Oleh: Ahmad Kholili Hasib
MULAI tanggal 1 sampai 5 Agustus 2015 ini Nahdhatul Ulama (NU) memiliki hajatan besar. Yaitu Muktamar ke-33 yang diadakan di Jombang.
Perhelatan akbar NU kali ini memiliki nilai tersendiri. Yaitu diadakan di kota tempat pendiri NU — Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari — lahir dan berjuang. Spirit dan heorisme Hadratus Syaikh tentu saja harus menyemangati peserta Muktamar, supaya menghasilkan pemimpin baru NU yang berjiwa pejuang.
Wasiat Perjuangan
Ketika NU lahir pada tahun 1926 pada saat bumi Nusantara masih dicengkeram penjajah Belanda, Hadratus Syaikh menjadikan pesantren sebagai basis perjuangan kemerdekaan. Sosok KH. Hasyim Asy’ari memang bermental baja, percaya diri, tidak mudah diiming-iming asing dan dikenal apa adanya. Segala bujuk rayu dan siasat Belanda tak mampu menembus hati Hadratus Syaikh.
Pada sekitar tahun 1935, Belanda memainkan politik tipu muslihat. Tiba-tiba Gubernur Belanda bersikap melunak kepada pesantren Tebuireng yang didirikan KH. Hasyim Asy’ari. Mungkin mirip dengan LSM komprador asing zaman sekarang yang ringan tangan memberi bantuan ‘cuma-cuma’ kepada lembaga pendidikan Islam. Pemerintah penjajah menawarkan bantuan untuk pesantren. Tidak cukup itu Belanda mengumumkan akan memberikan gelar Bintang Perak kepada KH. Hasyim Asyari atas jasanya dalam mengembangkan pendidikan Islam di Tebuireng. Tetapi gelar kehormatan dalam bidang pendidikan itu ditolak KH. Hasyim Asy’ari.
Ternyata penjajah tidak putus harapan. Untuk kedua kalinya Hadratus Syaikh didekati dengan melakukan lobi-lobi melalui orang-orang suruhan Belanda. Menyampaikan maksud dari pemerintah Belanda akan memberikan gelar yang lebih tinggi lagi yaitu memberikan Bintang Emas. Pemberikan kedua ini pun ditampik Hadratus Syaikh. Sebab beliau tahu bahwa pemberian gelar itu cuma akal-akalan Belanda supaya beliau jinak kepada penjajah asing (KH. Saifudin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, hal. 607).
Hadratus Syaikh dan para kiai zaman itu percaya diri dengan pendidikan Islam ala pesantren mampu dijalankan tanpa bantuan asing. Mereka mengharamkan menerima bantuan Belanda. Siapa saja yang menerima dianggap berkhianat terhadap Islam dan Indonesia. Maka kurikulum pesantren pun murni, tidak ada pesanan penjajah, sistem juga tidak diubah ikut-ikutan sistem Belanda yang sekuler itu. Penolakan terhadap penjajah asing sudah mendarah-daging dalam diri santri di sejumlah pesantren di Jawa, tidak hanya di Tebuireng saja. Bahkan para kiai zaman itu haramkan memakai dasi dan jas, supaya tidak sama (tasyabbuh) dengan penjajah Belanda. Inilah cara dan didikan Hadratus Syaikh supaya Islam, santri dan pesantren terlihat izzah-nya (kemulyaannya) di mata Barat asing.
Pengaruh Hadratus Syaikh sangat kuat di kalangan ulama Jawa. Lihatlah fatwa Resolusi Jihad pada tahun 1945 untuk merebut kota Surabaya dari Belanda disambut secara heroik oleh para kiai. Dalam perang 10 November 1945 itu, para kiai santri terlibat aktif. KH. As’ad Syamsul Arifien dari PP Salafiyah Syafiiyah Asembagus Situbondo memimpin 100 laskar Hizbullah, KH. Nawawi Thohir mempimpin 168 anggota Laskar Hizbullah Malang, dan KH. Mudzakkir mempin 90 laskar Hizbullah Bondowoso. Mereka semua menuju titik-titik pertempuran di sekitar Surabaya.
Sepanjang hidupnya Hadratus Syaikh memang dikenal dengan sikapnya yang kontra Belanda. Setiap bujukan ia tepis keras. Pada masa revolusi Belanda membuat propaganda dengan mengadakan biro pelayanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau kaum Muslimin zaman itu. Sejak dibuka biro tersebut, banyak sekali yang berbondong-bondong mendaftarkan haji.
Namun dengan percaya dirinya, sang Hadratus Syaikh menentang mentah-mentah program tersebut. Alasannya, supaya rakyat Indonesia tidak tunduk patuh pada Belanda. Hadratus Syaikh segera mengeluarkan fatwa haram pergi haji dengan fasilitas Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab (suatu kebiasaan kiai zaman dahulu menulis surat resmi dan buku dengan bahasa Arab) dan disiarkan oleh bagian urusan keagamaan secara luas (Syamsul Ma’arif,Mutiara-Mutiara Dakwah KH.Hasyim Asy’ari,hal. 285). Setelah fatwa ini tersiarkan, banyak kaum Muslimin yang sudah mendaftar mengundurkan diri dan mengurungkan niat berhaji dengan fasilitas Belanda.
Belanda pun susat mengontrol dan menitip ‘pesan-pesan’ ke dalam para kiai zaman itu. NU bagai menjadi benteng baja yang sangat tebal. Hal inilah yang membuat Belanda bingung. Namun akhirnya Belanda segan dan tidak berani lagi membujuk. Jangankan suap sebesar amplop, fasilitas, sekarung uang Gulden dan jabatan terhormat pun ditepis oleh Hadratus Syaikh.
