Hidayatullah.com– Mantan Menteri Keuangan Libanon Mohammad Safadi (75 tahun) pada Sabtu (16/11/2019) menarik pencalonannya sebagai perdana menteri.
Safadi beralasan akan sangat sulit membentuk kabinet “yang harmonis” dan yang didukung oleh semua partai, dikutip dari Antaranews, Ahad (17/11/2019).
Ia muncul sebagai kandidat pada Kamis (14/11/20119) setelah sumber-sumber politik dan media Libanon mengatakan bahjwa tiga partai utama sudah setuju mendukung Safadi sebagai perdana menteri.
Keputusan Safadi menarik diri dari pencalonan PM membuat upaya Libanon membentuk pemerintahan, yang diperlukan untuk segera menjalankan reformasi, kembali ke titik nol. Libanon tengah menghadapi gelombang protes, yang tidak pernah terjadi sebelumnya, hingga memaksa perdana menteri Saad al-Hariri mengundurkan diri pada bulan Oktober.
Dalam pernyataan, Safadi menyatakan, ia memutuskan menarik diri setelah melakukan konsultasi dengan partai-partai politik serta pertemuan hari Sabtu dengan Hariri.
Baca: Semakin Banyak Warga Turun Jalan untuk Demonstrasi di Libanon Masuki Bulan Kedua
Para pemrotes yang turun ke jalan pada Sabtu mengecam kemungkinan pencalonan Safadi. Pemrotes menilai, pencalonan Safadi berlawanan dengan desakan yang disuarakan di seantero negeri untuk mendepak elite politik. Pemrotes menganggap Safadi, pebisnis terkemuka yang memiliki hubungan dengan Arab Saudi itu, sebagai bagian dan satu paket dengan kalangan elite tersebut.
Safadi lewat pernyataannya menyampaikan terima kasih kepada Presiden Libanon Michel Aoun dan kepada Hariri karena telah mendukung pencalonannya. Safadi mengatakan bahwa ia berharap Hariri akan kembali menjabat sebagai PM untuk membentuk pemerintahan.
Pada proses untuk memilih PM, Presiden Aoun harus secara resmi membicarakannya dengan parlemen mengenai siapa yang mereka pilih, Aoun harus menerima siapa pun yang mendapat suara terbanyak di parlemen pada pemilihan PM.
PM Libanon harus berasal dari kalangan Muslim Sunni, menurut sistem pembagian kekuasaan sektarian.*