Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Retorika Dinar Dirham

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Februari 2021 10:13 10:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Februari 2021 12:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ali Mustofa Akbar

Hidayatullah.com | SEDANG  ramai diperbincangkan dan dipermasalahkan penggunaan Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) sebagai alat transaksi atau mata uang. Kali ini kita membahasa retorika Dinar dan Dirham.

Cukup mengherankan memang, di saat alat transaksi di luar rupiah diperkenankan, namun penggunaan Dinar dan Dirham dimeja hijaukan. Tak pelak membuat beberapa pihak wa bil khusus dari kalangan umat Islam menaruh tanya terhaadap kebijakan pihak pengambil keputusan. Apakah ada muatan politisnya?

Apapun itu, kita mesti tau sejatinya Dinar dan Dirham adalah mata uang yang sangat eleghan. Sehingga inilah sistem mata uang yang dipakai pada Rasulullah ﷺ, hatta berakhirnya intitusi penerap syariah pada tahun 1924 M.

Kemaslahatan ummat pun didapat. Uang sebagai alat tukar telah dikenal orang dan berkembang selama ribuan tahun. Sementara di dunia barat, rezim uang silih berganti dan penuh cerita kegagalan; Islam memiliki konsep yang sangat baku tentang uang dan segala bentuk transaksi yang melibatkan uang.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Bukan hanya sebatas teori tetapi blue print kuangan Islam memang pernah diwujudkan dalam bentuk nyata sejak awal-awal Institusi Islam dan terbukti hasilnya berupa kemakmuran bagi seluruh rakyat.

Umat Islam justru terperosok kedalam keterpurukan ekonomi diberbagai negara di zaman modern ini karena kita tidak berpegang pada sistem ekonomi dan moneter yang menjadi tuntunan agama yang mulia ini.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Waktu pasti datang pada setiap manusia dengan  tidak meninggalkan  perbedaan yang berarti  ketika  manusia menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksi yang aman”. (Musnad Imam Ahmad).

Sejarah membuktikan bahwa bukan hanya bahaya bunga yang punya andil sebagai  penyebab  kekacauan keuangan dunia tetapi posisi  uang kertas (fiat money) yang  nilai  intrinsiknya  jauh  lebih  rendah dari nilai nominalnya.

Baca:  Forum Studi Ekonomi Islam Minta Kasus Penertiban Dinar-Dirham Dikaji Ulang

Fiat Money

Beberapa penyebeb kegagalan penggunanaan fiat money sebagai alat tukar diantaranya:

Pertama: Tidak terjaminnya stabilitas nilai tukar. Berbeda halnya dengan uang emas dan perak mempunyai nilai tukar yang selalu stabil.

Kedua: Sumber inflasi. Jika terjadi  percetakan uang kertas dalam  jumlah yang berlebihan, akan  menimbukan infasi, nilai uang  turun dan harga barang naik.

Ketiga: Alat penjajahan dunia. Kronologi sederhanannya ialah dimana biaya produksi alias pembuatan uang kertas misalnya 1 dolar US adalah menghabiskan 4 sen dolar. Jika 1 dolar senilai Rp 10.000, seignorage yang didapatkan Amerika Serikat adalah Rp. 9.600,- per 1 dolar US. Jika yang dicetak adalah lembaran 100 dolar US, yang keuntungan yang diperoleh AS adalah: Rp. 999.600,- perlembarnya.

Sementara di belahan dunia lain ada 2,8 milyar jiwa yang hidupnya bersusah payah hanya untuk mendapatkan 2 dolar sehari dan bahkan 1,2 milyar jiwa yang kerja kerasnya hanya dihargai 1 dolar sehari. (Wolfensohn, 2004).

Baca: Inilah Kegigihan Zaim Saidi Memperjuangkan Dinar dan Dirham

Sejarah Kegagalan Fiat Money

Dalam perjalanan sejarahnya, penggunaan fiat money terbukti menunjukkan kegagalan. Seperti fakta berikut ini:

  1. Pada tahun 1975. Pasca terbunuhnya Louis VII, Perancis bangkrut. Nilai kapitalisasi pasar saham Missisipi Company ini menggelembung mencapai 5 milyar Livres dalam dua tahun tersebut. Tidak bisa tidak ketika terjadi penggelembungan pasar (market bubbte) pastiakan meledak danbenar inilah yang terjadi berikutnya gelembung meledak, pasar collapse. John Law pergi meninggalkan perancis yang bergelimpangan dengan korban uang kertas John Law denganidenya yang ternyata tidak berjalan.
  1. Pada tahun 1775, Amerika Serikat kebingungan mencari biaya perang, akhirnya diciptakan uang kertas. karena uang kertas ini tidak ada nilainya, maka uang ini akhirnya hanya digunakan untuk kertas penutup tembok (wall paper) di barber shop, untuk pembalut luka dan sampai juga dijadikan baju untuk parade di jalan.
  1. Kegagalan uang kertas yang menyolok juga terjadi di Jerman setelah berkahirnya perang Dunia I. Karena sangat tingginya inflasi dan tidak berharganya uang kertas saat itu, gaji pegawai dibayardalam dua kali sehari disebabkan daya beli uang kertas di pagi hari berbeda dengan daya beli uang kertas yang sama pada sore hari.
  1. Kegagalan uang kertas di Indonesia pun tidak kalah tragisnya ketika dalam periode lima tahun antara tahun 1960-1965 inflasi mencapai 650%.
  1. Terjadinya pula malapetaka yang besar pada tahun 1930-an. Terjadinya krisis ekonomi Amerika Latin pada dekade 1980-an. Munculnya krisis moneter di Asia pada pertengahan tahun 1997.

