruh rakyat Indonesia. Hanya karena satu kata “radikalisme” yang tak jelas definisi dan penggunaanya.*

Imam Nawawi | Sekjen Syabab Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Fachrul RaziislamMenagPembangunanradikalradikalisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya UAS: Pesantren Benteng Terakhir Menjaga Generasi
Tulisan selanjutnya Idham Azis Dilantik sebagai Kapolri, ini Kariernya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?