Hidayatullah.com—Wakil presiden partai Islam Tunisia yang berkuasa An-Nahda, Abdulfattah Mourou, menyeru agar pimpinan partainya Rachid Gannouchi (Rasyid al-Ghannusyi) mundur.
Dilansir Al-Arabiya, dalam wawancaranya dengan mingguan Prancis Marianne terbitan hari Jumat (16/2/2013), Mourou berkata bahwa Ganouchi telah membawa Tunisa menuju “kehancuran”.
Mourou mengatakan, dia adalah salah satu orang yang menasehati Perdana Menteri Jibali agar membentuk kebinet teknokrat guna “menyelamatkan negara,” seraya menambahkan bahwa dirinya anggota tim penasehat perdana menteri.
Jibali sedang mencari dukungan politik atas rencana membentuk kabinet teknokrat dan menggusur tokoh partai Islam dari sejumlah pos menteri, menyusul pembunuhan tokoh oposisi sayap kiri pekan lalu yang menimbulkan kekacauan di dalam negeri.
Namun, rencana Jibali itu mendapatkan tentangan dari An-Nahda, yang dituding sebagian pihak bersalah atas pembunuhan Syukri (Chokri) Belaid, yang dikenal sebagai pengkritik keras pemerintah.
Jibali memperingatkan akan terjadinya kekacauan jika dirinya tidak juga membentuk pemerintahan baru sampai pertengahan pekan dan mengancam akan mengundurkan diri jika susunan kabinetnya tidak direstui parlemen yang dikuasai An-Nahda.
Mourou menuding Ghannusyi mengubah Partai An-Nahda menjadi “urusan keluarga.”
“(Partai) itu dipimpin oleh orang-orang yang tidak terbuka terhadap realitas dan moderitas. Ini bencana,” imbuhnya.
An-Nahda berencana menggelar demonstrasi besar-besaran di Tunis pada hari Sabtu ini, guna membela haknya untuk mengatur negara sebagai hasil kemenangan dari pemilihan umum Oktober 2011, dan untuk menyudutkan Jibali yang sebelumnya terlibat perseteruan dengan sejumlah pengurus partai itu.
An-Nahda dulu merupakan gerakan bernama Harakah An-Nahda, yang sebelumnya bernama Harakah al-Ittijah al-Islam yang dibentuk dengan latar belakang pemikiran tokoh Al-Ikhwan al-Muslimun Sayyid Qutb dan juga Abul A’la Maududi. Organisasi ini seperti halnya organisasi dan pergerakan Islam lain mendapat tekanan selama Tunisia dikuasai oleh rezim Ben Ali.*