Hidayatullah.com—Menteri Luar Negeri Afghanistan Mawlavi Amir Khan Muttaqi mengatakan pemerintahan Imarah Islam (IEA) bertekad mengubah Afghanistan yang dikenal negara perang menjadi pusat perdamaian dunia. Pernyataan ini disampaikan Mawlavi saat menghadiri konferensi internasional tentang Afghanistan di Tashkent, ibu kota Uzbekistan.
“Setelah beberapa dekade ketidakstabilan di Afghanistan, Imarah Islam bertekad untuk mengubah Afghanistan menjadi pusat perdamaian, stabilitas, dan kerja sama ekonomi,” katanya. “Imarah Islam mencari stabilitas untuk Afghanistan dan dunia,” katanya hari Selasa, (27/7/2022) dikutip ILKHA.
Mawlavi mengatakan, stabilitas di Afghanistan tidak hanya menjamin stabilitas di kawasan tetapi merupakan kunci kemakmuran dan pembangunan ekonomi di kawasan itu, kata Muttaqi pada konferensi tersebut.
Menggarisbawahi bahwa salah satu tujuan utama Imarah Islam (IEA), istilah pemerintah baru Taliban, dalam kebijakan luar negeri adalah sentralisasi ekonomi. “Sudah waktunya bagi Afghanistan untuk menjadi jembatan Asia. Keamanan yang stabil, kemauan politik yang kuat, dan struktur administrasi Imarah Islam yang transparan telah membuka jalan bagi konektivitas regional. Afghanistan adalah rute perdagangan terdekat dan ekonomis antara Asia Tengah dan Selatan,” ujarnya.
Dikutip Kabul Times, Uzbekistan menjadi tuan rumah konferensi internasional dua hari yang dibuka hari Senin, dengan partisipasi negara-negara regional dan organisasi internasional. Acara membahas situasi terkini di Afghanistan, khususnya menyangkut masalah keamanan, perdamaian dan pembangunan ekonomi kawasan.
Bagaimanapun, menurut Kabul Times, konferensi ini membantu memperluas hubungan politik dan ekonomi antara Imarah Islam dan negara-negara regional dan dunia. Meski Tashkent dan beberapa negara lain yang menjalin kerjasama ekonomi belum mengakui Imarah Islam, tetapi telah mendukung sistem Islam menuju pemerintahan yang baik, termasuk memerangi korupsi dan menghilangkan kelompok teroris dan mencegah kelompok militan.
“Imarah Islam sekali lagi meyakinkan warga negara, termasuk perempuan dan anak perempuan bahwa semua hak dan nilai mereka dijamin dan upaya sedang dilakukan untuk berbuat lebih banyak untuk mereka. Jadi, mereka tidak boleh disesatkan oleh kalangan pendendam bahwa Imarah Islam mungkin telah meremehkan mereka atau mengabaikan hak-hak mereka. Semua warga Afghanistan, tanpa diskriminasi, akan melihat hak-hak mereka yang sebenarnya, dijamin dibawah sistem Islam,” tulis media itu.
Konferensi telah diselenggarakan dengan partisipasi delegasi dari lebih dari 20 negara dan organisasi internasional.*