Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Delusi Louis Owien yang Meresahkan, dan Kaum Bebal Sesungguhnya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Juli 2021 16:27 4:27 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Juli 2021 14:04
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Dia lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FK-UKI), Jakarta, Angkatan ’96. Menurut rekan seangkatannya, ia memang pintar, menyenangkan dan orangnya asyik. Setidaknya itu kesan salah satu kawannya. Setelah dinyatakan lulus menjadi dokter, perjalanan hidup mengantar ia memilih tinggal di Kalimantan, dan praktek estetika.

Pengakuan temannya lagi, bahwa ada permasalahan menyangkut pribadinya. Coba dibantu semampu yang bisa dibantu, meski tidak berhasil “diselamatkan”, yang selanjutnya perjalanan hidup kurang nyaman mengenainya. Tidak disebut lantaran apa, ia lalu disebut sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Teman-teman seangkatannya pun tetap semangat membantunya, meski lagi-lagi tidak berhasil.

Rekan seangkatannya ada yang merasa malu, dan tentu mengena juga pada almamaternya, meski tidak ada kaitan langsung dengannya. Tapi setidaknya nama almamater ikut disebut, meski tidak perlu harus diseret-seret atas perilaku alumninya itu. Mestinya setelah lulus dinyatakan sebagai dokter, ia punya jalannya sendiri, tidak lagi bersangkut paut dengan almamaternya.

Melihat perempuan satu ini mestinya dengan pendekatan pada personal yang bersangkutan. Menjadi bermasalah jika apa yang dilakukan sudah meresahkan publik, dan lalu penangkapan terhadapnya dilakukan . Itu berawal dari ungkapannya sebagai seorang dokter yang menyatakan bahwa Covid-19 itu tidak ada. Artinya, ia tidak mempercayai adanya Covid-19 itu.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Ia menyatakan, dalam sebuah talk show di televisi bahwa pasien yang dinyatakan terpapar Covid-19, itu karena kontraksi obat-obat yang diberikan. Saat dicecar, bagaimana dengan mereka yang lalu mendatangi rumah sakit-rumah sakit karena terpapar Covid-19, bukannya orang-orang itu belum bersentuhan dengan obat, ia menjawab bahwa mereka datang ke rumah sakit karena stres.

Jawaban yang diberikan memang menggelikan, bagaimana bisa stres massal itu muncul, bukan saja di negeri ini tapi di seluruh dunia. Jawabannya itu, lalu di viralkan dalam cuplikan video singkat, seolah dokter satu ini pendapatnya benar bahwa Covid-19 ini tidak ada, hanya diada-adakan. Pendapat yang layak ditertawakan, itu menjadi aneh jika dipercaya sebagian pihak. Bahkan  dengan semangat video itu disebar menebar berita tidak bertanggung jawab.

Nama dokter perempuan itu menjadi populer dalam waktu singkat. Dari sebelumnya yang hanya dikenal terbatas menjadi menasional. Pendapatnya yang melawan pendapat yang sudah disepakati, itu memang kontroversi tingkat tinggi dan dengan tingkat absurditas yang tinggi pula. Dan memang itu bisa muncul dari siapa saja, termasuk dokter yang seharusnya bicara dengan data medis yang ada. Tidak asal bicara lalu mengundang respons luas. Itu mencari sensasi namanya.

Menjadi aneh jika pendapat ngaco, meski dari seorang dokter, lalu dipercaya seolah pendapatnya itu jujur karena berani beda dengan rekan sejawatnya sesama dokter. Mengapa publik yang mempercayainya, itu tidak mampu melihat bergelimpangan orang terpapar Covid-19 dan tidak sedikit yang meninggal karenanya. Apa mesti terpapar dulu, agar otak bisa terangsang bisa melihat hal sebenarnya.