Baca: Meminta 1 Dirham, Menolak 20 Dinar

Diantara penyebabnya ialah;

Pertama: Keberadaan seignorage. Yakni keuntungan yang diperoleh dari selisih antara nilai intrinsik dan nominal. Karena biaya produksi uang kertas yang rendaah hal ini mendorong untuk mencetak uang yang melebihi penerimaan anggaran. Lalu memicu inflasi.

Kedua: Keberadaan sistem cadangan sebagian (fractional reserve system). Bank umum diberi kewenangan untuk melipatgandakan uang kertas yang masuk dalam depositonya. Adanya kewenangan ini dapat pula memicu inflasi.

Ketiga: Keberadaan Suku bunga.  bersifat tetap (fix rate) tanpa mempertimbangkan resiko bisnis. Munculnya berbagai transaksi derivatif banyak didorong oleh kemudahan untuk “mempermainkan” selisih bunga (spread). Hal itu mengakibatkan perputaran uang di sektor finansial jauh lebih besar dibanding di sektor riil.

Keempat: Spekulasi. Keberadaan suku bunga telah menyebabkan fungsi mata uang menjadi alat komoditi. Perubahan tingkat suku bunga maupun adanya perbedaan suku bunga telah membuka peluang tumbuhnya transaksi yang bersifat spekulatif. Akhirnya transaksi yang bersifat spekulatif terus menggelembung dan sewaktu-waktu siap untuk meledak.

Kelima: Kurs mata uang. Adanya perbedaan mata uang kertas antar negara memunculkan nilai kurs mata uang. Fluktuasi nilai kurs juga akan mendorong munculnya jual beli mata uang yang bersifat spekulatif.

Tak heran manakala para ahli dari Barat juga menyadari akan kelemahan fiat money ini. Lembaga FAME (Foundation of Advance Monetary Education) misalnya menyatakan: “Bahaya Dari uang fiat yang menipu dan timbangan dan ukuran moneter yang adil yang berarti emas sebagai mata uang solusinya.” (Fame.org)

Dr. Herral Hass (pakar ekonomi eropa) pada tahun 2003, mengatakan: “Perbaikan besar akan terjadi bila secara sengaja atau tidak sengaja uang-uang besar fiat hancur, maka bisa di perkenalkan kembali konsep gold standard.

Baca: Imam As Syafi’i Tak Bawa Uang 1000 Dinar Ke Rumah

Keunggulan Gold Standar (Standar Emas)

  1. Dinar (emas) dan Dirham (perak) adalah komoditas. Punya nilai instrinsik pada dirinya sendiri.
  2. Menjamin perekonomian yang stabil. Tidak seperti sistem uang kertas yang cenderung membawa instabilitas dunia karena penambahan uang kertas yang beredar secara tiba-tiba.
  3. Sistem emas dan perak akan menciptakan keseimbangan neraca pembayaran antarnegara secara otomatis untuk mengoreksi ketekoran dalam pembayaran tanpa intervensi bank sentral.
  4. Sistem emas dan perak akan memelihara kekayaan emas dan perak yang dimiliki setiap negara. Jadi, emas dan perak tidak akan lari dari satu negeri ke negeri lain.
  5. Konsekuensi penggunaan uang emas dan perak dapat menghindarkan bentuk pertukaran ribawi karena nilai instrinsik yang  dimilikinya sangat jelas dan berharga.

Karena itu tak salah manakala umat Islam kembali melirik Dinar Dirham sebagai mata uang idaman. Hutang negara maju kepada negara berkembang telah menyebabkan terjadinya kerusakan ekologi, degradasi lahan, polusi yang meluas, pemusnahan hutan, kebakaran hutan, penjarahan sumber daya alam, rusaknya struktur sosial masyarakat tradisional, dsb. Perusakan itu harus terjadi hanya dalam rangka untuk memperoleh lembaran-lembaran wang kertas dolar AS yang tidak bernilai, guna melunasi hutang hutang luar negerinya yang ironisnya senantiasa berbunga terus menerus.

Meski begitu, sengkarut permasalahan ekonomi ini akan lebih efektif manakala penerapan Dinar Dirham berada dalam naungan sistem Islam. Dengan begitu akan di topang oleh pengaturan sumber daya alam yang baik, dst. Wallahu A’lam.*

Peneliti AKSARA

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dinardirhammata uangriba
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bayi Mujahid Lahir dari Nutfah yang Diselundupkan Tahanan Palestina
Tulisan selanjutnya anies hujan ekstrem Anies Sebut Curah Hujan Ekstrem Penyebab Banjir Jakarta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?