Hidayatullah.com–Pencabutan larangan bioskop setelah 35 tahun di Arab Saudi baru-baru menarik serangkaian reaksi dari warga Saudi.
Sementara beberapa percaya bahwa langkah tersebut akan menguntungkan ekonomi, yang lain melihatnya sebagai tanda lain untuk melanggar pengaruh barat terhadap kerajaan konservatif.
Dilansir dari Anadolu Agency, Sultan al-Bazighi, mantan kepala Asosiasi Seni dan Budaya Arab Saudi, menggambarkan keputusan tersebut sebagai “langkah positif”.
“Ini akan menciptakan lingkungan budaya yang segar, sekaligus membantu perekonomian dan mengurangi pengangguran,” katanya.
“Saya berharap industri bioskop baru akan menjadi bisnis besar di Arab Saudi,” tambahnya.
Meskipun bioskop telah dilarang selama 35 tahun terakhir, al-Bazighi mencatat, kebanyakan orang Saudi masih dapat menonton film-film terbaru secara online atau selama perjalanan ke luar negeri.
Akhir tahun lalu, Kementerian Kebudayaan Saudi mengumumkan rencana untuk mengizinkan bioskop beroperasi di kerajaan kaya minyak ini pada bulan Maret tahun ini dengan syarat ketat.
Meski demikian tidak semua orang mendukung gagasan itu.
Sahm al-Layl, seorang warga Saudi menentang langkah tersebut.
“Karena kita tidak memiliki film lokal untuk dipamerkan di bioskop, langkah ini pasti akan mengarah pada penyebaran lebih lanjut budaya Barat,” ujarnya kepada Anadolu Agency.
Otoritas Saudi melarang bioskop di seluruh negeri selama pertengahan 1980-an.
Keputusan untuk membalikkan larangan tersebut dilakukan sebagai bagian dari serangkaian reformasi yang diperkenalkan oleh Raja Salman bin Abdulaziz, yang tahun lalu juga mengumumkan keputusannya untuk mengizinkan perempuan mengemudi – sebuah langkah yang akan mulai berlaku pada bulan Juni.*/Sirajuddin Muslim