Hidayatullah.com–Sebuah masjid warisan abad ke-19 di Distrik Al-Zahidah, Madinah, yang menjadi bahan perselisihan, akhirnya dihancurkan dan akan dibangun kembali 200 meter dari lokasi awal. Demikian dilaporkan oleh surat kabar Al-Madinah.
Masjid Al-Katibiyyah dibangun oleh Syarif Muhammad bin Ali Al-Sanusi Al-Kabir sekitar tahun 1834. Setelah diperdebatkan dalam musyawarah selama bertahun-tahun, akhirnya masjid ini dihancurkan. Masjid tersebut diperkirakan berdiri di atas atau dekat makam salah satu sahabat Rasululullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rafi bin Malik Al-Zurqi, ra.
Pada bulan Mei 2006, bersama dengan bangunan-bangunan tua lain yang mengarah ke Masjid Quba, masjid tersebut ditandai untuk dihancurkan, sebagai bagian dari proyek regenerasi di wilayah pusat sekitar Masjid Nabawi. Namun, penduduk setempat memprotes dan meminta agar Gubernur Madinah Pangeran Abdul Aziz bin Majid menyelidiki masalah tersebut, serta menunda keputusan penghancuran. Sebuah komite dibentuk untuk menanganinya.
Direktur Urusan Islam dan Wakaf di Madinah Muhammad Al-Khatri mengatakan, komite tidak menemukan bukti yang meyakinkan bahwa Rafi bin Malik Al-Zurqi, ra. benar-benar dimakamkan di tempat tersebut.
Sementara itu Anwar Al-Bakri, mantan profesor sejarah di Universitas Taibah dan anggota dewan kota setempat menyatakan bahwa dirinya memiliki buku-buku dan dokumen yang menyatakan, ada seorang sahabat Nabi yang dikubur di sana, di samping masjid.
“Namun demikian, penggalian yang dilakukan oleh komite tidak menemukan tanda-tanda keberadaan jasadnya,” imbuh Al-Khatri.
Referensi yang menyebut tentang masjid tersebut adalah sebuah surat yang ditulis oleh Ali bin Musa pada tahun 1885, yang menggambarkan tentang tempat-tempat bersejarah di Madinah.
Tidak semua orang yakin bahwa sahabat yang dimaksud dimakamkan di Masjid Al-Khatibiyyah. Sebagian orang mengatakan, beliau dikubur di bagian utara masjid. Sementara lainnya mengatakan, makamnya terletak di bagian lain kota, sambil mengutip dokumen-dokumen sejarah.
Kelompok lainnya ingin agar masjid tidak dihancurkan dengan alasan bangunan itu adalah rumah Allah, meskipun mereka tidak yakin ada makam seorang sahabat Nabi di sana. Mereka mengatakan, masyarakat setempat membutuhkan masjid tersebut untuk ibadah, di samping bangunannya sendiri memiliki nilai historis arsitektural Islam abad ke-19.
Ra’fi bin Malik Al-Ansari Al-Khazraji Al-Zurqi, ra. berjuang bersama Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Badar dan syahid dalam Perang Uhud di tahun ketiga Hijriyah (625 M). Beliau berasal dari suku Zuraiq yang tempat tinggalnya meliputi wilayah dari Bab Al-Anbariyyah hingga Masjid Nabawi.
Sahabat Rafi beriman di masa awal Islam, dan ia termasuk sahabat yang pertama kali disambut oleh Rasulullah ketika berhijrah dari Mekah ke Madinah. [di/an/hidayatullah.com]