Hidayatullah.com—Pemerintah Inggris hari Ahad (3/5/2020) berusaha mengelak dari pertanyaan tentang angka kematian Covid-19 di negara itu yang sekarang menjadi terburuk setelah Italia, dengan mengatakan bahwa perlu waktu lebih lama sebelum keadaan yang sebenarnya terlihat jelas.
Angka kematian coronavirus di Inggris pada 2 Mei menyentuh angka 28.446, tidak selisih banyak dari Italia, di tengah tekanan terhadap pemerintah yang dianggap terlalu lamban dalam menangani wabah di awal penyebarannya.
Menteri Kabinet Michael Gove, yang memimpin konferensi pers harian berkaitan wabah Covid-19, berusaha mengelak dari pertanyaan apakah lebih banyak nyawa dapat diselamatkan apabila tes massal dilakukan sejak awal.
“Pemerintahan ini, seperti banyak pemerintahan lain, pasti membuat kesalahan. Namun, mustahil untuk menentukan dengan sangat tepat area mana yang harus mendapat perhatian paling besar sampai waktu tertentu di masa depan, ketika kita memiliki semua informasi yang dibutuhkan,” kata Gove seperti dilansir Reuters.
Sampai sekarang ini hanya Amerika Serikat yang memiliki jumlah kematian lebih banyak dibanding Italia dan Inggris.
Gove mengatakansebuah sistem baru akan menangkal kemunculan wabah baru dengan cara mengidentifikasi orang-orang yang terinfeksi dan memperingatkan orang-orang yang berdekatan atau kontak dengan mereka agar segera melakukan isolasi mandiri. Sistem ini akan diujicobakan mulai pekan ini di Isle of Wright, sebuah pulau di daerah selatan Inggris.
Menanggapi keluhan dari para pekerja kesehatan dan perawatan bahwa mereka tidak mendapatkan pasokan seragam APD, Gove berdalih para dokter di Jerman dan Prancis –dua negara di daratan Eropa yang paling maju– juga melakukan protes atas kondisi serupa.
“Itu tidak menghilangkan sedikit pun dari tanggung jawab kita untuk berbuat lebih baik lagi, tetapi maksudnya saya kira memahani bahwa ini merupakan tantangan global,” imbuhnya.*