Hidayatullah.com—Pemimpin spiritual berpengaruh bagi komunitas Yahudi Sephardi di Israel dan partai ultra-Orthodoks Shas, telah meninggal dunia di sebuah rumah sakit di kota Al-Quds (Yerusalem), kata seorang jurubicara.
Rabi Ovadia Yosef meninggal dalam usia 93 tahun. Pada tanggal 23 September menjalani operasi jantung di Rumah Sakit Hadassah di Al-Quds, di mana sejak itu dia dirawat di sana. Baru beberapa hari lalu para dokter yang merawatnya mengatakan bahwa kondisi Yosef mulai membaik.
Namun, pada hari Ahad malam pihak rumah sakit mengatakan kondisinya tiba-tiba memburuk, dan para dokter mengkonfirmasi kondisinya kritis pada hari Senin ini.
“Setelah perjuangan panjang, rabi baru saja meninggal,” kata jurubicara rumah sakit kepda radio publik Israel hari Senin (7/10/2013), kutip Aljazeera.
Ovadia Yosef, yang putranya Yitzhak Yosef terpilih menjadi pimpinan rabi Yahudi Sephardi Israel pada bulan Juni lalu menggantikan dirinya, selama beberapa bulan terakhir keluar-masuk rumah sakit.
Menurut laporan New York Times, pengumuman kematian Yosef disampaikan oleh Avigdor Kaplan, direktur Hadassah Medical Center di Ein Kerem, Yerusalem. Yosef dirawat oleh dokter ahli jantung Prof Dan Gilon.
Yosef berperan dalam pendirian Partai Shas di awal tahun 1980an. Dia dianggap berjasa mengembalikan kepercayaan diri orang-orang Yahudi non-Eropa di Israel, dan mengubah mereka menjadi kekuatan politik yang potensial. Dibawah kepemimpinannya, Partai Shas selalu menjadi anggota kunci koalisi pemerintah. Para politisi dan tokoh Yahudi Israel berbondong-bondong mendatanginya untuk meminta restu dan dukungan. Yosef kerap menyebut pengikutnya sebagai “generasi yang paling hebat.”
Setelah Intifadah Kedua, Yosef menuding Palestina tidak punya niat yang tulus untuk melakukan perundingan perdamaian. Ovadia Yosef menentang pembicaraan damai langsung antara Israel dan Palestina.
Tahun 2001 dalam salah satu pidatonya, Ovadia Yosef mengatakan, “Kalian harus mengirimkan misil-misil kepada mereka dan memusnahkan mereka [Palestina].”
Di bulan Agustus 2010 Radio Tentara Israel menyampaikan ucapan Yosef yang mengatakan, Presiden Palestina Mahmud Abbas “dan semua orang-orang jahat ini harus dienyahkan dari dunia ini … Tuhan harus menghajar mereka dengan bencana –mereka dan orang-orang Palestina ini.”
Ketika Ariel Sharon memaksakan kehendaknya menarik mundur seluruh Yahudi dari Jalur Gaza pada tahun 2005, Ovadia Yosef berkata, “Tuhan akan menghajarnya dengan satu pukulan dan dia akan mati, dia akan tidur dan tidak akan bangun.” Awal Januari 2006, Sharon yang ketika itu mendapat tekanan politik terkait kasus korupsi putra-putranya, terkena stroke yang mengakibatkannya koma hingga saat ini. Hanya 24 jam sebelum stroke, polisi mengumumkan menemukan barang bukti US$3 juta yang merupakan uang suap yang diterima putra-putranya.
Ovadia Yosef dilahirkan pada 23 September 1920 di Baghdad, Iraq, dari pasangan Yaakov Ben Ovadia dan Gorgia. Yosef baru berusia 4 tahun ketika keluarganya pindah dari Iraq menuju Al-Quds, Palestina, di mana ayahnya menjalankan usaha sebuah toko kecil. Pada usia 20 tahun dia ditahbis menjadi rabi Yahudi dan bekerja sebagai hakim di pengadilan agama. Usia 24 tahun dia menikah dengan Margalit Fattal, seorang putri dari seorang rabi yang disengani keturunan Yahudi Suriah. Keduanya memiliki 11 anak.
Tahun 1947 Yosef pindah ke Kairo, di mana dia menjadi hakim pengadilan agama Yahudi dan memimpin sebuah yeshiva (semacam seminari tempat belajar kitab agama Yahudi). Ketika negara Yahudi Israel telah dideklarasikan pada tahun 1950 dia kembali ke Tel Aviv. Tahun 1973 dia diangkat menjadi pemimpin para rabi Yahudi Sephardi, bersama koleganya Shlomo Goren yang memimpin Yahudi Ashkenazi (Yahudi Eropa) selama berpuluh tahun.*