Hidayatullah.com–Partai pemerintah saat ini secara resmi mencalonkan Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoglu untuk menggantikan Recep Tayyip Erdogan sebagai perdana menteri sekaligus ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).
Pengurus pusat AKP dalam pertemuan tiga jam yang dipimpin Erdogan di markas besar partai memutuskan mencalonkan Davutoglu sebagai ketua partai yang akan dipilih saat kongres luar biasa di Ankara 27 Agustus mendatang.
“Calon kami adalah menteri luar negeri kita, deputi Konya kita, saudara kita Ahmet Davutoglu,” kata Erdogan di hadapan para menteri kabinet dan wartawan di kantor pusat AKP di Ankara Kamis (21/8/2014) dikutip Hurriyet.
Erdogan mengatakan bahwa Davutoglu dipilih melalui pertimbangan yang sangat hati-hati dan karena “determinasinya memerangi ‘negara paralel’.” Istilah negara paralel digunakan para pendukung AKP untuk menyebut kelompok pendukung Fetullah Gulen, tokoh Muslim Turki bekas sekutu politik AKP yang kini berseberangan.
“Kami telah berkonsultasi dengan siapa saja mulai dari orang di jalanan hingga pengurus tertinggi di partai kami,” kata Erdogan tentang pencalonan Davutoglu.
Banyak faktor mengapa pilihan Erdogan jatuh Davutoglu terlihat masuk akal. Salah satu yang paling penting adalah Davutoglu diyakini bisa akan bisa berkerjasama secara harmonis sebagai perdana menteri dengan Erdogan sebagai presiden. Loyalitas Davutoglu kepada Erdogan sudah teruji, seperti yang terlihat ketika tudingan korupsi mendera Erdogan dan orang-orang dekatnya, serta dalam menghadapi kelompok ‘negara paralel’. Davutoglu juga berperan penting dalam kampanye pemilihan presiden kemarin untuk mendukung Erdogan menghadapi pesaingnya, mantan sekretaris jenderal OKI Ekmeleddin Ihsanoglu. Pemikiran Davutoglu soal kebijakan luar negeri juga selama ini terlihat seiring sejalan dengan kebijakan Erdogan.
Pendukung terkuat pencalonan Davutoglu sebagai perdana menteri dan ketua AKP termasuk Yalcin Akdogan, pemimpin kelompok politisi muda AKP yang juga penasihat dan orang dekat Erdogan.
Pencalonan Davutoglu tersebut bisa dipandang sebagai akhir dari perebutan kekuasaan di lingkungan partai antara kelompok muda dan kelompok tua di AKP, yang sebelumnya sempat memanas.*