Hidayatullah.com–Pasukan khusus Iran merekrut ribuan warga Afghanistan, sebagian di antaranya dengan paksa, untuk berperang di Suriah bersama pasukan Presiden Bashar al-Assad, kata lembaga pemantau hak asasi manusia, Human Right Watch (HRW), pada Jumat (29/01/2016) dikutip Antara.
“Iran tidak hanya memberikan insentif kepada pengungsi dan perantau Afghanistan. Beberapa mengaku mendapatkan ancaman pemulangan ke negaranya,” katanya, seperti dilaporkan AFP.
“Dalam menghadapi pilihan sulit itu, beberapa pria Afghanistan tersebut kemudian lari dari Iran menuju Eropa,” kata Bouckaert.
Iran adalah sekutu utama Bashar dan sering mengirim bantuan keuangan dan militer untuk mendukung pemerintah di Suriah tersebut.
Teheran mengatakan bahwa warga Afghanistan –yang bergabung dalam Brigade Fatemiyoun— itu adalah relawan, yang ingin melindungi tempat suci Syiah di Suriah dan Iraq, yang terancam hancur oleh kelompok ISIS.
Namun demikian, sejumlah laporan menyatakan bahwa warga Afghanistan itu ditawari suaka dan juga gaji bulanan untuk bertempur bersama Iran.
Dari pihak Iran, negara tersebut membantah telah mengirim pasukan darat dan bersikeras bahwa para jenderal yang berada di Suriah dan Irak hanya bertindak sebagai penasihat militer.
Tetapi, acara penguburan sering kali digelar di beberapa tempat bagi “para relawan” dari Iran, Afghanistan, dan Pakistan. [Baca: 400 Milisi Syiah Iran Tewas di Perang Suriah Bantu Rezim Assad]
Iran sejauh ini telah menampung sekitar tiga juta migran dari Afghanistan yang sebagian besar di antaranya melarikan diri.
Dari tiga juta orang tersebut, hanya 950.000 yang memperoleh status pengungsi dan sisanya dinilai tidak layak mendapatkan suaka.
HRW mengaku mewawancarai 20-an warga Afghanistan, yang mengaku direkrut atau dipaksa Iran untuk bertempur di Suriah.
Enam orang di antara mengatakan bahwa Iran menggelar pelatihan bagi mereka –atau keluarga mereka– di sejumlah kamp militer dekat Teheran dan Shiraz pada 2015 lalu.
Dua dari enam orang itu bergabung dengan suka rela. Sementara sisanya mengaku dipaksa –atau keluarganya dipaksa– untuk bertempur.
Mereka bertempur di beberapa daerah Suriah, termasuk di antaranya Damaskus, Aleppo, Homs, Deir Ezzor, Hama, Latakia, dan juga daratan tinggi Golan.
Sebelum ini, Phillip Smyth, peneliti di Washington Institute for Near East Policy, mengatakan pada jurnal The Washington Institute, selama perang berkecamuk, terdapat 10.000 orang Iraq serta sekitar lima sampai tujuh ribu tentara Hizbullah yang masuk ke Suriah.* [Baca: Lima Milisi Asing Syiah Yang Ikut Bertempur di Suriah [1]]