Hidayatullah.com– Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan KH Muhammad Kasim Pallanju mengapresiasi program pelatihan dai mandiri yang digagas oleh Yayasan Dai Mandiri.
Yayasan tersebut bekerja sama dengan Baitul Maal Hidayatullah dan didukung DPW Hidayatullah Kalimantan Timur menggelar acara wisuda dan penugasan dai ke berbagai daerah yang digelar di Rendezvous SIT Luqman Al Hakim Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 24 Sya’ban 1440H (30/04/2019).
Hadir sejumlah tokoh dalam acara tersebut di antaranya Ketua MUI Kota Balikpapan KH Muhammad Kasim Pallanju, Direktur Yayasan Da’i Mandiri Abu Ahmad Lc, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) H Muhammad Tang beserta jajaran, Direktur SIT Luqman Al Hakim, Muzakkir Usman Asyari, Direktur BMH Kaltim Muhammad Mundzir, staf pengajar dan ratusan undangan.
Direktur Yayasan Da’i Mandiri Abu Ahmad, dalam sambutannya, mengatakan program pelatihan dai mandiri merupakan program life skill training yang berdurasi short cut, hanya berjalan sekitar 10 bulan setiap angkatannya.
“Peserta pelatihan berasal dari beberapa kota, bukan hanya dari Balikpapan atau Kalimantan Timur. Ada yang berasal dari Palu (Sulteng), Makassar (Sulsel) hingga Semarang (Jateng),” kata Abu Ahmad.
Abu Ahmad mengatakan, program pelatihan ini tidak menetapkan syarat-syarat yang berat untuk menjadi peserta. Di antara peserta, lanjur dia, bahkan ada yang belum mampu membaca Al-Qur’an di hari pertama menjadi peserta pelatihan.
“Namun, dengan bimbingan yang intensif dari tim pengajar, peserta tersebut -Alhamdulillah- dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dalam beberapa pekan saja,” ungkap Abu Ahmad.
Dia menyebutkan, di antara kompetensi yang diajarkan dalam program ini adalah pengurusan jenazah, bekam dan thibbun nabawi, imam shalat rawatib, pengelolaan taman pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan lain sebagainya yang setalian dengan kecakapan dai di lapangan.
Sementara itu, Muhammad Tang, mengungkapkan rasa bahagianya atas dilakukannya sukses program dan penugasan dai yang dilakukan tersebut.
“Harapan umat untuk mendapatkan pencerahan keagamaan sangat besar bahkan cenderung komposisi antara demand dan supply dari harakah dakwah tidak berbanding,” imbuh Tang.
Hidayatullah sebagai organisasi dakwah dan tarbiyah, menurut Tang, terus menerus memikirkan agar gerakan dakwah ini mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat bahkan hingga ke pelosok sebagai konsekwensi dari mainstream ormas itu, yaitu dakwah dan tarbiyah.
Doktor Pendidikan lulusan UIN Antasari Banjarmasin ini menegaskan, pelatihan dan program pendidikan dai ini adalah wujud dari rasa tanggung jawab keumatan serta ekspresi kesyukuran serta terima kasih ormas terhadap umat Islam atas dukungan umat Islam terhadap gerakan dakwah dan tarbiyah, secara khusus di Kalimantan Timur.
“Sebagai seorang dai, harus memiliki karakter yang bijaksana dan santun terutama bila berhadapan dengan pihak yang berseberangan dengannya,” kata ulama berusia 81 tahun berasal dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini.
Ketua MUI Balikpapan mengatakan, dai harus memberi ketauladanan karena para dai harus berada di garda terdepan dalam praktik-praktik keagamaan. Apalagi secara faktual, masih banyak praktik keagamaan di Kalimantan Timur yang belum sejalan dengan prinsip agama yang benar.
“Sebagai seorang dai, wajib menjadikan sifat-sifat kenabian sebagai panduan dan barometer akhlaknya. Menjadi seorang dai harus mampu menjaga muru’ah diri terutama dari godaan-godaan dunia, semisal harta, kekuasaan hingga wanita,” pesan Kiai Pallanju.
Di antara uraian sambutannya, ia menasihatkan agar para dai muda ini pandai-pandai dalam mencari pasangan hidupnya.
“Prinsip iman sebagai syarat utama menjadi suami/istri adalah syarat yang tidak boleh diremehkan karena gerak dakwah ini tidak boleh terganggu oleh pasangan hidup yang tidak mengerti resiko bergelut dengan dakwah secara totalitas,” pungkasnya.* Kiriman Anchal