Hidayatullah.com—Islamophobia di Amerika Serikat benar-benar akut, seorang remaja Muslim ditangkap di sekolah dan digelandang dengan tangan diborgol oleh polisi hanya karena dia membuat sebuah jam dinding!
Foto Ahmed Mohamed, 14, mengenakan t-shirt bergambar logo NASA sedang berdiri dengan tangan terborgol di belakang sementara seorang polisi mengawasiny,a beredar luas di internet. Foto itu di-retweet ribuan kali sehingga #IStandWithAhmed manjadi top trending hashtag di Twitter.
Mohamed menceritakan kepada The Dallas Morning News bahwa dia hanya berusaha membuat guru-gurunya terkesan, ketika membawa jam dinding buatannya ke Sekolah Menengah Atas MacArthur hari Senin (14/9/2015), lansir AFP hari Rabu (16/9/2015).
“Hobi saya menemukan sesuatu,” kata Mohamed dalam sebuah video yang diunggah di website koran tersebut, yang direkam di dalam kamar remaja itu yang dipenuhi pernak-pernik elektronik.
“Saya membuat sebuah jam dinding. Sangat mudah sekali. Saya ingin menunjukkan sesuat yang kecil dulu …tetapi mereka menanggapinya salah, jadi saya ditangkap karena sebuah bom palsu,” kata Mohamed.
Remaja itu, yang menyukai klub robotik ketika di SMP dan berharap dapat menemukan hal serupa di SMA, mengatakan dia tidak mendapatkan tanggapan seperti yang diharapkannya ketika menunjukkan jam dinding itu kepada guru eletronika.
“Dia hanya bersikap seperti, ‘O itu bagus sekali’,” cerita Mohamed. Guru itu, kata Mohamed, kemudian berkata, “’Saya sarankan kamu tidak menunjukkannya kepada guru-guru yang lain’.”
Namun, alarm berbunyi saat pelajaran Bahasa Inggris. Guru mengatakan kepada Mohamed bahwa jam dinding itu kelihatan seperti bom lalu dia menyitanya.
Sekolah memanggil polisi dan Mohamed pun digelandang dengan tangan terborgol, dengan tuduhan remaja Muslim itu berusaha menakut-nakuti orang dengan alat buatannya tersebut.
Remaja yang tinggal di Irving, pinggiran kota Dallas itu, mengatakan polisi tidak memperbolehkannya untuk menelepon kedua orangtuanya saat interogasi yang berlangsung sangat lama. Setelah dibebaskan, Mohamed dilarang datang ke sekolah selama 3 hari.
Hari Rabu (14/9/2015) pihak kepolisian mengatakan bahwa Mohamed tidak memiliki maksud-maksud berbahaya.
“Kami tidak akan menindaklanjutinya lebih jauh,” kata Kepala Kepolisian Irving Larry Bond kepada para wartawan seperti dikutip AFP.
Bond bersikukuh mengatakan bahwa latar belakang etnis Mohamed tidak ada hubungannya dengan sikap polisi dalam menangani masalah itu.
“Reaksi kami bagaimana pun akan sama. Itu adalah sebuah alat yang mencurigakan,” kata Bond berdalih.
Kepala Kepolisian Irving itu juga bersikukuh mengatakan bahwa petugas memiliki hak untuk memborgol Mohamed dan membawanya ke rumah tahanan anak guna ditanyai.
Semua tahanan diborgol untuk keamanan mereka, kata Bond, seraya menambahkan, ada saja tahanan yang melarikan diri dari mobil polisi.
Seorang jurubicara sekolah distrik juga membela sikap dan tindakan yang diambil SMA MacArthur, dengan mengatakan kepada wartawan bahwa jika orang-orang melihat sepeti apa jam dinding rakitan itu, maka mereka akan memahami keadaannya. “Kami melakukan semuanya dengan penuh kehati-hatian,” ujarnya.
Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi Muslim terkemuka di Amerika Serikat, mencurigai ada intrik politik di balik peristiwa itu terhadap warga Muslim khususnya di daerah tersebut.
Sebelumnya, Walikota Irving Beth Van Duyne pernah menuding bahwa warga Muslim berencana untuk menerapkan hukum syariah di Amerika Serikat.*