Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Lebaran: Antara Tradisi dan Spirit Revolusi Jiwa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Juli 2015 13:32 1:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Juli 2015 13:32
Bagikan
Bersalam-salaman saat lebaran di Malaysia
Bagikan

Oleh: Susanto

SETAHUN sekali, setiap tanggal 1 bulan Syawal, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri dan dalam terminologi lokal Indonesia disebut sebagai “lebaran”.

Pada hari tersebut, kegembiraan terpancar dari kalbu setiap orang. Bahagia karena telah mencapai kemenangan.

Istilah “lebaran” selalu akrab dengan umat Islam Indonesia, melekat dalam budaya dan memiliki banyak dimensi makna.

Pertama, memiliki dimensi makna agama. Tak dipungkiri, setelah umat Islam menjalankan puasa Ramadhan, lebaran akan tiba dan disemarakkan dengan membaca takbir, tahmid dan tahlil oleh seluruh umat Islam di penjuru negeri sebagai simbol kembali ke fitrah.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Kedua, memiliki dimensi budaya. Disebut sebagai peristiwa budaya, karena dalam lebaran memiliki tradisi ikutan yang seringkali disebut sebagai budaya “sungkem”.

Sungkem yang terjadi di hari lebaran telah mengakar dalam budaya Indonesia secara turun temurun dan terus dirawat, karena sungkeman dipnadang sebagai “tali perekat’ antara hamba Allah baik, karena hubungan nasab maupun sesama umat Islam.

Ketiga, memiliki dimensi ekonomi, karena momentum lebaran cukup membantu memicu laju pertumbuhan ekonomi; terutama tingginya permintaan moda transportasi, wisata, kebutuhan sandang dan pangan serta kebutuhan lain yang terkait gaya hidup terutama untuk kelas ekonomi tertentu.

Tetapi apa sesungguhnya lebaran itu?

Hingga kini, asal usul terminologi lebaran belum ditemukan referensi yang otoritatif memmberikan jawaban tunggal. Sebagian orang mengatakan terminologi lebaran berasal dari bahasa Jawa ngoko, yakni kata “bar”/”wes” artinya “selesai melaksanakan ibadah puasa”.

Sebagian orang jawa memaknai “lebaran” dari kata “lebar” yang berarti “mubadzir’, karena dalam tradisi sungkeman di hari lebaran, setiap keluarga menyediakan makanan atau jajanan, namun seringkali pengunjung saat silaturahmi sungkeman tak semua menyantapnya, sehingga makanan yang telah sediakan seringkali “mubazdir’. Dalam hal penyebutan, orang Jawa jarang menggunakan istilah lebaran saat Idul Fitri. Mereka lebih sering menggunakan istilah “bodo”.

Kata lebaran justru lebih banyak digunakan oleh orang Betawi. Menurut mereka kata lebaran berasal dari kata “lebar” yang diartikan luas dan merupakan gambaran keluasan atau kelegaan hati setelah melaksanakan ibadah puasa serta kegembiraan menyambut hari kemenangan.

Tradisi Lebaran di Negara Lain

Perayaan lebaran di negara lain, cukup variatif, karena setiap negara memiliki ekspresi budaya yang khas dan unik.

Pertama,  tradisi lebaran di Malaysia

Tradisi lebaran di Malaysia mirip dengan tradisi di Indonesia. Masyarakat negeri tetangga ini juga menyiapkan makanan khas lebaran seperti ketupat dan rendang, yang juga menjadi makanan khas lebaran masyarakat Indonesia. Tak hanya itu, bagi usia yang lebih muda memberi hormat dan mencium tangan orang kepada yang lebih tua, sementara orang dewasa yang sudah berpenghasilan memberikan uang hari raya kepada anak.

Kedua, tradisi lebaran di Arab Saudi

Perayaan lebaran di Arab Saudi selalu diisi dengan kesenian, seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade pertunjukkan musik, tarian dan kegiatan seni lainnya. Selain itu, masyarakat Arab juga terbiasa mendekorasi rumah mereka dengan hiasan-hiasan khas lebaran. Untuk menu khas lebaran, umat Muslim Arab Saudi menyantap daging domba yang dicampur dengan nasi dan sayuran tradisional setelah melakukan shalat ied. Setalh itu, mereka mengunjungi sanak saudara dan tetangga untuk bersilaturahmi. Tak hanya itu, anak-anak tampaknya juga mendapatkan bingkisan-bingkisan lebaran yang berisi permen, coklat dan makanan lainnya sebagai bentuk kasih sayang kepada anak.

