Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Problematika Umat Islam Ditinjau dalam Psikologi Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Agustus 2016 11:07 11:07 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Agustus 2016 12:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Syahri Ramadhan

 

SEORANG tokoh pendidikan, Ismail Raji Al-Faruqi mengatakan bahwa tendesi umat Islam mengimitasi begitu saja budaya Barat menjadikan umat Islam tercabut dari akar budaya dan ideologinya (Nashori, 2010).

Rupanya, sekarang apa yang dikatakan Al-Faruqi bisa jadi sudah terjadi di tengah-tengah umat Islam, misalnya mungkin diantara kita sering melihat, mendengar, atau menyaksikan melalui media massa tentang berbagai aksi kejahatan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok Muslim.

Kejahatan yang dilakukan tersebut bila ditelisik sangat bertentangan sekali dengan ajaran Islam. Lalu mengapa kejahatan tersebut mereka lakukan? Apakah karena mereka tidak tahu bahwa perbuatan tersebut dilarang di dalam Islam?

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Pertama-tama akan kita jawab pertanyaan yang kedua, bila mengingat dakwah Islam yang masif dilakukan oleh para da’i dan mubaligh, maka sedikit sekali kemungkinan ada umat Islam yang tidak mengetahui larangan-larangan dalam agamanya. Saat ini dakwah Islam dilancarkan melalui berbagai media massa baik cetak maupun online dengan beragam jenisnya.

Selain itu dakwah Islam juga disampaikan melalui mimbar-mimbar masjid melalui ceramah-ceramah, khutbah, tabligh akbar, dan berbagai jenis kegiatan dakwah lainnya yang langsung disaksikan oleh ratusan, bahkan ribuan umat Islam.

Selanjutnya, didukung oleh kegiatan dakwah yang dilakukan oleh setiap pribadi Muslim kepada keluarga, kerabat, dan masyarakat tempat tinggalnya, karena Islam mengajarkan setiap individu adalah muballigh, yang berkewajiban menyampaikan apapun dari Nabi Muhammad kepada umat Islam yang belum mengetahui sebagaimana yang ditekankan dalam hadis Nabi “sampaikanlah apapun dariku (sunahku) walaupun hanya satu ayat (sahih Al-Bukhari)”, dan di dalam Al-Qur’an Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (lihat surat Al-‘Ashr).

Menjawab pertanyaan yang pertama, dengan penjelasan sebelumya maka kita mengambil suatu kesimpulan bahwa setiap umat Islam sudah mengetahui larangan tentang berbuat kejahatan di dalam agamanya. Kalaupun ada diantara umat Islam ada yang belum mengetahui larangan berbuat kejahatan dalam Islam, itupun jumlahnya sangat sedikit sekali dibandingkan yang sudah mengetahui. Lalu, mengapa masih ada diantara umat Islam yang melakukan berbagai tindakan kejahatan seperti korupsi, suap-menyuap, kecurangan dalam jual beli, penipuan, pembunuhan, perzinahan, dan larangan-larangan lainnya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perhatikan nasehat Al-Faruqi di atas bahwa umat Islam yang mengimitasi budaya Barat begitu saja akan kehilangan tradisinya dan tercabut dari akar ideologisnya.

Tradisi umat Islam adalah apa-apa yang diwariskan melalui sunah (ajaran) Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, kemudian tradisi para sahabat, dan para salafus saleh (generasi terdahulu) yang mengikuti tradisi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Sedangkan akar ideologi umat Islam adalah Tauhid, yaitu ajaran tentang keyakinan ke-Esaan Allah Ta’ala dalam hal penyembahan kepadaNya, kekuasaanNya dalam mengatur alam semesta, dan terhadap sifat-sifatNya. Artinya Tauhid dan tradisi Nabi adalah fondasi utama bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Split Personality

Setiap Muslim berkewajiban menyesuaikan dan mengarahkan segala perilaku dan perasaannya kepada tauhid dan tradisi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam karena tauhid seharusnya menjadi pijakan bagi amalan lahir (perilaku) dan amalan batin (hati) setiap Muslim.

Apabila setiap Muslim dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tradisi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan bertauhid kepada Allah Ta’ala, maka tidak akan terjadi berbagai kejahatan dan kerusakan di tengah-tengah umat Islam. Kejahatan dan kerusakan terjadi apabila umat Islam menyelisihi tradisi Nabi saw dan nilai-nilai ajaran tauhid.

Akar penyelisihan ini adalah mengadopsi budaya dan ideologi-ideologi di luar Islam begitu saja tanpa diseleksi mana yang sesuai dan mana yang bertentangan dengan ideologi tauhid dan tradisi Islam. Akibatnya terjadilah split personality (kepribadian terpecah) pada pribadi umat Muslim.

Di satu sisi mereka rajin dalam melakukan ritual-ritual keagamaan, di sisi lain dalam perangai keseharian mereka menyelisihi nilai-nilai yang terkandung dalam ritual-ritual yang mereka lakukan. Seorang yang dikenal rajin beribadah –bahkan sudah melakukan ibadah haji—masih ada  yang melakukan praktik jual beli dengan kecurangan, atau melakukan tindakan korupsi, menyogok, dan sebagainya.

Hal demikian terjadi disebabkan adanya dualisme dalam kepribadian umat yang memakai standar ganda dalam keyakinan terhadap ajaran Islam. Dalam beribadah yang dipakai adalah aturan-aturan ritual Islam yang orisinil. Sementara di dalam berperilaku, berjual beli, berpolitik, dan berbisnis yang dipakai adalah standar aturan-aturan tradisi di luar Islam (Barat).

Supaya ada kesatuan pemahman umat dalam memahami dan meyakini ajaran Islam secara kaffah (totalitas) perlu ditingkatkan pengetahuan-pengetahuan tentang ajaran Islam yang benar, yang sesuai dengan tradisi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan nilai-nilai ajaran tauhid. Tujuannya agar umat memiliki keimanan dan kepahaman yang kuat, sehingga mampu mengantisipasi berbagai tradisi dan ideologi-ideologi di luar Islam yang membahayakan tradisi dan ideologi mereka.

Tujuan ini bisa dicapai dengan memobilisasi mesin dakwah Islam lebih kencang lagi, mengkader pada da’i dan muballigh dengan bekal pengetahuan tentang ajaran Islam yang kuat dan luas, melakukan dakwah yang menyentuh berbagai kalangan mulai dari pejabat negara hingga rakyat biasa, dari orang kaya hingga orang miskin, dari ilmuwan hingga orang awam. Wallahu A’lam.*

Penulis Magister Studi Islam dalam bidang Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kepribadian terpecahpsikologi Islamsplit personalityumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Majelis Agama Konghucu Tanjungbalai Audiensi ke DPRD Sesalkan Tindakan Meliana
Tulisan selanjutnya Guru Cubit Siswa Divonis 3 Bulan, Pengamat: Ini Preseden Buruk Dunia Pendidikan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Berita
4 Juni 2026 09:00
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?