Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Suu Kyi Bukan Pahlawan Rohingya [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Juli 2016 08:22 8:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Juli 2016 08:22
Bagikan
Peraih Nobel asal Myanmar (Burma) Aung San Suu Kyi
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Heru Susetyo

 

Suu Kyi Bukan Pahlawan Rohingya

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Pertanyaan kemudian,  bagaimana dengan nasib etnis Rohingya di era Daw Aung San Suu Kyi dibandingkan dengan semasa di bawah pemerintahan junta militer sejak 1962?

Harapan yang membuncah dari etnis Rohingya terhadap Suu Kyi adalah harapan yang wajar.  Walaupun Suu Kyi berasal dari etnis mayoritas Burma, namun ia adalah simbol perjuangan dan kegetiran Myanmar di bawah junta militer.  Ia mengerti betul tentang apa itu penderitaan.  Sejak ayahnya dibunuh ketika ia berusia dua tahun. Lalu ia menjadi tahanan rumah selama 21 tahun, dicekal tak boleh ke luar negeri.  Kalaupun ke luar negeri juga tak boleh kembali masuk ke Myanmar.Larangan mana membuatnya tak dapat merawat dan mendampingi suaminya, Dr.Michael Aris yang wafat karena kanker prostat di Oxford pada 27 Maret 1999.

Lebih dari itu,  Suu Kyi adalah pejuang pro demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) Myanmar.  Yang memimpin rakyat sipil Myanmar dari pelbagai etnis, bahasa, ras, dan golongan sosial untuk lepas dari jerat junta militer menuju demokrasi.Dimana kedaulatan rakyat dan hukum adalah menjadi panglima.

Sayangnya,  harapan etnis Rohingya terhadap Suu Kyi adalah seperti pungguk merindukan bulan.  Kenyataannya,  Suu Kyi memilih sikap diam ketika berhadapan dengan isu Rohingya.  Fenomena ini ditangkap Harian the Guardian edisi 19 Mei 2015  yang mengangkat judul “Why is Aung San Suu Kyi silent on the plight of the Rohingya people? :

Artikel di The Guardian tersebut  mengungkap kondisi dilematis seorang Aung San Suu Kyi.  Sekaligus mempertanyakan sikap diam-nya yang tentunya tak  beralasan,  Apalagi ia seorang peraih Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991. Bagaimana bisa seorang peraih Nobel Perdamaian dan pejuang HAM bersikap diam terhadap penindasan etnis minoritas yang terjadi di pelataran rumahnya sendiri?The Guardian menduga bahwa sikap diam Suu Kyi adalah karena khawatir, apabila dia memberikan pernyataan, akan memicu gejolak di antara mayoritas Buddhist dan etnis Rohingya. Apalagi Myanmar sedang mengalami transisi demokrasi dimana ia mesti bermain cantik di antara membela nasionalisme mayoritas Burma dan Buddhist sekaligus menjaga kepentingan etnis minoritas di Myanmar yang sama-sama menjadi bagian dari warga negara Myanmar.

Tidak hanya bersikap pasif terhadap etnis Rohingya,  Aung San Suu Kyi ternyata juga tidak menyukai istilah ‘Rohingya’. Sebelum menyampaikan pada UN Special Rapporteur, Suu Kyi telah menyampaikan hal yang samakepada Duta Besar AS di Myanmar, Scot Marciel.   Harian New York Times edisi 7 Mei 2016 dalam artikel berjudul ‘Aung San Suu Kyi Asks US Not to Refer to “Rohingya” menuliskan : Daw Aung San Suu Kyi, the leader of Myanmar’s first democratically elected government since 1962, embraced that view last week when she advised the United States ambassador against using the term “Rohingya” to describe the persecuted Muslim population that has lived in Myanmar for generations. Her government, like the previous military-led one, will not call the Rohingya people by that name because it does not recognize them as citizens, said her spokesman, U Kyaw Zay Ya, a Foreign Ministry official.

Lebih dari itu, sikap diskriminatif Suu Kyi nampak ketika ia pernah marah ketika diwawancarai Mishal Husain,  seorang  wartawan muslim keturunan Pakistan. Insiden ini terjadi ketika Suu Kyi ditanya soal kekerasan terhadap warga minoritas muslim Rohingya oleh televisi Inggris BBC.Begitu kesalnya, Suu Kyi dengan hasil wawancara itu hingga dia sempat terdengar menggerutu di saat off-air.“Tidak ada yang memberitahu saya, saya akan diwawancara oleh seorang muslim,” ucap Suu Kyi (Hidayatullah.com, 27/3/ 2016)

Sayangnya, Suu Kyi lupa, bahwa etnis Rohingya adalah juga bagian dari negeri Myanmar.  Kendati UU Kewarganegaraan Burma tahun 1982 mengecualikan Rohingya sebagai salah satu etnis yang eksis di Myanmar, namun secara historis, sosial dan budaya, eksistensi Rohingya di Myanmar (Arakan State) adalah kenyataan sosial yang tak terbantahkan.

Maka, harapan etnis minoritas Rohingya terhadap Aung San Suu Kyi, bahwa ia akan memperjuangkan eksistensi dan hak asasi Rohingya sebagai warganegara Myanmar adalah masih jauh panggang daripada api.   Suu Kyi masih mengedepankan pemikiran politis untuk mengamankan pemerintahan dan kekuasaan partai-nya yang memegang kekuasaan di Myanmar sejak Maret 2016,  kekuasaan mana ditopang oleh mayoritas warga Burma-Buddhist, daripada memperhatikan apalagi membela kepentingan etnis minoritas Rohingya.  Jangankan membela Rohingya, istilah ‘Rohingya’-pun ia tak suka. Maka,  Ia-pun bersikap hyper sensitive terhadap pertanyaan-pertanyaan terkait Rohingya dan Muslim.  Sesuatu yang harusnya tak terjadi dari seorang figur pejuang demokrasi dan HAM, serta peraih Nobel Perdamaian  yang pernah sekian lama hidup menderita dalam kungkungan junta militer.   Rohingya kini masih dan terus akan menderita.  Sementara Suu Kyi sudah bebas dan bahkan kini berkuasa.  Semoga perjalanan waktu akan membukakan mata, pikiran dan hati Suu Kyi untuk Rohingya. Sehingga ia tak lagi menjadi Pahlawan Myanmar namun juga Pahlawan bagi Rohingya.*

Staf Pengajar Viktimologi & Hukum HAM Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Aung San Suu KyiburmaMuslim MyanmarmyanmarRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Harus Tingkatkan Pengawasan Vaksin
Tulisan selanjutnya Tokoh Syiah Muqtada Al-Sadr dan Pendukungnya Kembali Protes Korupsi Pemerintah Iraq

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?