Hidayatullah.com– Gempa bumi dengan kekuatan 6.4 SR melanda Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahad (29/07/2018) pagi. Gempa mengguncang Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, gempa terjadi pada pukul 06.47 WITA di 28 km Barat Laut Lombok Timur NTB, 8.26 LS 116.55 BT, pada kedalaman 10 km (Tidak Berpotensi Tsunami).
Dalam laporan sementara BPBD NTB yang diterima hidayatullah.com pada Ahad malam pukul 21.00 WIB, dilaporkan, gempa tersebut menelan korban jiwa sedikitnya 15 orang meninggal dunia, yang mengalami luka berat 157 jiwa, dan luka ringan 41 orang.
Gempa melanda Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, dan Kota Mataram.
Gempa juga berdampak pada longsornya sebagian kawasan Gunung Rinjani. Bahkan salah seorang pendaki, bernama Isma, 30 tahun, warga negara asing (WNA) asal Ampang, Malaysia, meninggal dunia.
“Jumlah pendaki gunung Rinjani yang saat ini masih terjebak akibat longsor pengaruh dari gempa sebanyak 836 orang dan diperkirakan sepertiganya dari jumlah tersebut berada di danau Segara Anak, hingga saat ini sedang dipersiapkan untuk melakukan evakuasi di lokasi,” jelas Kepala BPBD NTB Mohammad Rum dalam Laporan Gempa Lombok Timur Tgl 29 Juli 2018 Pukul 17.46 WITA yang dirilis dan disampaikan kepada Gubernur NTB tersebut.
Disebutkan, lebih dari 5.635 kepala keluarga (KK) menjadi korban gempa bumi tersebut sebagai laporan sementara. Seribu lebih bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan berbeda-beda, termasuk sejumlah rumah ibadah.
Hingga saat ini terus dilakukan proses pencarian korban dan pendataan kerusakan, serta langkah-langkah penanganan pascabencana lainnya.
Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi menyampaikan, Pemprov NTB menetapkan masa tanggap darurat selama tiga hari untuk penanganan pascabencana gempa bumi tersebut.
“Kita kini fokus penanganan penyelamatan dahulu, polisi, badan SAR, semua aparat kita kerahkan. Untuk tiga hari ini kita masa tanggap darurat,” ujarnya lansir Antara.*