Hidayatullah.com—Para mahasiswa Indonesia di Mesir rupanya mulai merasakan sikap kurang bersahabat beberapa warga Mesir. Kondisi ini rupanya semakin membawa suasana mencekam bagi bagi WNI di tempat itu.
Haqqy Mahfudz (24), mahasiswa asal Bangil, Pasuruan, yang kini kuliah di Al Azhar mengatakan, di beberapa tempat dilaporkan juga masih banyak sweeping terhadap warga asing.
“Selain masih sering kena sweeping, warga negara Mesir semakin tidak bersahabat dengan kita, “ ujarnya kepada hidayatullah.com, Selasa sore waktu Mesir.
Bahkan menurutnya, pengurus asrama bu’us, asrama para mahasiswa dari seluruh penjuru dunia yang belajar di lembaga pendidikan Al-Azhar sudah ada yang mengusir anggota.
Menurut Haqqy, sikap tak ramah beberapa kalangan warga Mesir itu akibat lontaran anggota DPR RI, Anis Matta yang dikutip radio lokal Kairo.
“Orang asrama bu’us aja udah pada ngusirin anggota nya kok, “ ujar Haggy.
Kekerasan
Sementara itu, seorang mahasiswa Al-Azhar bernama Adi Zuta Sutantovic dalam group Facebook “MENDESAK EVAKUASI TOTAL MASISIR”, Selasa (8/2) melaporkan, beberapa WNI sudah mulai mendapatkan kekerasan fisik dan teror.
Dalam tulisannya, Adi Zuta melaporkan, pada hari Selasa, 7 Februari ada 4 kejadian memilukan yang dialami para mahasiswa asal Indonesia.
Pertama, Minan, seorang mahasiswa asal Pekalongan (masuk kloter ke 4), dikabarkan telah ditendang dengan keras tanpa sebab oleh pemuda Mesir.
Mereka berteriak-teriak mengatakan, “cepat pergi dari negara kami” dan teriakan itu masih diulang-ulang meski Minan sudah menyeberang jalan.
Kedua, Rahmat Fadli, mahasiswa asal Riau. Ia dilaporkan di todong pistol oleh sopir taksi. Tak hanya itu, dia digeledah dan diambil uangnya.
Ketiga, dalam sebuah kejadian di angkot, ibu-ibu Mesir dan seseorang telah mengintimidasi mahasiswa (salah satu admin dan beberapa kawan mahasiswa) dengan obrolan bahwasanya orang asing ikut membantu revolusi dan menyuruh para WNI segera keluar Mesir,
Keempat, Ahmad Saukan, seorang mahasiswa asal Madura, dilaporkan dibentak-bentak pengurus asrama bu’us dan menyuruh pulang (meninggalkan Mesir).
“Padahal selama ini, pengurus asrama bu’us selalu ramah,” tulis Adi Zuta.
“Tak hanya itu, dilaporkan masih banyak kasus-kasus yang mengindikasikan bahwa kehadiran orang asing sudah tidak diinginkan lagi di sini. ini mengisaratkan bahwasanya orang asing dalam bahaya dan akan terjadi sesuatu yang besar dan di luar prediksi oknum-oknum yang mengatakan mesir aman, “ tambah Zuta.*