Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Aspri Soeharto di Balik Tradisi Kirab 1 Suro

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 November 2012 05:52
Bagikan
Awalnya, fungsi kerbau hanyalah sebagai pelengkap parade
Bagikan

Hidayatullah.com–Prosesi budaya Kirab 1 Suro dengan maskot kerbau ‘’Kyai Slamet’’ sebagai cucuk lampah (vorijder) selama ini diopinikan sebagai tradisi Kraton Mataram yang sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Padahal, tradisi tersebut baru muncul pada 1974.

Demikian diungkapkan peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Susiyanto, dalam diskusi yang diselenggarakan Pusat Studi Pemikiran Islam (PSPI) di Gedung Umat Islam Solo, belum lama ini.

Acara yang turut disponsori LAZIS Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia ini dihadiri sekitar 50 aktivis dari Jakarta, Solo, Banjarnegara, dan Jogja.

Dalam diskusi itu, Susiyanto berusaha mengkritisi orisinilitas tradisi Kejawen. Menurut hasil penggeledahan sejarah yang dilakukannya, tradisi Kebatinan atau Kejawen dipengaruhi oleh ajaran Theosofie.

“Tokoh Theosofie datang memperkenalkan diri kepada para bangsawan kraton dengan wajah ‘tasawuf Islam’. Namun secara perlahan mereka melakukan deviasi pemahaman sampai akhirnya menampakkan jejak Kabbalah dan kebijakan ‘Hindhustan’. Kedunya sama sekali berbeda dengan Islam, bahkan menyimpan dendam terselubung terhadap Islam,’’ ujarnya Susiyanto.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Tehosofie menyusup ke dalam kalangan Kebatinan dan Kejawen, kemudian melakukan distorsi makna atas kedua ajaran tradisional Jawa. Sehingga, Kebatinan dan Kejawen  diposisikan memusuhi Islam.

“Islam selalu dicitrakan sebagai “Arab” dan “agama asing” bagi penduduk Nusantara,’’ tandas Susiyanto.

Dengan penyimpangan sejarah yang akut, umat Islam di Indonesia sering tidak lagi mampu membedakan mana cerita rekaan, mitos, legenda dan mana yang merupakan fakta sejarah. Misalnya prosesi adat Kirab 1  Suro. 

Susiyanto mengemukakan, tradisi ini sejatinya ‘’kreasi’’ Jendral Soejono Hoemardhani, ‘’guru spiritual” Presiden Soeharto. Menghadapi gejolak politik yang kemudian meletuskan Peristiwa Malari 1974, asisten pribadi (aspri) Soeharto itu sowan ke Kraton Kasunanan Surakarta. Kepada Pakubuwono XII, ia meminta ‘’laku ritual’’ untuk meredam gejolak politik di Ibukota agar tak meluas ke Indonesia.

Maka, dipentaskanlah Kirab Pusaka pada 1 Suro (Muharram), dengan pusaka utama seekor kerbau bule yang dinamai “Kyai Slamet”.

Awalnya, fungsi kerbau hanyalah sebagai pelengkap parade, sebagaimana kendaraan hias dalam Karnaval 17 Agustusan. Namun, lama-lama kerbau bule kraton Surakarta yang memang merupakan hewan “klangenan” para raja Surakarta sejak Pakubuwono XII, menjadi lebih terkenal dibandingkan pusaka (gaman=senjata) yang dikirab. Bahkan kemudian label “Slamet’’ yang sebenarnya ‘’milik’’ pusaka kraton, menjadi ‘’hak paten’’ si kerbau bule, ujar Susiyanto.

Sementara itu Ketua PSPI, Arief Wibowo memaparkan penulisan kesejarahan. Mengutip peneliti Dr. Syamsuddin Arif, menurut Arief Wibowo setidaknya ada tiga tipe penulisan sejarah.

Pertama, History Rememberted atau biasa disebut popular history, yang terangkum dalam aneka mitos, legenda dimana antara dongeng dan kenyataan sudah bercampur aduk menjadi satu.

Kedua, History Recovered, yang merupakan academic history, yang mengandung sebuah upaya rekonstruksi atas jalannya sejarah, dan yang ketiga adalah History invented, official history yang bertipe “from fiction to fact”, biasanya dibuat untuk proses pelanggengan sebuah kekuasaan.

Sebagaimana diketahui, meski belum setahun PSPI didirikan, lembaga kajian ini sangat diminati kalangan muda Muslim di Solo dan sekitarnya.

Minggu ini rencananya PSPI akan mengadakan acara “Bedah Film Soegija” untuk menguak distorsi sejarah.

“Kami ingin mendudukkan sejarah sosok dan peran Soegijapranata secara proporsional saja,’’ kata Arief, alumnus Fakultas Pertanian UNS (S-1) dan Studi Pemikiran Islam UNS (S-2).
Akan bertindak sebagai narasumber, Tiar Anwar Bachtiar peneliti sejarah yang juga Ketua Pemuda PERSIS. Tiar saat ini sedang menempuh studi S3 Bidang Sejarah di Universitas Indonesia.

“Bedah Film Soegija” terbuka untuk umum, berlangsung pada Sabtu, 24 November 2012, pukul 19.30 WIB di Masjid Istiqlal, Sumber, Solo.*/Nurbowo, Solo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah DKI akan Bangun Masjid Raya
Tulisan selanjutnya Sekjen OKI Menangis di Pengungsian Rohingya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?