Hidayatullah.com–Satu balita Rohingya telah meninggal dunia dalam longsor yang terjadi di awal musim hujan, yang menghantam sejumlah kamp pengungsi di Bangladesh pada 11 Juni 2018, lapor narasumber di lapangan.
Wilayah Gundum adalah salah satu daerah perbukitan luas yang menampung sejumlah besar pengungsi Rohingya di bukit-bukit kecil. Longsor yang terjadi baru-baru ini merenggut nyawa seorang balita dan melukai secara kritis ibunya.
Korban dilaporkan berasal dari blok D, bukit E3 wilayah Gundum. Balita tersebut diidentifikasi sebagai Farek Abdushukkur, 3 tahun dan melukai ibunya Sokina Khatu, 30 tahun, kutip laman Rohingya Vision TV.
Dalam insiden tragis itu, balita tersebut meninggal di tempat dan menurut warga setempat ibu dari balita tersebut segera dilarikan ke rumah sakit, karena luka-luka parah.
Baca: Biksu Radikal Buddha Sri Lanka Serang Penampungan Pengungsi Rohingya
Menurut laporan pemerintah setempat, sehari setelahnya pada 12 juni, longsor juga menghantam wilayah lain menyebabkan 12 orang meninggal dunia.

Dalam insiden terpisah lainnya di kamp pengungsi, seorang perempuan Rohingya yang sedang hamil menerima tindakan diskriminasi dan diperlakukan buruk di sebuah rumah sakit MSF pada 10 Juni 2018.
Awalnya pada jam 11.00 malam dia dirawat di rumah sakit Doctors Without Borders (MSF), karena pendarahan hebat. Ada pasien yang tidak diperbolehkan bertemu ibunya dan selain itu, dia dihina.
Baca: Pengungsi Rohingya Akan Dipulangkan, PBB Mengaku Cemas
Menurut mereka, diskriminasi ini dilakukan oleh beberapa perawat Hindu, yang bekerja di sana. Karena perlakuan buruk tersebut, dia harus meninggalkan rumah sakit itu pada jam 12.00 dan dibawa ke rumah sakit lain di distrik Cox’s Bazaar.
Musim hujan tahun ini menjadi cobaan bagi etnis Rohingya di kamp pengungsian Bangladesh. Seharusnya musim hujan menjadi berkah bagi mereka di tanah leluhur mereka di Arakan (Rakhine), di mana mereka biasanya menanam dan mengolah tanaman yang berbeda.
Musim harapan dan mimpi mereka telah berubah menjadi tragedi di kamp darurat di Bangladesh.*/Nashirul Haq AR