Hidayatullah.com–Bagi orang beriman, cara paling efektif untuk mendekat kepada Sang Khaliq melalui ibadah shalat. Dengannya, jika shalat itu baik, Allah menjamin bisa menghindarkan orang tersebut dari perbuatan keji dan munkar.
Untaian mutiara di atas terpapar panjang lebar dalam taushiyah Abdurrahman Muhammad, Pimpinan Umum Hidayatullah di hadapan ratusan warga dan santri Hidayatullah Kampus Gunung Tembak, Balikpapan, Subuh kemarin.
Sebagai ibadah utama, menurut Abdurrahman, sepantasnya tidak ada pekerjaan yang lebih banyak menyedot waktu dan perhatian orang beriman kecuali urusan shalat.
Karena shalat bagian dari dua patokan dalam menegakkan agama di tengah masyarakat. Pertama, setiap waktu senantiasa diupayakan bernilai sebagai ibadah. Kedua, mewujudkan seluruh aktifitas bertumpu pada masjid sebagai poros kegiatan.
“Tengoklah kehidupan Nabi dan para sahabat. Seluruh pekerjaan mereka senantiasa diatur oleh jadwal shalat sebagaimana para sahabat menjadikan masjid sebagai sentral kegiatan mereka sehari-hari,” ujar pria kelahiran kota Pare-Pare ini.
Menurutnya, jika seorang Muslim benar-benar komitmen dengan agama, maka segalanya sudah terang. Jalan dakwah ini sudah dilakoni oleh Nabi-nabi Allah terdahulu. Terlebih secara khusus Allah menjadikan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad sebagai teladan yang patut ditiru.
“Segalanya jelas dan gamblang. Asal umat Islam konsisten mencontoh uswah hasanah yang dilakoni para orang-orang shaleh terdahulu dalam menegakkan kejayaan agama ini,” ujarnya lebih jauh.
“Makmurkanlah masjid dengan shalat jamaah. Tegakkanlah shalat dengan benar. Niscaya kebaikan yang lain menyusul dengan sendirinya,” imbuhnya.
Dalam taushiyah yang digelar usai shalat Subuh berjamaah di masjid ar-Riyadh ini, ia mengingatkan peran vital masjid dalam membangun peradaban Islam.
Menurutnya, kisah kehidupan Nabi Ibrahim menyimpan banyak pelajaran berharga. Basis dakwah tauhid yang digencarkan oleh Ibrahim tak lain kembali kepada kekuatan Ka’bah sebagai Baitullah (rumah Allah). Ia bahkan disebut-sebut sebagai masjid pertama yang dibangun oleh manusia di muka bumi ini.
Bagi Hidayatullah sendiri, sejak awal kali didirikan, program shalat jamaah di masjid ini menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi.
Seluruh warga dan santri diwajibkan shalat berjamaah lima kali sehari semalam di masjid. Ibarat suatu barang, shalat berjamaah harus jadi produk unggulan Hidayatullah.
“Sampai ada tamu yang berkomentar, kayaknya perkerjaan orang pesantren itu cuma di masjid terus shalat,” ucapnya tersenyum.
“Tidak masalah itu. Sebab memang kita datang ke sini li yuqimu ash-shalah, ingin memperbaiki kualitas dan kuantitas shalat kita,” imbuhnya sambil mengutip ayat ke-37 dari surah Ibrahim.
Menurutnya, visi membangun peradaban Islam yang diusung oleh Hidayatullah adalah hal sangat besar. Ia membutuhkan semangat dakwah dan mujahadah yang luar biasa. Di sinilah peran kekuatan spiritual tersebut.
“Piagam Gunung Tembak itu adalah pikulan jihad yang sangat berat. Harus ada haqqa jihadihi, haqqa tuqatihi, dan haqqa tilawatihi dalam kehidupan seorang Muslim,” terang ustadz yang pernah mengemban amanah selaku Pimpinan Cabang Bontang ini.
Bersabar dalam Dakwah
Terakhir Abdurrahman menguatkan jamaah untuk senantiasa bersabar meniti jalan perjuangan ini. Sebab inilah jalan dakwah. Jalan yang pernah dilewati oleh para anbiya dan orang-orang shaleh terdahulu. Sesungguhnya ia bukan jalan yang disenangi oleh banyak orang. Di sana ada pengorbanan dan semangat jihad yang tidak boleh pudar. Jalan yang kelak bisa mengantarkan hingga ke telaga Nabi bertemu Allah subhanahu Wata’ala. Tentusaja, bagi mereka yang setia menapaki titian dakwah dan perjuangan tersebut, ujarnya.*/Masykur Abu Jaulah