Ketiga, tradisi lebaran di Turki

Tradisi lebaran yang berkembang di masyarakat Turki menyebut perayaan Idul Fitri dengan terminologi “Bayram”. Kebiasaan pada hari Bayram mereka mengenakan pakaian khas yang dikenal dengan Bayramlik.  Pada hari tersebut masyarakat memiliki kebiasaan mengucapkan salam “Bayraminiz Kutlu Olsun”, “Mutlu Bayramlar”, atau “Bayraminiz Mubarek Olsun”. Sama halnya dengan di Indonesia, orang yang lebih muda akan mencium tangan dan bersujud kepada orang yang lebih tua. Disamping itu, anak-anak di Turki berkeliling ke rumah sanak keluarga dan tetangga untuk mengucap salam Bayram dan doa. Sebagai bentuk kasinh sayang kepada anak, ia menerima hadiah berupa coklat, permen, uang koin, dan manisan tradisional Turki seperti Baklava dan Lokum.

Kembali ke Fitrah: Spirit Revolusi Jiwa

Meski beragam ekspresi dalam menyemarakkan lebaran baik di Indonesia maupun di sejumlah negara, namun sejatinya adanya tradisi lebaran merupakan simbol berakhirnya puasa Ramadhan. Dengan demikian, terminologi lebaran bak sekata dengan idul fitri meski keduanya memiliki muatan perspektif yang sedikit berbeda. Apa sesungguhnya idul fitri?. Kata Idul Fitri berasal dari bahasa Arab Id dan Fitri. Kata Id berarti “kembali”. Sedangkan kata Fitri berarti “berbuka atau suci”. Dengan demikian, secara etimologi Idul Fitri dimaknai sebagai “kembali berbuka” sedangkan secara substansi dimaknai sebagai “kembali suci”.

Setiap orang memiliki sifat fitrah (suci), terbawa serta olehnya sejak kelahiran, walaupun sering, karena kesibukan dan dosa, fitrah itu terabaikan. Karena itu, suara fitrah seringkali begitu lemah dalam diri kita bahkan terkadang hanya sayup-sayup. Suara itulah yang dikumandangkan pada Idul Fitri, yakni Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Akbar. Alhasil, bila kalimat-kalimat itu benar-benar tertancap dalam jiwa, akan hilanglah segala kebergantungan kepada unsur-unsur lain kecuali kepada Allah semata.

Kesucian adalah gabungan tiga unsur: benar, baik dan indah. Karena itu, seseorang yang ber- Idul Fitri, dalam arti kembali kepada kesucian akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik. Inilah akar revolusi jiwa yang sesungguhnya. Bahkan melalui kesucian jiwanya itu, ia akan melihat segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi-sisi baik, benar, dan indah. Selalu mencari dan menggali yang indah untuk melahirkan seni, mencari yang baik untuk mewujudkan etika dan mencari yang benar agar menghasilkan produktifitas. Dengan demikian, orang yang ber-idul fithri akan mengambil sisi positif, bukan mengadili kesalahan. Adanya potensi positif yang tumbuh di masyarakat terus dirawat, dikembangkan, disemangati agar kelak menjadi “obor” peradaban, dan bukan selalu memandag kelemahan dan kesalahan, seolah negeri ini akan kiamat. Selamat berhijrah menuju revolusi jiwa.*

Penulis adalah Komisioner Bidang Pendidikan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Dosen Fakultas Tarbiyah, Institut Perguruan Tinggi Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Awal Ramadhan 1436hari rayaIdul fitrijiwaLebaranmentalPuasaRamadhanrevolusi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Melayat’ di Hari Raya
Tulisan selanjutnya Belasan Ormas Dialogkan Urgensi Persatuan dalam Mengembalikan Peradaban Islam di Aceh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?