Hidayatullah.com–Bagi siapa saja yang percaya bahwa Amerika Serikat akan benar-benar angkat kaki dari Afghanistan tahun 2011, harus melihat apa yang dibangun negara Paman Sam di Bagram. Maka pasti pendapat mereka akan segera berubah.
Spencer Ackerman, wartawan yang meliput aktivitas pasukan AS di Afghanistan menceritakan perjalanannya melihat pangkalan udara milik AS di Bagram baru-baru ini.
“Keluar dari pesawat kargo C-17, sebagaimana yang saya lakukan pagi-pagi buta di hari Jumat, akan terlihat lintasan terbang dipenuhi dengan pesawat. Ketika saya berkunjung ke sini dua tahun lalu, helikopter memenuhi landasan pacu, dan pesawat bersayap tetap–meskipun jarang–masih bisa terlihat. Sekarang, Anda akan melihat sejumlah C-17, Predator, F-16, F-15, pesawat penumpang MC-12 …. Saya tidak melihat ada pesawat kargo C-130, tapi pasti ada di satu tempat di sana,” tulis Ackerman dalam artikelnya di Wired (9/8/21010).
Yang juga kelihatan mencolok, selain dari landasan pacu yang dipenuhi dengan pesawat, adalah jalan utama yang mengelilingi pangkalan militer seluas 8 mil persegi itu. Biasanya jalan itu dipenuhi dengan pejalan kaki yang mengenakan seragam dengan ikat pinggang kinclong keluar dari bangunan-bangunan asrama sambil membawa kotak terbuat dari styrofoam. Dan pemandangan itu masih ada hingga saat ini.
Bedanya sekarang, di sebelah barat jalan utama yang luas itu terdapat tempat parkir dua lajur yang diperuntukkan kendaraan Humvee, truk-truk besar dari Pakistan yang dikenal dengan jingle truck, van-van kuning milik ekspedisi DHL, kendaraan kontraktor, dan truk flatbed.
Terlihat pula bangunan-bangunan baru, yang semennya buatan pabrik Turki, Yukcel. Ada kerangka hangar yang masih baru, menara baru dengan particleboard di terasnya, dan terlihat sebuah skyline crane, derek yang biasa dipakai untuk membangun bangunan besar dan tinggi. Tampak pula spanduk yang menunjukkan sedang ada proyek digarap oleh kontraktor besar Inglett and Stubbs International.
“Saya belum mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk semua itu, namun Bagram mulai kelihatan seperti sebuah daerah perbatasan (antara desa dan kota) yang sedang berkembang, tapi belum tampak rumah-rumah pemukiman bermunculan,” Ackerman menggambarkan perkembangan pesat di Bagram.
Sore hari ketika Ackerman berkeliling di Bagram, terlihat pula kemacetan di sebelah selatan pangkalan. Sebuah pemandangan yang tidak mungkin terjadi di tahun 2008.
Mungkin perubahan yang paling terlihat mencolok adalah dinding-dinding beton berbentuk T yang menjadi pagar pangkalan di sebelah selatan dan utara. Dinding tersebut sepertinya sengaja dibangun sebagai penangkis serangan granat atau roket granat buatan para gerilyawan, yang seringkali tidak tepat sasaran dan hanya berdaya ledak kecil. Granat dan roket itu lebih sering membuat jengkel, daripada membunuh targetnya.
Peninggalan dari wajah Bagram yang lama bisa dilihat di sisi timur pangkalan. Pagarnya masih menggunakan kawat ayam yang di atasnya diberi kawat berduri. Hanya saja bagian yang sensitif lebih diperkuat.
Tentu saja pembangunan yang dilakukan Amerika Serikat di Bagram itu membuat rakyat Afghanistan di sekitarnya marah. Para prajurit yang berbagi cerita kepada Ackerman mengatakan, bocah-bocah penggembala yang marah seringkali mengganggu perjalanan mereka ketika berkeliling di luar pangkalan. Seringkali mereka mengetapel pasukan Amerika dengan batu. Mungkin bocah-bocah itu berharap bisa membunuh tentara AS dengan ketapelnya. Pemandangan seperti itu tidak dijumpai Ackerman dua tahun lalu.
Dua tahun lalu, ada sekitar 18.000 tentara Amerika Serikat yang tinggal di sana, sekarang jumlahnya sekitar 30.000. Rasanya mustahil jika Amerika benar-benar mau meninggalkan pangkalan udaranya yang super besar di Bagram itu tahun depan. [di/wrd/hidayatullah.com]