Hidayatullah.com—Seorang penerbit terkemuka Libanon dan pengkritik vokal kelompok militan Syiah Hizbullah ditemukan tewas di dalam mobilnya hari Kamis pagi (4/2/2021).
Mayat Lokman Slim, 58, seorang aktivis politik dan peneliti Syiah, tergeletak di kursi penumpang dengan beberapa luka peluru di tubuhnya akibat tembakan jarak dekat, kata aparat keamanan dan petugas forensik, lapor Associated Press.
Dia menghilang selama beberapa jam sejak Rabu malam dan keluarganya menyampaikan pesan di media sosial untuk mengetahui di mana keberadaannya.
Bagi teman-temannya, Slim adalah seseorang yang tidak kenal takut mengkritik politisi-politisi kelas kakap dan pentolan-pentolan Hizbullah beserta sekutu-sekutunya seperti Iran dan Suriah.
Namun, pihak lain menuding Slim berusaha menyulut perselisihan, pertikaian,mengusik persatuan nasional dan dia bahkan dituding sebagai seorang Zionis karena mengecam keras Hizbullah.
Petugas keamanan menemukan mobil Slim di sebuah jalan di pedesaan dekat Addoussieh, sebuah desa di Provinsi Sidon bagian selatan Libanon. Dia pergi ke sana untuk mengunjungi teman-temannya dan sedang dalam perjalanan kembali ke Beirut pada Rabu malam.
Afif Khafajeh, seorang petugas koroner yang memeriksa jasad Slim, mengatakan ada 6 peluru di tubuhnya –tiga di bagian kepala, satu di bagian dada dan satu di bagian belakang tubuhnya. Darah berceceran di bagian kursi penumpang.
Seorang petugas keamanan yang berada di lokasi kejadian mengatakan kartu identitas, telepon dan senjata api milik Slim hilang. Ponselnya ditemukan kemudian, kata para petugas yang berbicara secara anomim mengikuti aturan yang berlaku.
Sebelum mayat itu ditemukan, istri dan saudara perempuan Slim mengatakan di media sosial bahwa teleponnya tidak dijawab selama berjam-jam. Adik perempuannya, Rasha al-Ameer, mengatakan Slim meninggalkan rumah temannya setelah pukul 8 malam. Keluarga mulai khawatir ketika dua jam kemudian dia tidak juga pulang ke rumah.
Tanpa menyebut nama, Al-Ameer mengisyaratkan Hizbullah ada di balik pembunuhan terhadap abangnya, seraya menambahkan bahwa masyarakat umum sudah tahu siapa yang menguasai daerah di mana lokasi abangnya ditemukan tidak bernyawa. Sebagaimana diketahui, Hizbullah selama ini mendominasi wilayah bagian selatan Libanon.
“Dia membawa beban negara ini di pundaknya,” kata Rasha al-Ameer kepada para reporter di rumah mereka setelah kabar pembunuhan Slim tersebar. Wanita itu mengaku tidak percaya dengan penyelidikan yang dilakukan oleh aparat setempat dan bahwa keluarganya akan melakukan penyelidikan forensik sendiri.
“Hingga saat ini dalam sejarah Libanon, semua penyelidikan berujung buntu,” kata al-Ameer.
Istri Slim, Monika Borgmann, yang berdiri di samping al-Ameer, menyeru dilakukannya penyelidikan internasional. “Pembunuhnya harus dihukum,” kata Borgmann.
Lokman Mohsin Slim merupakan seorang penerbit, aktivis politik dan sosial independen Libanon, yang tinggal dan bekerja di kawasan selatan Beirut, Beirut Raya, Libanon Selatan dan Lembah Bekaa.
Slim dilahirkan di bagian selatan daerah suburban Beirut, kawasan yang merupakan basis pendukung Hizbullah. Dia tinggal di sana sepanjang hidupnya. Dia justru pulang kembali ke rumahnya di sana dari luar negeri, ketika kebanyakan orang pergi semasa perang antara Hizbullah dan Israel tahun 2006, ketika daerah-daerah pinggiran dibom.