Atas ulah semena-mena Belanda terhadap pribumi dan berusaha menjauhkan generasi muda Muslim dari Islam, Hadratus Syaikh pernah menyampaikan pidato tegas dalam acara pertemuan Ulama seluruh Jawa Barat di Bandung. Ia mengatakan: “Kita seharusnya tidak lupa bahwa pemerintahan dan pemimpin mereka (Belanda) adalah Kristen dan Yahudi yang melawan Islam. Memang benar, mereka seringkali mengklaim bahwa mereka akan netral terhadap berbagai agama dan mereka tidak akan menganakemaskan satu agama, akan tetapi jika seseorang meneliti berbagai usaha mereka untuk mencegah perkembangan Islam pastilah tahu bahwa apa yang mereka katakana tidak sesuai dengan apa yang mereka praktekkan. Kita harus ingat bahwa Belanda berusaha agar anak-anak kita menjauhkan mereka dari ajaran-ajaran Islam dan mencekoki mereka dengan kebiasaan buruknya. Belanda telah merusak kehormatan Negara kita dan mengeruk kekayaan. Belanda telah mencoba memisahkan ulama dari umat. Dalam berbagai hal, Belanda telah merusak kepercayaan umat terhadap ulama dengan berbagai cara” (Soeara Masjoemi 15 Agustus 1944 dalam Samsul Ma’arif,Mutiara-Mutiara Dakwah KH. Hasyim Asy’ari, hal. 294).
Pesan untuk Pemimpin NU
Beginilah perjuangan pendiri NU ini. Tidak kompromis terhadap bujukan dan rayuan penjajah asing, percaya diri dengan kemampuan diri, dan tidak rela NU ditunggangi kepentingan pragmatis.
NU ini adalah warisan beliau. Garis-garis menjalankan roda perjuangan telah dituangkan dalam risalah bernama Qonun Asasi. Setiap pemimpin NU sudah wajib mengamalkan rambu-rambu organisasi ini. di sini NU harusnya selektif dalam menempatkan kader-kadernya di kepengurusan karena ada indikasi yang mengarah pada dugaan ada oknum yang keluar dari garis Qonun Asasi.
Ada seorang kiai pernah bercerita bahwa dulu Rais Syuriyah di tingkat Cabang dan Ranting setelah terpilih diminta menyampaikan pidato dalam bahasa Arab. Jika ada yang tidak bisa membaca pidato bahasa Arab yang ditulis tanpa harakat (arab gundul) maka Rais Suriyah tersebut bisa diganti. Ini salah satu contoh bagaimana para pemimpin NU menjaga kualitas meskipun di tingkat Ranting.
Pola-pola kaderisasi pemimpin itu harusnya dimulai dari pesantren. Sebab, NU lahir dari pesantren. Dan Hadratus Syaikh menjadikan pesantren sebagai basis perjuangan. Pesantren-pesantren miliki kiai NU perlu membuka Aswaja Center. Sebelum santri lulus, digodok di sekolah Aswaja itu. selain mengajari akidah Ahlussunnah, paling penting adalah bagaimana membangun karakter pemimpin dan akhlak ulama. Bahwa pemimpin NU itu mengedepankan sikap tawadhu, berakhlakul karimah, tidak ambisius, tidak tamak jabatan apalagi mudah terbujuk rayuan orang asing.
Kecuali itu, pemimpin NU dan kaum Nahdliyyin perlu melebarkan sayap dakwahnya. Tidak hanya dakwah di internal pesantren dan warga NU namun mengkhabarkan siar Aswaja kepada umat Islam yang lainnya. Masih banyak yang menanti penjelasan-penjelasan ilmiah tentang konsep Aswaja.
Hadratus Syaikh sudah memberi contoh tidak mempersempit NU tapi memperluas sayap dakwah. Beliau pernah menjadi ketua badan legislatif MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan ketua Masyumi, yang menaungi berbagai organisasi Islam. Di zaman itu, NU disegani dan dihormati berkat figur Hadratus Syaikh. Dengan menjadi ketua MIAI itu, NU semakin kuat, disegani penjajah dan terhormat di mata organisasi Islam lainnya.
Saat ini sudah saatnya ada penyegaran di dalam NU. Karena NU ini warisan para kiai-kiai kita yang berjuang ikhlas lillahi ta’ala, maka kita berkewajiban menyelamatkannya dari upaya-upaya oknum berkepentingan sesaat. Kita butuh figur yang jelas ke-ulaman dan akidah ke-aswajaanya serta memahami Khittah NU 1926.
Akhirul kalam,siapapun yang menjadi pemimpin NU pada Muktamar ke-33 di Jombang ini semoga seorang ulama yang mukhlis, pejuang dan memiliki kemampuan membawa nahkoda NU sesuai dengan wasiat Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Masa depan Aswaja ada di pundak para pimpinan. Jika pimpinan buruk maka Aswaja di Nusantara ini akan bernasib tidak baik. Tantangan NU ke depan semakin besar, kita harap ketua umum PBNU dan Rais Am yang terpilih, tidak mudah tergiur bujuk rayu rekayasa politik. Inilah saatnya melakukan pembaharuan (tajdidd) Nahdlatul Ulama.
Warga nadhliyyin sejatinya rindu dengan kondisi ideal NU dan mereka jenuh dengan hiruk-pikuk yang menjauhkan NU dari cita-cita Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Kepentingan-kepentingan pragmatis yang keluar dari cita-cita NU sejatinya menjatuhkan marwah NU. Semoga ada harapan baru di Mu’tamar ke-33 tahun ini.*
Penulis warga NU, peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPas) Surabaya