Hidayatullah.com—Sejak 1990-an Jerman menggunakan pakar linguistik untuk memverifikasi asal negara yang diklaim pendatang asing. Sekarang negara itu ingin mengotomasi prosesnya dengan menggunakan teknologi yang biasa dipakai oleh perusahaan keuangan untuk memverifikasi orang di telepon.
Pihak berwenang Jerman berencana menggunakan perangkat lunak untuk menganalisa dialek dari para pencari suaka guna memverifikasi dari mana sesungguhnya mereka berasal, lapor koran nasional Die Welt seperti dilansir Deutsche Welle hari Jumat (17/3/2017).
Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF) rencananya akan memulai percobaan perangkat lunak itu dalam dua pekan dan memfungsikannya secara penuh di tahun 2018.
“Idenya adalah merekam contoh suara dari para pencari suaka untuk dilakukan analisa dialek secara otomatis,” kata Julian Detzel, dari digitasi strategi global dan manajemen program TI di BAMF kepada Die Welt.
Perangkat lunak itu, yang pada dasarnya sama seperti yang dipakai perusahaan perbankan, akan membantu petugas imigrasi memastikan dari mana pencari suaka itu berasal.
Sejak 1998 Jerman menggunakan pakar linguistik untuk memastikan klaim pencari suaka perihal daerah asalnya, misalnya dengan mengidentifikasi dialek dan perbedaan nama makanan.
Profesor Monika Schmid, pakar linguistik yang mempelajari erosi bahasa -khususnya di kalangan migran, mengatakan kepada Deutsche Welle bahwa analisa itu hasilnya bisa berbeda dari apa yang diharapkan.
“Mengidentifikasi asal daerah seseorang berdasarkan ucapan mereka adalah tugas yang sangat kompleks,” kata profesor dari Universitas Essex itu.
Seorang penganalisa harus memiliki latar belakang analisa linguistik yang solid dan mampu mencermati berbagai faktor yang sangat luas. Sebagai contoh, orang kecenderungannya akan mengadaptasi cara mereka berbicara dengan meniru pola lawan bicaranya, kata Schmid.
Pakar wanita itu mengaku tidak tahu bagaimana perangkat lunak itu akan bisa mengenali cengkak-cengkok kalimat yang diucapkan orang tertentu, sebab itu adalah gaya bicara yang sangat personal atau dia berbicara seperti itu karena dipicu melakukan demikian oleh si pewawancara atau penerjemahnya.
Sebuah tim penelitian yang dipimpin Schmid belum lama ini merilis hasil studi yang mana orang asli Jerman bertutur dalam bahasa Jerman dengan berbagai dialek. Semua sampel suara diambil dari petutur asli yang sudah tinggal di luar negeri selama sedikitnya lima tahun, tetapi kelompok yang diminta menganalisa suara-suara itu mengidentifikasi kebanyakan para petutur itu adalah orang asing dan bukan orang Jerman asli.
“Jadi baik manusia dan mesin sama-sama mudah melakukan kesalahan, tetapi manusia mungkin lebih mudah menyadari kekeliruan ini,” kata Schmid.
BAMF memiliki 45 pakar untuk 80 bahasa, lapor koran terkemuka Jerman Süddeutsche Zeitung pada 2016. Sepertiga analisa mereka berhasil dengan tepat mengkonfirmasi asal negara atau daerah pencari suaka ketika itu. Pada tahun 2015, terdapat 114 analisa semacam itu yang dilakukan oleh pihak berwenang.*