Dia mendirikan Umam, sebuah lembaga riset dan rumah produksi film berikut perpustakaannya yang mendokumentasikan sejarah Libanon dan Syiah di negeri itu. Keluarnya memiliki sebuah rumah penerbitan dan Slim kerap menggelar acara debat publik dan forum politik serta pertunjukan seni, termasuk pameran yang mendokumentasikan perang sipil di negaranya. Dia dan istrinya menggarap sebuah film dokumenter yang menceritakan kengerian di penjara Tadmor di Suriah yang terkenal brutal.
Pada tahun 2009 tanpa mengindahkan larangan Hizbullah dan otoritas Libanon, dia dan istrinya menggelar acara nonton bareng terbatas sebuah film kartun nominasi Oscar yang bercerita tentang invasi tentara Israel ke Libanon tahun 1982 dan kemunculan tokoh kala itu Presiden Bachir Gemayel.
Slim juga mendirikan Haya Bina, sebuah kelompok yang mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu legislatif 2005, menyeru perubahan sistem politik Libanon yang berbasis sektarian, dan mengajarkan bahasa Inggris kepada kaum wanita.
“Ini tragedi besar,” kata Makram Rabah, seorang teman karib Slim dan dosen sejarah. “Semua orang yang mengenal Lokman, mereka tahu siapa musuh-musuhnya.”
Rabah mengatakan Slim dan dirinya merupakan penentang keras Hizbullah yang mencengkramkan erat cakar kekuasaannya di Libanon dan menyeru agar negara itu berubah menjadi negara yang benar-benar berdaulat dan merengkuh keberagaman di Libanon.
Rabah mengatakan mereka berdua pernah diserang oleh sekelompok pemuda ketika menggelar acara debat publik di tengah maraknya protes anti-pemerintah pada tahun 2019. Slim kala itu menuding para suporter Hizbullah berada di balik serangan tersebut.
Beberapa hari sebelum kejadian itu, Slim juga menuding suporter Hizbullah atas serangan yang mengancam nyawanya di rumahnya, menggelar aksi dan menggantungkan poster “pengkhianat” di dinding rumahnya.
Alex Rowell, editor wbsite berbahasa Inggris al-Jumhuriya, mengatakan bahwa Slim senantiasa yakin dirinya aman dari serangan fisik. Pembunuhan terhadap dirinya akan membuat banyak orang tidak tidur nyenyak di Libanon, kata Rowell.
“Dalam kenangan senyum menyeringai Lokman yang tidak kenal takut, mereka (masyarakat) mungkin akan menemukan keberanian – dan di bayang-bayang para pengecut pembunuhnya mereka mungkin akan mengenal siapa musuh mereka,” ujar Rowell.
Dubes Amerika Serikat untuk Libanon Dorothy Shea mengatakan Slim berbicara secara terbuka dan tertutup tentang ancaman-ancaman terhadap dirinya tetapi dia tetap terus bekerja, mengupayakan keadilan, akuntabilitas dan penegakan hukum di Libanon. Dubes Shea menyebut pembunuhan tehadap Slim merupakan serangan terhadap bangsa Libanon sendiri dan dia mendesak agar segera dilakukan penyelidikan.
“Di negara yang sangat butuh untuk pulih dari berbagai krisis yang dihadapinya, pembunuhan politik jelas mengirimkan sinyal yang salah tentang Libanon,” ujarnya.
Koordinator Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Libanon Jan Kubis juga menyeru agar segera dilakukan investigasi.
“Investigasi ini tidak boleh mengikuti pola invesitgasi ledakan di pelabuhan Beirut yang selama 6 bulan masih belum tuntas dan tanpa ada akuntabilitas. Rakyat harus mengetahui kebenarannya,” kata Kubis lewat Twitter.
Wakil Direktur Regional Amnesty International Lynn Maalouf mengatakan Slim adalah korban dari pola impunitas yang sudah berakar lama di Libanon, di mana pembunuhan terhadap aktivis, jurnalis dan kaum intelektual didiamkan tanpa kejelasan dan pelakunya dibiarkan melenggang bebas. Maalouf mendesak agar dilakukan investigasi yang transparan atas pembunuhan Slim.
Menteri Dalam Negeri Mohammad Fahmi, berbicara di layar televisi lokal MTV menyebut peristiwa itu sebagai kejahatan yang mengerikan. Pejabat sementara PM Libanon, Hassan Diab menyebutnya sebagai kejahatan keji dan berjanji akan melakukan investigasi cepat terhadap kasus itu.*