Hidayatullah.com- Secara politis Iran memiliki alasan mengapa mereka minta agar jenazah dalam tragedi Mina itu dipulagkan ke Iran. Dan sikap itu juga didasari oleh orang-orang Syiah yang memiliki tradisi tersendiri tentang tata cara pemakaman jenazah. Namun meniru Iran adalah sebuah kekeliruan.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU yang juga Ketua Komisi Pemantau Haji Indonesia (KPHI) Slamet Effendy Yusuf menanggapi usulan anggota DPR agar pemerintah Indonesia meniru langkah Iran memulangkan jenazah haji yang menjadi korban dalam tragedi Mina di tanah suci.
“Saya tidak setuju kita meniru Iran, bukan semata-mata karena soal politik tetapi ada alasan yang syar’i,” ujar Slamet di Jeddah saat dihubungi awak hidayatullah.com melalui sambungan telepon, Selasa (06/10/2015).
Menurut Slamet, dalam syariat Islam jenazah harus segera dimakamkan. Sementara, lanjutnya, jenazah tersebut meninggalnya sudah lama seperti ada jenazah yang ditemukan setelah sepuluh hari. Jadi, secara syar’i justru itu jenazah seperti itu harus segera dimakamkan bukan dipulangkan.
“Kedua, terlalu banyak kesulitan untuk memulangkan jenazah ke masing-masing negaranya, seperti soal biaya, transportasi pulang-pergi, pengurus dengan pemerintah negara jenazah tinggal dan sebagainya,” tuturnya.
Lebih penting lagi, Slamet menambahkan adalah tradisi daripada umat Islam Indonesia sejak dulu yaitu justru ingin meninggal dan dimakamkan di tanah suci. Jadi, tuturnya, dahulu pernah ada seorang ulama besar dari Indonesia yang setiap tahun berangkat haji tetapi niatnya bukan hanya semata-mata berhaji melainkan ingin meninggal di tanah suci.
“Nah, akhirnya keinginan ulama itu benar-benar terwujud. Beliau wafat dan dimakamkan di tanah suci,” imbuhnya.
Slamet menambahkan bahwa Indonesia punya tokoh-tokoh besar yang wafat di tanah suci, dan jenazahnya tidak dipulangkan ke Indonesia supaya bisa dimakamkan di tanah suci, seperti H. Muhammad Subhan, ZE. Waktu itu beliau menjabat sebagai wakil ketua MPRS dan salah satu ketua PBNU, beliau mengalami kecelakaan hingga meninggal dan dimakamkan di sana.
“Dan banyak ulama Indonesia lainnya yang meninggal lalu dimakamkan di tanah suci, dan tidak dibawa pulang ke Indonesia,” tuturnya.
Jadi, Slamet menegaskan bahwa usulan anggota DPR supaya pemerintah Indonesia meniru langkah Iran memulangkan jenazah haji yang menjadi korban dalam tragedi Mina di tanah suci itu merupakan ide yang ngawur (keliru,red).*