Psikosis Akut, atau Apalah Namanya

Nama dokter perempuan itu Louis Owien. Pendapatnya yang menyangkal Covid-19, ini memang meneguhkan sikap publik yang memang dari awal memilih menolak vaksin. Menolak tanpa ada kejelasan mengapa mesti menolak. Dan itu dipicu oleh pemberitaan sebelumnya, bahwa dengan di vaksin akan menyebabkan hal-hal negatif. Rumor yang diterima begitu saja, yang mengalahkan anjuran para pakar perlunya vaksin.

Rumor yang tidak jelas, bahkan tidak bertanggung jawab itu justru dipercaya dan lalu mengajak bahkan mereka yang biasa berpikir rasional. Meyakin-sadarkan mereka yang sudah dicekoki pendapat tidak bertanggung jawab itu tidak mudah. Jauh lebih sulit memberikan obat pada anak-anak yang mesti diyakinkan dengan bujukan.

Maka pendapat Louis, itu langsung disambarnya dan dianggap pendapat yang benar, yang menguatkan keyakinannya yang sudah terbentuk sejak semula. Bahkan bisa jadi, kelompok ini tidak akan percaya bahwa Louis itu mengidap waham kebesaran, atau biasa disebut dengan megalomania. Atau bahkan ada yang menyebutnya mengidap psikosis akut.

Jika “pengikutnya” tidak mempercayai apa yang diidap Louis, itu pun tidak perlu menjadi heran. Jenis manusia yang mempercayai hal-hal absurd, itu memang tidak sedikit. Tentu tidak ada kaitan dengan tingkat pendidikan yang bersangkutan, tapi lebih kekeh untuk tidak sudi berubah pada pendapat kebanyakan yang masyhur. Jika kata satu ini dianggap tidak kasar, jenis manusia tadi pantaslah disebut bebal.

Disebut mengidap psikosis akut, tentu punya dasar yang melatarbelakangi pihak bersangkutan. Itu bisa dilihat dari pernyataan dan laku bersangkutan. Jejak digitalnya bisa dilihat dan lalu bisa diambil kesimpulan atasnya. Apalagi ada pernyataan dari sesama rekannya sesama almamater, bahwa Louis itu ODGJ. Menarik juga pernyataan dari dokter Mila Anasanti, “Louis ini kalau kita netral pun bisa melihat dari statusnya kalau yang bersangkutan ada kelainan,” cuitnya dalam Twitter.

Tambahnya, “Aneh sekali kenapa mereka tak percaya ilmuwan muslim dan ulama, tapi percaya orang yang STR-nya sudah expired, dan kakak kelasnya mengatakan bahwa ia terindikasi gangguan jiwa.”

Adalah paling awal dokter Tirta, yang “menghantam” dokter Louis, dan membocorkan bahwa dokter satu ini tidak terdaftar di IDI (Ikatan Dokter Indonesia), bahkan Surat Tanda Registrasi (STR) nya sudah mati sejak 2017. Artinya, ia tidak bisa berprofesi layaknya dokter, tidak bisa berpraktek.

IDI telah mengundang Louis, tapi jawabannya, bahwa IDI tidak penting dan waktunya itu sangat mahal. Ada kesombongan merasa paling pintar dibanding pihak lain, bahkan dibanding dengan epidemolog sekalipun. Sikapnya itu biasa disebut dengan megalomania, atau bahkan psikosis akut.

Itu semacam kondisi di mana penderitanya mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi. Delusi atau waham (megalomania), dan acap halu. Gejalanya tampak dari sikap-sikapnya itu. Dan mereka yang mempercayai waham kebesaran dan halu Louis, itu bukanlah orang bodoh, tapi lebih pada bebal sesungguhnya… Wallahu a’lam. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemotongan Hewan Qurban Saat Idul Adha 2021 Diperkirakan Turun
Tulisan selanjutnya Zionis ‘Israel’ Memperluas Zona Penangkapan Ikan Gaza, Memungkinkan Lebih Banyak Impor

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Berita
31 Agustus 2026 22:46
Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Terbaru

  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?